Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 39 - Surat An-Nūr (Cahaya)
النّور
Ayat 39 / 64 •  Surat 24 / 114 •  Halaman 355 •  Quarter Hizb 36.25 •  Juz 18 •  Manzil 4 • Madaniyah

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَّوَجَدَ اللّٰهَ عِنْدَهٗ فَوَفّٰىهُ حِسَابَهٗ ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۙ

Wal-lażīna kafarū a‘māluhum kasarābim biqī‘atiy yaḥsabuhuẓ-ẓam'ānu mā'ā(n), ḥattā iżā jā'ahū lam yajidhu syai'aw wa wajadallāha ‘indahū fa waffāhu ḥisābah(ū), wallāhu sarī‘ul-ḥisāb(i).

Orang-orang yang kufur, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar. Orang-orang yang dahaga menyangkanya air, hingga apabila ia mendatanginya, ia tidak menjumpai apa pun. (Sebaliknya,) ia mendapati (ketetapan) Allah (baginya) di sana, lalu Dia memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna. Allah sangat cepat perhitungan-Nya.521)

Makna Surat An-Nur Ayat 39
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Usai menjelaskan sifat orang-orang yang mendapat pancaran cahaya Ilahi, pada ayat berikut Allah beralih menguraikan sifat-sifat orang kafir. Dan orang-orang yang kafir yang menutup mata hati mereka sehingga tidak memperoleh cahaya ilahi, sesungguhnya amal perbuatan mereka, yang secara lahir tampak baik dan mereka harapkan untuk dibalas dengan ganjaran, kelak di hari Kiamat seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila itu didatangi, yakni ketika dia sampai di tempat fatamorgana itu tampak, dia tidak mendapati apa pun. Dan didapatinya ketetapan Allah baginya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan sempurna; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya karena Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini Allah memberikan perumpamaan bagi amal-amal orang kafir yang tampaknya baik dan besar manfaatnya seperti mendirikan panti asuhan bagi anak-anak yatim, rumah sakit atau poliklinik untuk mengobati orang-orang yang tidak mampu, menolong fakir miskin dengan memberikan pakaian dan makanan, mendirikan perkumpulan sosial atau yayasan, dan amal-amal sosial lainnya yang sangat dianjurkan oleh agama Islam dan dipandang sebagai amal yang besar pahalanya. Amal-amal orang-orang kafir itu meskipun besar faedahnya bagi masyarakat, tetapi amal mereka itu tidak ada nilainya di sisi Allah, karena syarat utama bagi diterimanya suatu amal ialah iman kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun, apalagi menganggap makhluk-Nya baik yang bernyawa ataupun benda mati sebagai Tuhan yang diharapkan rahmat dan kasih sayangnya atau yang ditakuti murkanya.

Allah menyerupakan amal-amal orang-orang kafir itu sebagai fata-morgana di padang pasir, tampak dari kejauhan seperti air jernih yang dapat melepaskan dahaga dan menyegarkan tubuh yang telah ditimpa terik matahari. Dengan bergegas-gegas orang yang melihatnya berjalan menuju arah fatamorgana itu, tetapi tatkala mereka sampai di sana, semua harapan itu sirna berganti dengan rasa kecewa dan putus asa karena yang dilihatnya seperti air jernih itu tidak lain hanyalah bayangan belaka. Mereka tidak hanya merasa kecewa dan putus asa, karena tidak mendapat minuman yang segar, tetapi mereka juga dihantui oleh nasib yang buruk karena di hadapan mereka telah menunggu penderitaan yang tidak tertangguhkan yaitu haus dan dahaga akibat ditimpa panasnya matahari sedang yang kelihatan di sekeliling mereka hanya pasir belaka yang luas tidak bertepi.

