Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 38 - Surat Ar-Raḥmān (Yang Maha Pengasih)
الرّحمٰن
Ayat 38 / 78 •  Surat 55 / 114 •  Halaman 532 •  Quarter Hizb 54 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Makna Surat Ar-Rahman Ayat 38
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini Allah menantang jin dan manusia apakah mereka masih mendustakan nikmat-Nya. Allah mengabarkan segala sesuatu yang dapat mengakibatkan manusia menghindari segala kejahatan, sehingga akhirnya ia selamat dari ancaman, itulah nikmat Tuhan.

Isi Kandungan Kosakata

1. An-Nawāṣī النَّوَاصِيْ (ar-Raḥmān/55: 41)

Kata an-nawāṣī merupakan bentuk jamak dari an-nāṣiyah, yang artinya ubun-ubun, atau tempat tumbuhnya rambut pada bagian puncak kepala. Selain makna secara bahasa, seperti yang telah diungkapkan, ada pula yang memahami kata ini dengan mengartikannya sebagai rambut yang tumbuh di bagian ubun-ubun tersebut. Makna seperti ini terdapat dalam pemahaman dari Surah al-‘Alaq/96: 15, yaitu bahwa orang yang tidak berhenti dari kegiatannya dalam mengganggu akan ditarik ubun-ubunnya (atau yang lebih tepat rambut yang tumbuh di tempat tersebut, karena menarik rambut lebih mudah dipahami ketimbang menarik ubun-ubun yang menyatu dan merupakan bagian dari kepala). Namun demikian makna apa saja yang dimaksud, pemahaman yang disimpulkan dari ayat ini adalah untuk menyatakan bahwa para pendurhaka itu akan dapat dikuasai secara penuh dan mudah di akhirat, sebagai balasan dari perbuatan mereka.

2. Al-Aqdām الْأَقْدَام (ar-Raḥmān/55: 41)

Kata al-aqdām merupakan bentuk jamak dari al-qadam, yang artinya bagian bawah dari kaki. Kata ini disebut dalam ayat yang digandengkan dengan an-nawāṣī untuk mengungkapkan keadaan seseorang secara keseluruhan. Kalau an-nawāṣī menunjuk bagian paling atas dari jasmani manusia, maka al-aqdām menunjuk bagian paling bawahnya. Dengan pengungkapan ini, ayat tersebut mengisyaratkan bahwa manusia yang berbuat durhaka akan dikuasai secara keseluruhan dari jasmaninya dalam rangka menerima balasan. Penguasaan itu terjadi dengan mudah, sebagai-mana yang ditunjukkan oleh bentuk pasif dari kata kerja sebelumnya, yaitu fayu’khażu, yang artinya maka diambil atau dipegang.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto