وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهٗ هُمُ الْبَاقِيْنَ
Wa ja‘alnā żurriyyatahū humul-bāqīn(a).
Kami menjadikan keturunannya orang-orang yang bertahan (di bumi).
Dan Kami muliakan Nabi Nuh dengan men-jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan setelah peristiwa banjir itu surut.
Kemudian dijelaskan jenis doa Nabi Nuh yang dikabulkan itu, antara lain: Pertama, Allah telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang beriman, termasuk beberapa orang puteranya, dari bencana yang besar yakni angin topan yang dahsyat dibarengi banjir besar. Seorang puteranya ikut tenggelam. Mereka yang selamat dari banjir besar itu ialah mereka yang berada dalam kapal. Firman Allah:
فَاَنْجَيْ نٰهُ وَمَنْ مَّعَهٗ فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ ١١٩ ثُمَّ اَغْرَقْنَا بَعْدُ الْبَاقِيْنَ ١٢٠ (الشعراۤء)
Kemudian Kami menyelamatkannya Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian setelah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. (asy-Syu‘arā'/26: 119-120)
Kedua, Allah menjadikan anak cucu Nabi Nuh orang yang akan melanjutkan keturunannya, dan mereka yang membangkang dan menentang seruannya dibinasakan, seperti yang dimohon Nabi Nuh dalam doanya.
Ketiga, Allah mengabadikan pujian dan nama yang harum bagi Nuh di kalangan para nabi yang datang kemudian dan umat manusia sampai akhir zaman. Beliau masyhur di kalangan kaum muslimin, termasuk salah seorang dari lima rasul yang disebut ūlul ‘azmi yang artinya orang-orang yang mempunyai keteguhan hati. Empat rasul lainnya ialah Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad saw.
Al-Mujībūn الْمُجِيْبُوْن َ (aṣ-Ṣāffāt/37: 75)
Secara kebahasaan, al-mujībūn yang merupakan bentuk jamak (plural) dari al-mujīb bermakna yang menjawab atau yang memperkenankan. Dalam konteks ayat di atas, al-mujībūn dialamatkan kepada Allah sebagai Zat yang mengabulkan seruan doa Nabi Nuh. Diceritakan, ketika Nabi Nuh merasa yakin bahwa kaumnya tidak ada harapan lagi untuk beriman kepada Allah, maka beliau berdoa kepada Allah supaya menurunkan azab kepada mereka. Menjawab seruan doa Nabi Nuh itu, Allah swt menyatakan, “Sesungguhnya Nuh telah menyeru kepada Kami; maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami).” Allah pun lalu menurunkan azab kepada mereka, kecuali pengikut setia Nabi Nuh. Allah menegaskan, “Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar.”











































