وَالسَّمَاۤءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ
Was-samā'a rafa‘ahā wa waḍa‘al-mīzān(a).
Langit telah Dia tinggikan dan Dia telah menciptakan timbangan (keadilan dan keseimbangan)
Dan Dia telah menciptakan langit. Langit itu telah ditinggikan-Nya setelah sebelumnya menyatu dengan bumi dalam bentuk gumpalan, dan Dia ciptakan keseimbangan dengan mantap
Allah menyatakan bahwa Dia menciptakan langit tempat diturunkan perintah dan larangan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, tempat malaikat-malaikat yang turun membawa wahyu-Nya kepada nabi-nabi-Nya, di samping itu Dia menghendaki adanya keseimbangan dalam segala hal. Di antaranya adalah perimbangan akidah, yaitu mentauhidkan-Nya, karena tauhid adalah pertengahan antara mengingkari adanya Allah dengan mempersekutukan-Nya. Begitu juga, Perimbangan dalam ibadah, dalam beramal dan dalam budi pekerti, perimbangan dalam kekuatan rohani dan jasmani dan sebagainya.
Demikianlah perimbangan dan keadilan yang dikehendaki-Nya dengan tidak membiarkan sesuatu karena kecilnya dan tidak pula mementingkan yang lain karena besarnya. Perimbangan-Nya mencakup semua yang ada di alam ini.
1. Al-Bayān الْبَيَان (ar-Raḥmān/55: 4)
Kata al-bayān berasal dari bāna-yabīnu-bayānan yang berarti nyata, terang dan jelas. Dengan al-bayān dapat terungkap apa yang belum jelas. Pengajaran al-bayān oleh Allah tidak hanya terbatas pada ucapan, tetapi mencakup segala bentuk ekspresi, termasuk seni dan raut muka. Menurut al-Biqā‘i, kata al-bayān adalah potensi berpikir, yakni mengetahui persoalan kulli dan juz′i, menilai yang tampak dan yang gaib serta menganalogikannya dengan yang tampak. Kadang-kadang al-bayān berarti tanda-tanda, bisa juga berarti perhitungan, atau ramalan. Itu semua disertai potensi untuk menguraikan sesuatu yang tersembunyi dalam benak serta menjelaskan dan mengajarkannya kepada pihak lain. Sekali dengan kata-kata, kemudian dengan perbuatan, dengan ucapan, tulisan, isyarat dan lain-lain.
2. Żūl-‘Aṣ f ذُوالْعَصْفِ (ar-Raḥmān/55:12)
Kata żū berarti mempunyai. Sedangkan kata al-‘aṣf dari fi‘il ‘aṣafa-ya‘ṣifu-‘a fan, yang berarti bertiup keras. Kata żul-‘aṣf dalam ayat 12 Surah ar-Raḥmān berarti biji-bijian yang berkulit atau berdaun. Kata al-‘aṣf pada ayat ini adalah daun atau daun kering. Kata al-‘aṣf itu sendiri berarti bergerak atau bertiup keras. Daun dinamai al-‘aṣf, karena ia digerakkan oleh angin. Penyebutan kata tersebut untuk memperindah gaya bahasa sambil mengingatkan anugerah keindahan yang diciptakan Allah pada tumbuhan itu.
















































