فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?
Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?
Dalam ayat ini, Allah menantang jin dan manusia agar mengungkap-kan nikmat-Nya yang mereka dustakan. Berapa banyak permohonan yang telah dikabulkan-Nya. Berapa banyak hal-hal yang baru diciptakan-Nya. Dan berapa banyak orang yang lemah ditolong-Nya.
1. Fānin فَانٍ (ar-Raḥmān/55: 26)
Kata fānin adalah isim fā‘il yang berarti yang rusak, binasa, musnah, lenyap, dan berasal dari fi‘il (kata kerja) faniya-yafnā-fanā'an yang berarti rusak, binasa, musnah, dan lenyap.
Kata fān mengandung makna masa datang. Ini mengesankan berakhirnya periode kehidupan duniawi serta tidak berlakunya lagi hukum-hukum yang berlaku selama ini, akibat kematian manusia dan jin serta terjadinya periode ba-ru kehidupan yang memberi ganjaran dan balasan terhadap mereka, karena kehi-dupan duniawi adalah sebagai pengantar menuju tujuan ke akhirat, dan apa yang terjadi itu adalah perpindahan dari pengantar menuju tujuan.
2. Sya’nin شَأْنٍ (ar-Raḥmān/55: 29)
Kata sya’nin diambil dari kata kerja sya'ana-yasy’anu-sya'nan, berarti menuruti, mengikuti. Asy-sya’nu juga berarti berpelukan, hajat kebutuhan, perkara, urusan, keadaan/hal, hubungan, kedudukan, kepentingan, yang penting.
Kata sya'n dalam Surah ar-Raḥmān/55: 29 bermakna persoalan yang besar dan penting. Kalau persoalan yang besar saja berada dalam genggaman Allah, maka tentu lebih-lebih yang kecil.













































