وَاِنْ كَانُوْا لَيَقُوْلُوْنَۙ
Wa in kānū layaqūlūn(a).
Sesungguhnya mereka (orang kafir Makkah) benar-benar berkata,
Orang-orang kafir selalu mencari pembenaran atas kekafiran mereka, tidak terkecuali mereka yang hidup sebelum Nabi Muhammad. Dan sesungguhnya mereka benar-benar pernah berkata,
Dijelaskan bahwa kaum kafir Mekah itu sebelum kedatangan Nabi Muhammad sebenarnya sudah berjanji bahwa seandainya mereka memiliki kitab suci yang berisi pedoman seperti yang dimiliki oleh kaum Yahudi dan Nasrani, mereka akan beriman dan melaksanakan perintah yang tertera dalam kitab suci itu dengan sepatuh-patuhnya. Mereka mengharapkan datangnya seorang rasul untuk membimbing mereka menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat seperti yang dipunyai mereka. Mereka ingin pula mengalami kejayaan seperti yang pernah dialami kedua kaum itu di bawah nabi mereka masing-masing, karena umat di bawah pimpinan nabi pastilah terjamin kebahagiaan dan kejayaannya.
Maqām Ma‘lūm مَقَامٌ مَعْلُوْمٌ (aṣ-Ṣāffāt/37: 164)
Kata maqām berasal dari kata qāma yaqūmu yang berarti berdiri, antonim dari kata julūs (duduk). Maqām berarti tempat berdiri dua telapak kaki. Maqām juga berarti kedudukan, posisi, atau derajat. Kata ini juga diartikan dengan tempat atau lokasi. Maqām ma‘lūm artinya kedudukan yang tertentu sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Sang Maha Pencipta. Masing-masing tidak dapat melampaui batas ketentuan yang telah ditetapkan, karena itu setiap makhluk diciptakan hanya untuk taat dan beribadah kepada-Nya.
Kalimat maqām terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 14 kali, dua kali disandingkan dengan maqām karīm (ad-Dukhān/44: 26, asy-Syu‘arā'/26: 58), sekali dengan maqām amīn (ad-Dukhān/44: 21), dua kali dengan maqām Ibrāhīm (al-Baqarah/2: 125, Āli ‘Imrān/3: 97), sekali dengan maqām maḥmūd (al-Isrā'/17: 79), maqām ma‘lūm (aṣ-Ṣāffāt/37: 164) dan sisanya disandingkan dengan kata rabb dan ḍamīr.
Sedangkan kata ma‘lūm merupakan isim maf‘ūl dari akar kata ‘alima ya‘lamu yang berarti sifat mengetahui sesuatu. Allah memiliki sifat al-‘Alīm, al-‘Alām, al-‘Ālim yang kesemuanya menunjukkan kepada kemahatahuan Allah terhadap alam dan segala isinya. Kalimat yang tersusun dari huruf-huruf ‘ain, lam, dan mim menunjukkan kepada sesuatu objek yang jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. Manusia yang memiliki keahlian mengetahui ilmu agama dengan jelas disebut dengan alim atau ulama. Al-‘Alamah juga artinya tanda untuk mengetahui sesuatu, seperti bendera disebut juga ‘alam, bentuk jamaknya adalah ‘alām. Dalam Al-Qur’an ditemukan banyak sekali ayat-ayat yang menggunakan akar kata yang sama. Dari kata ini juga terbentuk kata al-‘ālam yang berarti semua jenis makhluk yang ada di alam semesta ini atau sesuatu selain Zat Allah. Disebut ‘alam sebagai tanda bagi manusia dalam memahami kebesaran dan keagungan Allah. Tidak ada bentuk mufrad dari kata ‘ālam. Ma‘lūm berarti sesuatu yang telah diketahui dan ditentukan. Kata ini sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia untuk hal-hal yang sudah diketahui yaitu maklum.
Pada ayat di atas, Allah menjelaskan tentang kedudukan malaikat sebagai makhluk Allah. Para malaikat telah mempunyai kedudukan yang tertentu (maqām ma‘lūm). Mereka ini memiliki tugas yang tidak boleh dilebihkan atau dikurangi. Semuanya sudah ditentukan sesuai dengan ketetapan-Nya. Dan kenyataannya, mereka adalah makhluk Allah yang senantiasa taat menjalankan segala perintah-Nya, sedikit pun tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya (at-Taḥrīm/66: 6).
















































