رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِۚ
Rabbul-masyriqaini wa rabbul-magribain(i).
(Dialah) Tuhan kedua tempat terbit (matahari pada musim panas dan musim dingin) dan Tuhan kedua tempat terbenam (matahari pada kedua musim itu).
Allah Yang Maha Pencipta itu adalah Tuhan yang memelihara dan mengendalikan dua timur, yaitu dua tempat terbit matahari pada musim panas dan musim dingin, dan Dia pula Tuhan yang memelihara dan mengendalikan dua barat, yaitu tempat terbenamnya matahari pada kedua musim tersebut.
Ayat ini menjelaskan tentang peredaran matahari dan bulan, Bahwa Dialah yang menciptakan keduanya dan yang mengatur peredaran menurut perhitungan yang tepat.
Tuhan memelihara dua tempat terbit, dua tempat terbenam matahari dan musim panas dan musim dingin. Atas perubahan-perubahan itu timbullah musim panas, musim dingin, musim semi dan musim gugur dan me-nimbulkan pula perubahan udara yang mengakibatkan perubahan pada curah hujan, perubahan pada pohon-pohonan dan tumbuh-tumbuhan serta sungai-sungai.
Menurut kajian ilmiah “Dua Timur” dan “Dua Barat” yang tersurat dalam ayat di atas berkaitan dengan bulatnya bentuk bumi. Karena, hanya pada benda yang berbentuk seperti bola dapat terjadi hal yang demikian (dua timur dan dua barat). Secara kenyataan, memang bumi mempunyai dua titik tempat terbitnya matahari dan dua titik tempat terbenamnya matahari. Ternyata, ayat Allah dan ilmu pengetahuan ada kesesuaian. Penjelasannya demikian:
“Ketika matahari terbit di satu titik di bagian sebelah bumi, maka pada waktu yang sama matahari akan terbenam di bagian sebelah bumi lainnya. Saat matahari terbenam di sebelah bagian bumi, kembali, pada waktu yang sama, di belahan bumi yang lain, matahari sedang terbit. Dengan demikian, pada kenyataannya, memang betul bahwa ada dua titik dimana matahari terbit, dan pada waktu yang sama, terdapat dua titik dimana matahari terbenam.”
Keadaan demikian ini dilaporkan oleh para antariksawan pada saat mereka memandang bumi dari ruang angkasa. Al-Qur’an menguraikan hal ini sedemikian rupa, seolah-olah konsep bumi yang seperti bola memang sudah dikenal manusia saat itu. Sedangkan sebenarnya tidaklah demikian.
Bentuk bumi yang seperti bola juga dapat dilihat pada beberapa ayat lainnya, seperti dua ayat di bawah ini:
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَۖ كُلٌّ يَّجْرِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى وَّاَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ٢٩
Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (Luqmān/31: 29)
خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۚ يُكَوِّرُ الَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اَلَا هُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ ٥
Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun. (az-Zumar/39: 5)
Saat ini, kita dapat melihat pada bola dunia (globe) gambaran tentang bumi yang mempunyai bentuk seperti bola. Sebenarnya, pada 1400 tahun yang lalu, Al-Qur’an telah memberikan indikasi yang demikian. Dua ayat di atas, dengan menggunakan perumpamaan, telah menjelaskan tentang bentuk bumi. Pada saat masyarakat di Eropa masih mempercayai bahwa bumi itu datar, maka para pelajar di universitas di dunia Islam sudah mempelajari bumi dengan menggunakan bola dunia.
Karena Al-Quran diturunkan bukan sebagai ilmu pengetahuan (science), maka di dalamnya tidak ada pernyataan secara khusus bahwa bentuk bumi adalah bulat seperti bola. Akan tetapi, dari beberapa ayat, manusia mulai berpikir bahwa bentuk bumi seperti bola. Contohnya pada Surah Luqmān/31 ayat 29. Ayat lainnya, Surah az-Zumar/39 ayat 5 menunjukkan bagaimana Allah “menggulung” siang dengan malam. Kata “menggulung” pada ayat di atas adalah terjemahan dari kata Arab “kawwara”, yang digunakan untuk menggambarkan seorang sedang menggulungkan sorban di sekeliling kepalanya.
Untuk dapat mengerti lebih jelas mengenai kedua ayat di atas, lakukanlah suatu percobaan di rumah. Alat yang diperlukan adalah bola dunia dan lampu senter. Bawa kedua alat ini ke kamar yang gelap. Sinari bola dunia dengan lampu senter dari salah satu sisinya. Sinar dari lampu senter ini akan berperan seperti sinar matahari. Maka akan tampak bahwa sebagian belahan dunia akan terang, dan belahan lainnya gelap. Lalu putarkan bola dunia secara perlahan, sebagaimana halnya bumi melakukan putaran pada sumbunya. Perhatikan saat bola dunia berputar, maka sinar matahari akan secara menerus mulai menerangi bagian bumi yang semula gelap. Demikian pula halnya gelap. Ia akan secara perlahan menggantikan terang di bagian bumi yang lain.
Ayat di bawah ini juga berbicara mengenai bentuk bumi:
رَبُّ الْمَشْرِقَيْن ِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْن ِۚ ١٧ فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ ١٨
Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (ar-Raḥmān/55: 17-18)
Pada saat manusia mempercayai bahwa bumi datar dan menetap (tidak bergerak), Al-Qur’an sudah mengungkapkan, secara eksplisit maupun implisit, bahwa bumi itu bulat. Tidak hanya bulat, akan tetapi lebih rinci, yaitu bentuknya lebih seperti telur daripada bulat.
