Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 40 - Surat An-Nūr (Cahaya)
النّور
Ayat 40 / 64 •  Surat 24 / 114 •  Halaman 355 •  Quarter Hizb 36.25 •  Juz 18 •  Manzil 4 • Madaniyah

اَوْ كَظُلُمٰتٍ فِيْ بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَّغْشٰىهُ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ سَحَابٌۗ ظُلُمٰتٌۢ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍۗ اِذَآ اَخْرَجَ يَدَهٗ لَمْ يَكَدْ يَرٰىهَاۗ وَمَنْ لَّمْ يَجْعَلِ اللّٰهُ لَهٗ نُوْرًا فَمَا لَهٗ مِنْ نُّوْرٍ ࣖ

Au kaẓulumātin fī baḥril lujjiyyiy yagsyāhu maujum min fauqihī maujum min fauqihī saḥāb(un), ẓulumātum ba‘ḍuhā fauqa ba‘ḍ(in), iżā akhraja yadahū lam yakad yarāhā, wa mal lam yaj‘alillāhu lahū nūran famā lahū min nūr(in).

Atau, (amal perbuatan orang-orang yang kufur itu) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang yang di atasnya ada awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya, ia benar-benar tidak dapat melihatnya. Siapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.

Makna Surat An-Nur Ayat 40
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Allah menyajikan perumpamaan lain terkait betapa sia-sianya amal orang kafir itu. Atau keadaan orang-orang kafir itu seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang tidak dapat dijangkau kedalamannya, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya yaitu di atas gelom-bang yang bertumpuk dan bergulung-gulung itu ada lagi awan gelap yang menutupi sinar matahari. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis; perpaduan antara laut yang begitu dalam, ombak yang bergulung-gulung, dan awan yang kelam. Begitu pekat kegelapan itu hingga apabila dia mengeluarkan tangannya untuk didekatkannya ke mata, hampir saja dia tidak dapat melihatnya. Barang siapa tidak diberi cahaya petunjuk oleh Allah maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini Allah memberi perumpamaan bagi amal orang-orang kafir dengan kegelapan yang hitam kelam yang berlapis-lapis sebagaimana kelamnya suasana di laut yang dalam di malam hari di mana ombak sambung-menyambung dengan hebatnya menambah kegelapan dalam laut itu, ditambah lagi dengan awan tebal yang hitam menutupi langit sehingga tidak ada sekelumit cahaya pun yang nampak. Semua bintang yang kecil maupun yang besar tidak dapat menampakkan dirinya ke permukaan laut itu karena dihalangi oleh awan tebal dan hitam itu. Tidak ada satu pun yang dapat dilihat ketika itu, sehingga apabila seseorang mengeluarkan tangannya di hadapan mukanya tangan itu tidak nampak sama sekali meskipun sudah dekat benar ke matanya. Demikianlah hitam kelamnya amal-amal orang kafir itu. Jangankan amal itu akan dapat menolong dalam menghadapi bahaya dan kesulitan di akhirat yang amat dahsyat itu, melihat amal itu saja pun mustahil, karena semua amal yang dikerjakannya tidak diterima dan tidak diridai oleh Allah karena akidahnya yang sesat dan ucapan-ucapan yang mengandung kesombongan atau tindakan mereka yang zalim.

Al-Ḥasan al-Baṣri berkata tentang hal ini, “Orang kafir berada dalam tiga kegelapan, yaitu kegelapan akidah, kegelapan ucapan dan kegelapan amal perbuatan.” Sedangkan Ibnu ‘Abbas menyatakan, “Kegelapan hati, penglihatan dan pendengarannya.”

Demikian lah keadaan orang-orang kafir, mereka berada dalam kegelapan yang pekat sekali, karena mereka sedikit pun tidak mendapat pancaran Nur Ilahi. Allah tidak akan memberikan kepada mereka pancaran Nur-Nya, karena itulah mereka selalu berada dalam kegelapan. Tidak ada pedoman yang dapat dijadikan pedoman karena memang mereka sudah sesat sangat jauh sekali tersesat dan tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk kembali ke jalan yang benar sebagaimana firman-Nya:

وَيُضِل ُ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ ࣖ

Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrāhīm/14: 27)

Isi Kandungan Kosakata

1. Sarābin Biqī’ah سَرَابٍ بِقِيْعَةِ (an-Nūr/24: 39)

Sarāb berasal dari kata saraba-yasrabu berarti jalan dengan cara menurun. As-sarāb berarti tempat yang landai. Dalam al-Kahf/18:61 “fattakhaẓa sabīlahū fi al-baḥri sarābā” (lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu). Saraba juga diartikan dengan penggambaran pelaku terhadap pekerjaan yang ia lakukan. Saraba ad-dam’u berarti air matanya mengalir. Saraba juga berarti sesuatu yang tidak ada hakikatnya alias fatamorgana. Sedangkan qī’un berasal dari kata qā’a yaitu tanah yang datar. Bentuk jamaknya adalah qī’ān. Jadi sarab biqī’ah adalah fatamorgana di tanah yang datar. Maksud ayat ini adalah Allah membuat perumpamaan untuk amal-amal orang kafir dengan sebuah fatamorgana yang ada di tanah yang datar. Diduga ada air bagi orang yang haus dahaga tetapi ketika didatangi dia tidak mendapatkan suatu apapun. Artinya segala sesuatu yang orang kafir lakukan tidak ada bekas dan manfaatnya sama sekali, karena amal mereka tidak didasari oleh iman kepada Allah. Mereka tidak mendapatkan balasan dari Allah. di akhirat walaupun di dunia mereka menyangka akan mendapat balasan atas apa yang mereka kerjakan.

2. Baḥril Lujjiy بَحْرٍلُـجِّيّ ِ (an-Nūr/24:40)

Baḥr adalah sebutan untuk suatu tempat yang sangat luas dan menampung air yang banyak. Kemudian lafal ini digunakan untuk menunjukkan keluasan. Al-baḥīrah adalah sebutan untuk nama unta betina yang telah beranak lima dan anak yang kelima itu jantan yang kemudian dibelah telinganya, tidak boleh ditunggangi dan diambil air susunya (al-Mā’idah/5:103). Kuda yang kencang larinya disebut fars baḥr. Setiap sesuatu yang bermakna luas disifati dengan lafal baḥr, seperti seseorang yang ilmunya luas disebut dengan tabaḥḥur fīi ‘ilmihi. Sebagian ulama mengatakan baḥr asal maknanya adalah air asin dan bukan air yang tawar. Sedangkan lujjiyy berasal dari kata lajja yang berarti terus-menerus sampai ke ujungnya dan keras kepala dalam berbuat. Lajjat aṣ-ṣaut berarti suara bergema saling bersahutan. Lujjat al-lail berarti kegelapan yang tidak pernah berhenti. Ketika di-iḍāafah-kan dengan lujjat al-baḥr berarti gelombang laut yang saling bersusulan. Lafal baḥr lujjiyy dalam ayat ini berarti laut yang sangat dalam. Maksud ayat ini adalah mereka yang tidak mendapatkan cahaya Allah seperti berada dalam kegelapan yang terjadi di lautan yang sangat dalam yang diliputi oleh ombak, di atasnya ada ombak pula yang sambung-menyambung, di atasnya lagi ada awan yang gelap. Penggambaran yang mencerminkan kegelapan yang bertindih-tindih.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto