وَقَالُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ ۚ
Wa qālū in hāżā illā siḥrum mubīn(un).
Mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.
Dan mereka berkata dengan nada sinis, “Wahai Muhammad, apa yang engkau tunjukkan ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”
Allah menegaskan bahwa karena kekerasan hati orang-orang yang ingkar tadi, maka tidak akan ada manfaatnya apabila mereka diberi nasihat. Karena jiwa mereka telah dikotori tingkah laku dan perbuatan mereka sendiri.
Bilamana diperlihatkan kepada mereka dalil-dalil dan mukjizat-mukjizat yang menunjukkan kebenaran Nabi, mereka pun menertawakan dan memperolok-olokkannya serta menuduh Nabi sebagai seorang tukang sihir yang telah memperdaya pikiran mereka dan ingin menjauhkan mereka dari sembahan-sembahan nenek moyang mereka. Mereka juga mengatakan bahwa segala dalil-dalil kenabian yang beliau sampaikan dipandang sebagai permainan sihir. Mereka mengatakan bahwa semua bukti-bukti kebenaran yang dibawa Nabi itu tidak ada artinya sama sekali. Oleh karena itu, mereka menghindari seruan Nabi dan tetap berpegang kepada agama nenek moyang yang sudah dianut berabad-abad.
Ṭīn Lāzib طِيْنٍ لَازِبٍ (aṣ-Ṣāffāt/37: 11)
Aṭ-Ṭīn artinya tanah yang bercampur air, sedangkan al-lāzib artinya sesuatu yang menempel dengan yang lain. Pernyataan ini adalah satu fase dari fase-fase penciptaan Nabi Adam. Fase berikutnya adalah fase tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk(Hama' masnūn). Fase terakhir adalah fase “Tembikar”(ṣalṣāl kalfakhkhār). Setelah itu Allah menghembuskan roh kepadanya.

