اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ ࣖ
Illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn(a).
kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya).
Mereka dibinasakan oleh Allah, kecuali hamba-hamba Allah yang disucikan dari dosa. Mereka diselamatkan dari siksa dengan rahmat Allah karena mengikuti ajakan para rasul dan meminta ampunan atas kesalahan mereka.
Pada ayat ini Allah menyerukan kepada Rasulullah saw dan umatnya untuk memperhatikan nasib kaum-kaum yang mendustakan rasul-rasul itu. Bekas-bekas kehancuran mereka itu masih dapat disaksikan berupa peninggalan purbakala. Dengan memperhatikan sejarah umat dahulu, mereka akan memperoleh pelajaran untuk merenungkan peringatan-peringatan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw.
Tidaklah semua orang yang berada dalam kaum itu mengingkari utusan Tuhan yang datang kepada mereka dan mengalami siksaan sebagai balasan terhadap keingkaran kaum itu. Tetapi di antara mereka terdapat hamba-hamba Allah yang beriman kepada-Nya dengan setulus hati beramal saleh, menaati segala perintah dan larangan-Nya. Mereka diselamatkan dari siksaan dan dianugerahi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Akṡar al-Awwalīn أَكْثَرُ اْلأَوَّلِيْنَ (aṣ-Ṣāffāt/37: 71)
Akṡar al-awwalīn terdiri dari dua kata, akṡar yang berarti lebih banyak, kebanyakan, atau mayoritas, dan al-awwalīn yang berarti para pendahulu atau orang-orang sebelumnya. Dengan demikian, akṡar al-awwalīn bermakna kebanyakan orang-orang terdahulu. Dalam konteks ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa kebanyakan orang-orang terdahulu, yaitu orang-orang yang hidup sebelum kemunculan suku Quraisy, adalah orang-orang yang sesat karena menolak kebenaran. Padahal, waktu itu Allah telah mengutus para penyeru kebenaran dan pemberi peringatan di antara mereka.






