Mengenai pemeliharaan tempat terbit dan tenggelamnya matahari. Ketika manusia memercayai bahwa bumi datar dan diam/tidak bergerak, maka Al- Qur’an mengungkapkan bahwa bumi itu bulat, melalui firman-Nya dalam ayat tersebut di atas. Karena hanya pada benda berbentuk seperti bola peristiwa tersebut dapat terjadi, dua timur dan dua barat ?
Sayyid Quṭb berpendapat mungkin itu tempat terbitnya matahari dan bulan serta tempat terbenamnya matahari dan bulan. Tapi bisa juga maksudnya dua tempat terbit matahari yang berbeda posisinya pada musim panas dan musim dingin. Demikian pula dua tempat terbenamnya.
Sementara Ilmu Pengetahuan berpendapat bahwa manakala matahari terbit di satu titik di belahan bumi, maka pada saat yang sama justru matahari tersebut akan terbenam dilihat dari titik belahan lainnya yang letaknya jauh ke arah timur. Begitu pula tatkala matahari terlihat terbenam di suatu titik di belahan bumi, maka pada saat yang bersamaan dari belahan bumi yang letaknya jauh ke sebelah barat, matahari tersebut dilihat sedang terbit.
Fenomena ini yang diartikan dengan (seolah) ada dua titik di mana matahari terbit dan pada waktu yang sama ada dua titik tempat matahari terbenam.
Apapun makna dari pesan tersebut, sesuatu yang penting untuk disyukuri adalah pemeliharaan Allah atas dua timur dan dua barat merupakan bagian dari nikmat-Nya di alam semesta ini?
1. Ṣalṣāl صَلْصَال (ar-Raḥmān/55:14)
Berart i tanah liat yang dapat dibuat belanga (pot), diambil dari fi‘il ṣalṣala yang berarti berbunyi.
Kata ṣalṣāl dalam ayat 14 Surah ar-Raḥmān tersebut adalah berarti tanah kering yang bila diketuk akan terdengar berbunyi.
Al-Qur’an menyebut berbagai materi ciptaan manusia, antara lain adalah dengan kata ṣalṣal berarti tanah kering. Kadang-kadang dinyatakan dari nuṭfah berarti sperma, pada kali lain dari turāb berarti tanah. Ada juga disebutkan dari mā' berarti air, atau ṭīn bermakna tanah yang basah, atau dengan ḥama'in masnūn yang berarti lumpur hitam. Ayat-ayat tersebut tidak bertentangan antara satu dengan lainnya, karena masing-masing berbicara tentang salah satu periode dari proses penciptaan manusia. Dapat dikatakan penciptaan manusia bermula dari tanah, lalu tanah itu dicampur dengan air, sehingga menjadi tanah yang basah, lalu dibiarkan beberapa saat, sehingga menjadi lumpur hitam, lalu itu dibentuk sesuai yang dikehendaki dan dikeringkan, sehingga ia menjadi tanah kering seperti tembikar. Ini tentu yang dimaksudkan adalah proses keja-dian Nabi Adam kakek dari semua manusia. Sedangkan semua manusia setelah Nabi Adam adalah diciptakan dari sperma dan ovum yang kemudian menjadi nuṭfah dan seterusnya hingga menjadi janin yang akan lahir sebagai manusia. Kecuali Hawa istri Nabi Adam, Nenek dari semua manusia, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang asal penciptaannya. Jumhur ulama mengatakan, bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Sedangkan sebagian ulama mengatakan, bahwa Hawa diciptakan dari zat yang sama dengan zat penciptaan Nabi Adam.
2. Mārij مَارِجٌ (ar-Raḥmān/55: 15)
Kata mārij dan kata lain yang seasal dengannya disebut empat kali dalam Al-Qur’an, yaitu pada Surah al-Furqān/25: 53, Surah Qāf/50: 5 dan Surah ar-Raḥmān/55: 15 dan 19. Kata mārij pada dasarnya bermakna "bercampur" yakni sebuah siklus yang berjalan terus-menerus, datang dan pergi silih berganti. Misalnya ungkapan, marajal-khātim fīl-aṣābi' yang berarti cincin itu menyatu pada jari-jari. Begitu pula ungkapan marajtud-dābbah yang berarti keadaan ternak yang saya lepas di padang rumput, mereka bercampur antara satu dengan yang lain dan sulit dibedakan. Al-Qur’an menggunakan kata tersebut dalam dua arti:
a. Dengan makna bercampur/membaur, seperti dalam Surah al-Furqān/25: 53 dan ar-Raḥmān/55: 19. Allah membicarakan siklus dua macam air laut yang bercampur dan mengalir berdampingan. Pada hakikatnya keduanya berbeda sifat dan keadaannya sehingga terpisah antara air yang tawar dan air yang asin, karena ada pembatasnya. Demikian juga keadaan yang dialami oleh orang-orang yang mendustakan kebenaran, merasakan kehidupan yang dihadapinya merupakan percampurbauran antara kebaikan dan kebatilan, sehingga kehidupannya kacau balau. Ini disebut dalam Surah Qāf /50: 5.
b. Dengan makna campuran butiran-butiran bara api, seperti pada Surah ar-Raḥmān/55: 15, disebutkan bahwa Allah menciptakan jin dari nyala api mu-rni, yakni campuran butiran-butiran bara api.



