Demikian halnya orang-orang kafir di akhirat nanti, mereka mengira bahwa amal mereka di dunia akan menolong dan melepaskan mereka dari kedahsyatan dan kesulitan di padang mahsyar, tetapi nyatanya semua itu tak ada gunanya sama sekali karena tidak dilandasi oleh iman, keikhlasan, dan kejujuran. Bukan saja mereka dikecewakan oleh harapan-harapan palsu, tetapi di hadapan mereka telah tersedia pula balasan atas segala dosa dan keingkaran mereka, yaitu neraka Jahanam yang amat panas dan menyala-nyala. Allah telah memberitahukan kepada mereka perhitungan amal mereka dan Malaikat Zabaniah telah siap sedia menggiring mereka ke neraka. Allah berfirman:

وَقَدِمْ نَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا ٢٣

Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.(al-Furqān/25: 23)

Isi Kandungan Kosakata

1. Sarābin Biqī’ah سَرَابٍ بِقِيْعَةِ (an-Nūr/24: 39)

Sarāb berasal dari kata saraba-yasrabu berarti jalan dengan cara menurun. As-sarāb berarti tempat yang landai. Dalam al-Kahf/18:61 “fattakhaẓa sabīlahū fi al-baḥri sarābā” (lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu). Saraba juga diartikan dengan penggambaran pelaku terhadap pekerjaan yang ia lakukan. Saraba ad-dam’u berarti air matanya mengalir. Saraba juga berarti sesuatu yang tidak ada hakikatnya alias fatamorgana. Sedangkan qī’un berasal dari kata qā’a yaitu tanah yang datar. Bentuk jamaknya adalah qī’ān. Jadi sarab biqī’ah adalah fatamorgana di tanah yang datar. Maksud ayat ini adalah Allah membuat perumpamaan untuk amal-amal orang kafir dengan sebuah fatamorgana yang ada di tanah yang datar. Diduga ada air bagi orang yang haus dahaga tetapi ketika didatangi dia tidak mendapatkan suatu apapun. Artinya segala sesuatu yang orang kafir lakukan tidak ada bekas dan manfaatnya sama sekali, karena amal mereka tidak didasari oleh iman kepada Allah. Mereka tidak mendapatkan balasan dari Allah. di akhirat walaupun di dunia mereka menyangka akan mendapat balasan atas apa yang mereka kerjakan.

2. Baḥril Lujjiy بَحْرٍلُـجِّيّ ِ (an-Nūr/24:40)

Baḥr adalah sebutan untuk suatu tempat yang sangat luas dan menampung air yang banyak. Kemudian lafal ini digunakan untuk menunjukkan keluasan. Al-baḥīrah adalah sebutan untuk nama unta betina yang telah beranak lima dan anak yang kelima itu jantan yang kemudian dibelah telinganya, tidak boleh ditunggangi dan diambil air susunya (al-Mā’idah/5:103). Kuda yang kencang larinya disebut fars baḥr. Setiap sesuatu yang bermakna luas disifati dengan lafal baḥr, seperti seseorang yang ilmunya luas disebut dengan tabaḥḥur fīi ‘ilmihi. Sebagian ulama mengatakan baḥr asal maknanya adalah air asin dan bukan air yang tawar. Sedangkan lujjiyy berasal dari kata lajja yang berarti terus-menerus sampai ke ujungnya dan keras kepala dalam berbuat. Lajjat aṣ-ṣaut berarti suara bergema saling bersahutan. Lujjat al-lail berarti kegelapan yang tidak pernah berhenti. Ketika di-iḍāafah-kan dengan lujjat al-baḥr berarti gelombang laut yang saling bersusulan. Lafal baḥr lujjiyy dalam ayat ini berarti laut yang sangat dalam. Maksud ayat ini adalah mereka yang tidak mendapatkan cahaya Allah seperti berada dalam kegelapan yang terjadi di lautan yang sangat dalam yang diliputi oleh ombak, di atasnya ada ombak pula yang sambung-menyambung, di atasnya lagi ada awan yang gelap. Penggambaran yang mencerminkan kegelapan yang bertindih-tindih.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto