بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيٰنِۚ
Bainahumā barzakhul lā yabgiyān(i).
Di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
Di antara keduanya ada batas yang diciptakan Allah sehingga batas itu tidak dilampaui oleh masing-masing.
Ayat-ayat ini menerangkan bahwa Allah mengalirkan air yang asin dari air yang tawar berdekatan yang kemudian berkumpul menjadi satu, masing-masing tidak mempengaruhi yang lain, yang asin tidak mempeng-aruhi yang tawar sehingga yang tawar menjadi asin dan yang asin menjadi tawar. Allah telah membatasi di antara keduanya dengan batas yang telah diciptakan dengan kekuasaan-Nya atau dibatasinya dengan batas yang berupa tanah. Firman Allah:
وَهُوَ الَّذِيْ مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَّهٰذَا مِلْحٌ اُجَاجٌۚ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَّحِجْرًا مَّحْجُوْرًا ٥٣
Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus. (al-Furqān/25: 53)
Peristiwa di atas dapat dilihat seperti sungai-sungai yang mengalir dari gunung-gunung yang akhirnya masuk ke dalam laut dan rasanya menjadi asin sedang air sungainya tetap tawar.
Menurut kajian ilmiah, laut mempunyai sifat fisika dan kimia yang tidak homogen. Ketidakhomogenan ini yang menyebabkan laut bergerak dinamis. Proses yang memicu pergerakan ini sangat kompleks dan melibatkan tenaga dari luar seperti angin, rotasi bumi, topografi dasar laut maupun hubungan satu sama lain antar laut. Distribusi rapat massa yang tergantung pada tingkat kegaraman, temperatur dan tekanan udara juga mempunyai peranan penting. Aliran arus permukaan yang hangat dari kawasan tropis mengalir melintasi katulistiwa menuju Lautan Atlantik Utara dan Laut Norwegia, untuk kemudian mengalami pendinginan. Akibat pendinginan ini terjadi peningkatan rapat massa dan laut bergerak ke bawah sebagai aliran arus bawah dan bergerak menuju Lautan Atlantik Selatan, Lautan Hindia dan menuju Lautan Pasifik. Gerakan aliran arus bawah ini dikenal sebagai pola sirkulasi thermohalin yang gerakannya sering diidentikan dengan conveyor belt yang menggerakan air, temperatur dan sifat-sifat lainnya dan materi-materi di lautan.
Apa yang digambarkan di atas adalah gambaran global mengenai pergerakan arus laut. Dalam kenyataannya pergerakan arus laut adalah lebih kompleks. Sebagai contoh adalah apa yang digambarkan oleh Djamil (2004) yang menyebutkan bahwa di bawah garis khatulistiwa di Lautan Pasifik, Atlantik dan Lautan Hindia terdapat arus yang bergerak melawan arus permukaannya dan dikenal sebagai Pacific Equatorial Undercurrent atau disebut juga sebagai Cromwell Current. Arus ini bergerak ke timur, yang menentang arus Pacific South Equatorial Current yang bergerak ke barat. Arus yang mempunyai ketebalan 150 m dan panjang 402 km, dan batas atasnya antara 42-91 m, selalu bergerak di bawah khatulistiwa. Air laut yang bergerak dalam aliran arus Cromwell ini yang bergerak ke timur menentang aliran arus ke barat dan antar keduanya terdapat batas. Batas antara dua lautan ini tidak hanya sebatas wilayah yang disebutkan di atas tetapi juga di temui di Selat Gibraltar, maupun di sebelah timur Jepang.
1. Ṣalṣāl صَلْصَال (ar-Raḥmān/55:14)
Berart i tanah liat yang dapat dibuat belanga (pot), diambil dari fi‘il ṣalṣala yang berarti berbunyi.
Kata ṣalṣāl dalam ayat 14 Surah ar-Raḥmān tersebut adalah berarti tanah kering yang bila diketuk akan terdengar berbunyi.
Al-Qur’an menyebut berbagai materi ciptaan manusia, antara lain adalah dengan kata ṣalṣal berarti tanah kering. Kadang-kadang dinyatakan dari nuṭfah berarti sperma, pada kali lain dari turāb berarti tanah. Ada juga disebutkan dari mā' berarti air, atau ṭīn bermakna tanah yang basah, atau dengan ḥama'in masnūn yang berarti lumpur hitam. Ayat-ayat tersebut tidak bertentangan antara satu dengan lainnya, karena masing-masing berbicara tentang salah satu periode dari proses penciptaan manusia. Dapat dikatakan penciptaan manusia bermula dari tanah, lalu tanah itu dicampur dengan air, sehingga menjadi tanah yang basah, lalu dibiarkan beberapa saat, sehingga menjadi lumpur hitam, lalu itu dibentuk sesuai yang dikehendaki dan dikeringkan, sehingga ia menjadi tanah kering seperti tembikar. Ini tentu yang dimaksudkan adalah proses keja-dian Nabi Adam kakek dari semua manusia. Sedangkan semua manusia setelah Nabi Adam adalah diciptakan dari sperma dan ovum yang kemudian menjadi nuṭfah dan seterusnya hingga menjadi janin yang akan lahir sebagai manusia. Kecuali Hawa istri Nabi Adam, Nenek dari semua manusia, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang asal penciptaannya. Jumhur ulama mengatakan, bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Sedangkan sebagian ulama mengatakan, bahwa Hawa diciptakan dari zat yang sama dengan zat penciptaan Nabi Adam.
2. Mārij مَارِجٌ (ar-Raḥmān/55: 15)
Kata mārij dan kata lain yang seasal dengannya disebut empat kali dalam Al-Qur’an, yaitu pada Surah al-Furqān/25: 53, Surah Qāf/50: 5 dan Surah ar-Raḥmān/55: 15 dan 19. Kata mārij pada dasarnya bermakna "bercampur" yakni sebuah siklus yang berjalan terus-menerus, datang dan pergi silih berganti. Misalnya ungkapan, marajal-khātim fīl-aṣābi' yang berarti cincin itu menyatu pada jari-jari. Begitu pula ungkapan marajtud-dābbah yang berarti keadaan ternak yang saya lepas di padang rumput, mereka bercampur antara satu dengan yang lain dan sulit dibedakan. Al-Qur’an menggunakan kata tersebut dalam dua arti:
a. Dengan makna bercampur/membaur, seperti dalam Surah al-Furqān/25: 53 dan ar-Raḥmān/55: 19. Allah membicarakan siklus dua macam air laut yang bercampur dan mengalir berdampingan. Pada hakikatnya keduanya berbeda sifat dan keadaannya sehingga terpisah antara air yang tawar dan air yang asin, karena ada pembatasnya. Demikian juga keadaan yang dialami oleh orang-orang yang mendustakan kebenaran, merasakan kehidupan yang dihadapinya merupakan percampurbauran antara kebaikan dan kebatilan, sehingga kehidupannya kacau balau. Ini disebut dalam Surah Qāf /50: 5.
b. Dengan makna campuran butiran-butiran bara api, seperti pada Surah ar-Raḥmān/55: 15, disebutkan bahwa Allah menciptakan jin dari nyala api mu-rni, yakni campuran butiran-butiran bara api.












































