لَقَدْ اَنْزَلْنَآ اٰيٰتٍ مُّبَيِّنٰتٍۗ وَاللّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
Laqad anzalnā āyātim mubayyināt(in), wallāhu yahdī may yasyā'u ilā ṣirāṭim mustaqīm(in).
Sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang memberi penjelasan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk).
Menutup uraian tentang bukti-bukti kekuasaan-Nya pada ayat-ayat yang lalu, Allah menyatakan sebagai berikut, Sungguh, Kami telah menurunkan baik pada surah ini maupun surah yang lain, ayat-ayat yang memberi penjelasan berupa bukti, hukum, nasihat, dan permisalan yang dibutuhkan oleh manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dan Allah memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang luas, lurus dan tidak menyimpang.
Semua yang tersebut pada ayat-ayat sebelum ini menunjukkan kekuasaan Allah dan kesempurnaan ciptaan-Nya. Bagi ahli-ahli ilmu pengetahuan dalam segala bidang terbuka lapangan yang seluas-luasnya untuk meneliti dan menyelidiki berbagai macam ciptaan Allah, dan mengagumi bagaimana kukuh dan sempurnanya ciptaan itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat bukti-bukti yang nyata tentang adanya Maha Pencipta, namun banyak juga di antara manusia walaupun ia mengagumi semua ciptaan Allah itu, tidak mengambil manfaat dari penelitiannya kecuali sekadar penelitian saja dan tidak membawanya kepada keimanan. Memang demikianlah halnya, karena Allah hanya menunjukkan siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
1. Yuzjī Saḥāban يُزْجِى سَحَابًا (an-Nūr/24: 43)
Yuzjī berasal dari kata zajā yaitu mendorong sesuatu agar teratur atau menggiring seperti mengatur unta dalam berjalan. Sedangkan saḥāb berasal dari kata saḥaba yang berarti menarik kembali. Arti dasarnya adalah berlari. As-Saḥāb diartikan dengan awan karena ada angin yang mendorongnya atau karena satu sama lain saling berkejaran. Ayat ini menjelaskan tentang bukti kekuasaan Allah. Dia-lah yang menjadikan awan teratur, kemudian meng-arak, mengumpulkannya dan menjadikannya bertindih-tindih. Untuk sete-rusnya kemudian keluarlah air hujan.
2. Rukāman رُكَامًا (an-Nūr/24:43)
Lafal rukāma berasal dari kata rakima yang berarti menjadikan sesuatu berada diatasnya dan seterusnya. Dengan kata lain rukāman berarti saling bersusun atau bertindih. Biasanya lafal ini untuk menyifati pasir atau pasukan, karena pasir dan pasukan saling bersusun satu sama lain. Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia-lah yang menjadikan awan bertindih-tindih setelah Dia arak dan kumpulkan di satu tempat/daerah, sehingga terjadi tumpukan dan gumpalan awan yang berwarna hitam bagaikan gunung-gunung di angkasa, kemudian keluarlah dari celah awan tersebut air hujan.










































