Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 38 - Surat An-Nisā' (Perempuan)
النّساۤء
Ayat 38 / 176 •  Surat 4 / 114 •  Halaman 85 •  Quarter Hizb 9.25 •  Juz 5 •  Manzil 1 • Madaniyah

وَالَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ وَمَنْ يَّكُنِ الشَّيْطٰنُ لَهٗ قَرِيْنًا فَسَاۤءَ قَرِيْنًا

Wal-lażīna yunfiqūna amwālahum ri'ā'an-nasi wa lā yu'minūna billāhi wa lā bil-yaumil ākhir(i), wa may yakunisy-syaiṭānu lahū qarīnan fasā'a qarīnā(n).

(Allah juga tidak menyukai) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada orang (lain) dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Akhir. Siapa yang menjadikan setan sebagai temannya, (ketahuilah bahwa) dia adalah seburuk-buruk teman.

Makna Surat An-Nisa' Ayat 38
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan termasuk ke dalam orang-orag yang sombong dan membanggakan diri itu adalah orang-orang yang menginfakkan hartanya karena ria kepada orang lain agar dilihat dan dipuji, dan juga orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak beriman kepada hari Kemudian. Barang siapa menjadikan setan sebagai temannya, karena sombong dan membanggakan diri itu adalah sifat setan, maka ketahuilah bahwa dia, setan itu, adalah teman yang sangat jahat bagi manusia.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini dijelaskan sifat dan perbuatan orang yang sombong dan takabur, yaitu mereka menafkahkan hartanya karena ria. Mereka mau memberikan pertolongan kepada seseorang dengan hartanya, karena ingin dilihat orang, dibesarkan dan dipuji orang. Bukan karena ingin membayar kewajiban terhadap sesama manusia.

Pada hakikatnya mereka sama saja dengan orang yang bakhil cuma bedanya orang yang bakhil tidak mau sama sekali mengeluarkan hartanya untuk berbuat kebaikan kepada sesama manusia, malahan selalu loba dan tamak mengumpulkan harta benda dan kadang-kadang tidak peduli dari mana diperolehnya harta itu, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram. Sedangkan orang ria, kadang-kadang mau berbuat kebaikan terhadap sesama manusia dengan mengeluarkan hartanya, asal dia mendapat pujian dan sanjungan. Bahkan untuk yang tidak baik sekalipun dia mau mengeluarkan hartanya, asal dia dapat pujian dari manusia. Jadi orang ria itu mengeluarkan hartanya bukan karena bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya yang banyak dan bukan pula karena kesadarannya dalam membayarkan kewajibannya sesama manusia, tetapi hanya semata-mata karena hendak dipuji saja.

Perbuatan seperti itu adalah perbuatan orang yang tidak percaya kepada Allah dan tidak percaya kepada hari akhirat. Orang yang percaya kepada Allah, mau mengeluarkan hartanya dengan ikhlas, tidak untuk mencari pujian, tetapi hanya mengharapkan balasan dari Allah nanti. Yang mendorong orang itu berbuat demikian, tidak lain hanya karena menurut ajaran setan saja, tidak mau mengikuti petunjuk Allah. Ajaran setan selalu membawa manusia kepada perbuatan yang keji dan terlarang. Maka dengan sendirinya manusia yang seperti itu telah menjadi teman dan pengikut setan, sedang setan itu adalah teman yang jahat. Maka akan celakalah akhirnya manusia bila telah berteman dengan setan. Dia akan terjauh dari jalan yang benar yang akan membawa kepada kebahagiaan di dunia dan selamat di akhirat nanti.

Teman mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Berapa banyak orang yang baik bisa rusak karena berteman dengan orang yang jahat, dan berapa banyak pula orang yang jadi baik karena berteman dengan orang yang baik. Berhati-hatilah mencari teman, jangan berteman dengan sembarang orang.

Seperti halnya pada masa Rasulullah saw orang Ansar disuruh berhati-hati berteman dengan orang Yahudi, karena ternyata orang-orang Yahudi itu selalu mempengaruhi orang mukmin agar jangan mau mengeluarkan harta untuk membantu seseorang, dengan alasan nanti bisa jatuh miskin, atau bisa mengakibatkan sengsara di hari depan.

Isi Kandungan Kosakata

1. żī al-Qurbā ذِى الْقُرْبَى (an-Nisā’/4: 36)

Kata żī berarti mempunyai. Sedangkan kata al-qurbā berarti keluarga, kaum kerabat, atau karib. Kata qurbā atau qurbānan sebagai asal kata dari fi’il qaruba-yaqrubu, berarti menghampiri atau mendekati (dalam nasab). Jika kata żī dan al-qurbā digabungkan (dijadikan muḍāf dan muḍāfun ilaihi), berarti keluarga atau kerabat.

Kata żī al-qurbā disebutkan enam kali dalam Al-Qur’an, antara lain dalam an-Nisā’/4:36. Kata żā al-qurbā disebutkan lima kali, dan kata żawī al-qurbā disebutkan satu kali.

2. Yabkhalūn (Al-Bakhīl) يَبْخَلُوْنَ (an-Nisā’/4: 37)

Kata ini berasal dari kata al-bukhl (bakhala) yaitu tidak mau mengeluarkan atau mendermakan apa yang ada pada seseorang (Al-Qurṭubi) atau biasa disebut dengan kikir. Apa yang ada pada seseorang bisa berupa materi seperti harta atau bukan materi seperti ilmu, namun sifat bukhl atau kikir ini lebih banyak terkait dengan persoalan harta. Sifat bakhil yang dicerca oleh Islam adalah jika seseorang menolak memberikan kewajiban yang semestinya dia keluarkan kepada orang lain. Seperti enggan membayar zakat.

Kata lain yang dipakai dalam Al-Qur’an adalah asy-syuh, namun asy-syuh keadaannya lebih berat lagi dari al-bukhl, sebab asy-syuh adalah sifat bakhil yang disertai dengan keinginan yang sangat untuk memiliki apa yang tidak ada pada dirinya. Atau sifat kikir yang disertai dengan keinginan yang sangat akan apa yang ada padanya. Sifat ini adalah sifat yang buruk yang bila terdapat pada seseorang akan menjadikan orang lain tidak simpati kepadanya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto