Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 53 - Surat An-Nūr (Cahaya)
النّور
Ayat 53 / 64 •  Surat 24 / 114 •  Halaman 356 •  Quarter Hizb 36.5 •  Juz 18 •  Manzil 4 • Madaniyah

۞ وَاَقْسَمُوْا بِاللّٰهِ جَهْدَ اَيْمَانِهِمْ لَىِٕنْ اَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّۗ قُلْ لَّا تُقْسِمُوْاۚ طَاعَةٌ مَّعْرُوْفَةٌ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Wa aqsamū billāhi jahda aimānihim la'in amartahum layakhrujunn(a), qul lā tuqsimū, ṭā‘atum ma‘rūfah(tun), innallāha khabīrum bimā ta‘malūn(a).

Mereka bersumpah atas (nama) Allah dengan sungguh-sungguh bahwa jika engkau menyuruh mereka (berperang), pastilah mereka akan berangkat. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Janganlah kamu bersumpah (karena yang diminta) adalah ketaatan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Makna Surat An-Nur Ayat 53
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan selain sikap orang munafik yang menolak hukum darimu, wahai Nabi Muhammad, mereka juga bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah sungguh-sungguh bahwa jika engkau suruh mereka untuk berperang, pastilah mereka akan pergi. Demikian sumpah mereka. Untuk merespons sumpah mereka, katakanlah wahai Nabi, “Janganlah kamu bersumpah palsu karena yang diminta oleh Allah dari kamu adalah ketaatan yang baik dan tulus, Bukan ketaatan di mulut saja. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakajn, baik pekerjaan lahir maupun batin.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini Allah kembali menerangkan tingkah laku orang-orang munafik yaitu mereka dengan mudah mengucapkan janji-janji yang muluk-muluk dan diperkuat dengan sumpah, tetapi tidak pernah mereka tepati. Mereka bersumpah dengan menyebut nama Allah bahwa bila mereka diminta untuk ikut berperang bersama orang-orang mukmin mereka pasti akan ikut dan tidak akan menolak, bagaimana pun keadaan dan situasi mereka dan tidak akan memikirkan apa yang akan terjadi dalam peperangan itu, seakan-akan mereka yakin benar bahwa perintah berperang itu adalah untuk kepentingan bersama dan untuk menegakkan agama Allah. Tetapi Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati mereka, bahwa mereka bila benar-benar diajak untuk berperang melawan musuh, mereka akan mencari dalih dan alasan agar mereka tidak ikut pergi dan tinggal saja di Medinah. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar melarang mereka bersumpah, karena sumpah seperti itu berat resikonya. Mereka tidak perlu bersumpah karena Allah sudah mengetahui bahwa ketaatan dan kepatuhan mereka hanya di mulut saja dan tidak timbul dari hati nurani yang bersih. Senada dengan ayat ini Allah berfirman:

يَحْلِفُ وْنَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۚفَاِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يَرْضٰى عَنِ الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ ٩٦

Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu bersedia menerima mereka. Tetapi sekalipun kamu menerima mereka, Allah tidak akan rida kepada orang-orang yang fasik. (at-Taubah/9: 96)

Dan firman-Nya:

وَيَحْل فُوْنَ بِاللّٰهِ اِنَّهُمْ لَمِنْكُمْۗ وَمَا هُمْ مِّنْكُمْ وَلٰكِنَّهُمْ قَوْمٌ يَّفْرَقُوْنَ ٥٦

Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; namun mereka bukanlah dari golonganmu, tetapi mereka orang-orang yang sangat takut (kepadamu). (at-Taubah/9: 56)

Oleh karena itu Allah mengingatkan mereka terhadap sumpah palsu yang mereka ucapkan itu dan mengancam akan menimpakan balasan yang setimpal atas perbuatan mereka yang jahat itu, dan menjelaskan bahwa Dia mengetahui segala tingkah laku mereka dan niat jahat mereka serta tipu daya yang mereka atur untuk menipu kaum Muslimin.

Isi Kandungan Kosakata

1. Mu’riḍūn مُعْرِضُوْنَ (an-Nūr/24:48)

Lafal mu’riḍūn merupakan bentuk jamak dari lafal mu’riḍ, terambil dari kata ‘araḍa yang merupakan antonim dari lafal ṭūl (panjang) yang berarti lebar. Awalnya lafal ini digunakan pada jism kemudian dijadikan ungkapan untuk selain jism. ‘Araḍa memiliki makna yang banyak, di antaranya adalah mengemukakan, memamerkan atau mendemonstrasikan, seperti firman Allah QS 2:31 “ṡumma ‘araḍahum ‘ala al-malāikah” (kemudian Adam mengemukakan kepada para malaikat). ‘Araḍa juga diartikan dengan barang-barang kenikmatan duniawi yang bersifat fana (al-Anfāl/8:67). ‘Araḍa juga diartikan dengan awan seperti yang disebutkan dalam al-Aḥqāf/46:24. Al-’Urḍah adalah penghalang (al-Baqarah/2:224). Ba’īr ‘urḍah berarti unta itu menjadi penghalang dalam perjalanan. A’raḍa juga berarti berpaling, menghindar, menolak atau membuang. Dalam ayat ini, dijelaskan mengenai sifat orang-orang munafik dalam bertahkim kepada Rasul. Sikap mereka adalah tatkala mereka dipanggil untuk datang agar Rasul mengadili di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang bahkan mereka lebih senang bertahkim kepada selain Allah dan Rasul-Nya.

2. Muẓ’inūn مُذْعِنِيْنَ (an-Nūr/24: 49)

Secara etimologis, muẓ’inūn berarti patuh. Dalam konteks ayat di atas, Allah menjelaskan sikap orang-orang munafik yang menolak kebenaran dakwah Rasulullah. Kendati mereka mengaku beriman, mereka tetap saja berpaling dari putusan Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kebenaran ada di pihak mereka, mereka akan datang kepada Rasulullah dengan patuh.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto