فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّالنَّخْلُ ذَاتُ الْاَكْمَامِۖ
Fīhā fākihatuw wan-nakhlu żātul-akmām(i).
Padanya terdapat buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,
Bumi tidak hanya dihamparkan. Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,
Allah memberitahukan bahwa di bumi ini terdapat bermacam-macam bahan yang dapat dijadikan makanan dari aneka ragam buah-buahan, baik yang dimakan setelah masak dari pohonnya atau setelah dimasak dengan rapi, baik dari buah-buahan setelah dikeringkan maupun dalam keadaan masih basah.
Seterusnya Allah menyatakan, pohon-pohon kurma yang mempunyai selodang pembungkus buahnya ketika ia keluar. Dikhususkan sebutan kurma ini karena ditanam di tanah Arab dan sangat banyak faedahnya. Buahnya baik dimakan di waktu masih muda maupun setelah ia matang, baik keadaan basah maupun setelah ia dikeringkan. Dari seluruh pohonnya dapat juga diambil faedah seperti daunnya untuk keranjang dan tikar, sabutnya untuk tali, pelepah-nya untuk atap rumah, dan batangnya untuk tiang. Dari beberapa faedah yang disebutkan, jenis kurma dikhususkan dalam menyebutnya di antara buah-buahan yang lain.
1. Al-Bayān الْبَيَان (ar-Raḥmān/55: 4)
Kata al-bayān berasal dari bāna-yabīnu-bayānan yang berarti nyata, terang dan jelas. Dengan al-bayān dapat terungkap apa yang belum jelas. Pengajaran al-bayān oleh Allah tidak hanya terbatas pada ucapan, tetapi mencakup segala bentuk ekspresi, termasuk seni dan raut muka. Menurut al-Biqā‘i, kata al-bayān adalah potensi berpikir, yakni mengetahui persoalan kulli dan juz′i, menilai yang tampak dan yang gaib serta menganalogikannya dengan yang tampak. Kadang-kadang al-bayān berarti tanda-tanda, bisa juga berarti perhitungan, atau ramalan. Itu semua disertai potensi untuk menguraikan sesuatu yang tersembunyi dalam benak serta menjelaskan dan mengajarkannya kepada pihak lain. Sekali dengan kata-kata, kemudian dengan perbuatan, dengan ucapan, tulisan, isyarat dan lain-lain.
2. Żūl-‘Aṣ f ذُوالْعَصْفِ (ar-Raḥmān/55:12)
Kata żū berarti mempunyai. Sedangkan kata al-‘aṣf dari fi‘il ‘aṣafa-ya‘ṣifu-‘a fan, yang berarti bertiup keras. Kata żul-‘aṣf dalam ayat 12 Surah ar-Raḥmān berarti biji-bijian yang berkulit atau berdaun. Kata al-‘aṣf pada ayat ini adalah daun atau daun kering. Kata al-‘aṣf itu sendiri berarti bergerak atau bertiup keras. Daun dinamai al-‘aṣf, karena ia digerakkan oleh angin. Penyebutan kata tersebut untuk memperindah gaya bahasa sambil mengingatkan anugerah keindahan yang diciptakan Allah pada tumbuhan itu.










































