وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۖ
Wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn(a).
Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,
Dan karena kepatuhannya pula Kami abadikan untuk Nabi Ibrahim buah tutur yang indah dan pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian hingga akhir zaman (Lihat Surah asy-Syu ‘ara’/26: 84).
Ayat-ayat ini menerangkan bahwa umat manusia dari berbagai agama (samawi) dan golongan mencintai Nabi Ibrahim sepanjang masa. Penganut agama Yahudi, Nasrani, dan Islam menghormatinya dan memuji namanya, bahkan kaum musyrik Arab mengakui bahwa agama mereka juga mengikuti agama Islam (Ibrahim).
Demikianlah Allah memenuhi permohonan Nabi Ibrahim ketika berdoa:
وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ ٨٤ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ وَّرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيْمِ ۙ ٨٥ (الشعراۤء)
Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan. (asy-Syu‘arā'/26: 84-85)
Kemudian Allah memberikan penghargaan kepada Ibrahim bahwa Dia memberikan salam sejahtera kepadanya. Salam sejahtera untuk Ibrahim ini terus hidup di tengah-tengah umat manusia bahkan juga di kalangan malaikat. Dengan demikian, ada tiga pahala yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, yaitu seekor kambing besar yang didatangkan kepadanya sebagai ganti dari anaknya, pengabadian yang memberi keharuman namanya sepanjang masa, dan ucapan salam sejahtera dari Tuhan dan manusia. Begitulah Allah memberikan ganjaran kepada hamba-hamba-Nya yang berbuat kebaikan. Semua ganjaran itu sebagai imbalan ketaatannya melaksanakan perintah Allah.
Ibrahim mencapai prestasi yang tinggi itu karena dorongan iman yang kuat dan keikhlasan ibadahnya kepada Allah sehingga dia termasuk hamba-hamba-Nya yang beriman.
1. Gulām Ḥalīm غُلَامٍ حَلِيْمٍ (aṣ-Ṣāffāt/37: 101)
Gulām terambil dari kata galama-yaglamu-galaman artinya “mulai punya nafsu”. Gulām adalah anak yang sudah mimpi, sudah memasuki usia balig. Ḥalīm terambil dari kata ḥaluma-yaḥlumu-ḥilman yang berarti “santun”. Ḥalīm berarti “yang sangat santun”. Gulām ḥalīm berarti “anak yang sangat santun”. Yang dimaksud adalah Ismail, putera Nabi Ibrahim. Salah satu tanda kesantunannya adalah bahwa ia menerima permintaan ayahnya untuk dikurbankan atas perintah Allah. Akan tetapi, itu hanya sebagai ujian. Karena keikhlasan mereka, Allah menggantinya dengan seekor domba. Dalam Al-Qur’an terdapat pula kata al-ḥulum yang berarti tanda masuk usia balig. Kata itu terambil dari ḥalama-yaḥlumu-ḥulman ‘mimpi’ tanda masuk balig. Misalnya Surah an-Nūr/24: 59, “Maka apabila anak-anak kalian sudah sampai mimpi (balig)…”
2. Tallahū li al-Jabīn تَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ (aṣ-Ṣāffāt/37: 103)
Kata yang berasal dari talla-yatallu-tallan ini mempunyai arti “mem-baringkannya di atas lehernya di tempat yang agak tinggi”. Al-Jabīn adalah “pelipis”. Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim membaringkan Ismail puteranya di atas tempat yang agak ketinggian. Ia letakkan leher anak itu di atasnya, dan ia baringkan di atas pelipisnya. Anak itu siap untuk disembelih. Waktu itulah Allah memanggil Nabi Ibrahim bahwa ia telah melaksanakan perintah dengan baik,















































