Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 164 - Surat An-Nisā' (Perempuan)
النّساۤء
Ayat 164 / 176 •  Surat 4 / 114 •  Halaman 104 •  Quarter Hizb 11.25 •  Juz 6 •  Manzil 1 • Madaniyah

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنٰهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۗوَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ

Wa rusulan qad qaṣaṣnāhum ‘alaika wa rusulal lam naqṣuṣhum ‘alaik(a), wa kallamallāhu mūsā taklīmā(n).

Ada beberapa rasul yang telah Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu sebelumnya dan ada (pula) beberapa rasul (lain) yang tidak Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu. Allah telah benar-benar berbicara kepada Musa (secara langsung).187)

Makna Surat An-Nisa' Ayat 164
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan di antara para rasul itu ada beberapa rasul yang sungguh telah Kami kisahkan mereka kepadamu sebelumnya, yakni sebelum turun ayat ini, dan ada beberapa rasul yang lain yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu. Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung atau secara bertahap sesuai kemaslahatan dan kebutuhan umatnya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ada beberapa rasul yang telah dikisahkan terdahulu oleh Allah kepada Muhammad saw, dan ada pula beberapa rasul yang sengaja tidak dikisahkan kepadanya, karena umat-umatnya kurang dikenal. Beberapa rasul telah dikisahkan dalam Al-Qur’an seperti firman Allah:

وَوَهَبْنَ ا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوْحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهٖ دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ وَاَيُّوْبَ وَيُوْسُفَ وَمُوْسٰى وَهٰرُوْنَ ۗوَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْن َۙ ٨٤ وَزَكَرِيَّا وَيَحْيٰى وَعِيْسٰى وَاِلْيَاسَۗ كُلٌّ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَۙ ٨٥ وَاِسْمٰعِيْلَ وَالْيَسَعَ وَيُوْنُسَ وَلُوْطًاۗ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ ٨٦

(84) Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya. Kepada masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan sebelum itu Kami telah memberi petunjuk kepada Nuh, dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, (85) dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh, (86) Dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Lut. Masing-masing Kami lebihkan (derajatnya) di atas umat lain (pada masanya), (al-An‘ām/6: 84, 85 dan 86).

Kisah para nabi itu sebagian besar terdapat pada Surah Hūd/11 dan Surah asy-Syu’arā’/26. Rasul-rasul yang tidak dikisahkan itu kurang dikenal umatnya oleh orang Arab dan tidak dikenal pula oleh Ahli Kitab yang berdampingan masa hidupnya dengan mereka. Hikmah dari mengisahkan nabi-nabi itu ialah untuk mengambil iktibar dan pelajaran, untuk menambah ketabahan hati ketika menghadapi tantangan-tantangan dan permusuhan dan untuk memperkuat kenabian Muhammad, sebagaimana firman Allah:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْ نَ ١٢٠

Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat dan peringatan bagi orang yang beriman. (Hūd/11: 120).

Orang Yahudi beranggapan, bahwa yang diberi wahyu dan pangkat kenabian itu hanya dari golongan mereka saja, padahal beberapa ayat menunjukkan bahwa Allah telah mengutus beberapa rasul untuk setiap umat sebagai realisasi dari rahmat Allah yang tersebar luas ke seluruh dunia. Firman Allah:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

Da n sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ”Sembahlah Allah, dan jauhilah Tagut” … (an-Naḥl/16: 36).

وَاِنْ مِّنْ اُمَّةٍ اِلَّا خَلَا فِيْهَا نَذِيْرٌ ٢٤

…Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan. (Fāṭir/35: 24).

Allah telah berbicara langsung kepada Musa meskipun Allah tidak menampakkan wujud-Nya kepada Nabi Musa ketika menurunkan wahyu kepadanya sebagaimana dijelaskan Allah di dalam firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ

Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. … (asy-Syūrā/42: 51).

Pembicaraan Allah kepada Musa itu termasuk pembicaraan di belakang tabir, karena beliau hanya mendengar kalam Ilahi dan tidak dapat melihat-Nya.

Isi Kandungan Kosakata

Kallama كَلَّمَ (an-Nisā/4:164)

Kata dasarnya kalama (كلم) yaitu “memberikan bekas kepada sesuatu yang bisa diketahui baik lewat pendengaran, perkataan atau lewat penglihatan”. Kallama artinya “berbicara”, “berkata”, “bercakap-cakap”. Pada ayat 164 ini diterangkan bahwa Allah berbicara dengan Musa secara langsung, tidak melalui malaikat Jibril. Pembicaraan Allah secara langsung dengan Musa ini merupakan mukjizat yang hanya diberikan kepada Nabi Musa dalam rangka menurunkan wahyu, karena dalam Surah asy-Syūrā/42:51 disebutkan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang bisa berbicara langsung dengan Allah kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir. Dalam pembicaraan ini Musa juga hanya mendengar suara kalam Allah, dan tidak dapat melihat-Nya. Musa adalah satu-satunya rasul yang berkesempatan berbicara dengan Allah secara langsung sehingga Musa disebut Kalimullah. Pada surah al-A‘rāf/7:143 diterangkan ketika Allah berbicara langsung dengan Musa kemudian Nabi Musa a.s. memohon untuk dapat melihat Allah, maka Allah menerangkan bahwa Musa tidak mungkin dapat melihat Allah. Waktu itu Musa hanya disuruh untuk melihat gunung, jika gunung itu tetap di tempatnya barulah ia dapat melihat Allah. Tetapi ketika Allah menampakkan diri, gunung itu hancur dan Musa terpelanting pingsan.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto