وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
Wa fadaināhu biżibḥin ‘aẓīm(in).
Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.650)
Dan ketika Nabi Ibrahim dan anaknya membuktikan keteguhan dan ketulusan mereka dalam menerima ujian Allah, Kami tebus anak itu dengan seekor domba sembelihan yang besar.
Pada ayat ini ditegaskan bahwa apa yang dialami Ibrahim dan puteranya itu merupakan batu ujian yang amat berat. Memang hak Allah untuk menguji hamba yang dikehendaki-Nya dengan bentuk ujian yang dipilih-Nya berupa beban dan kewajiban yang berat. Bila ujian itu telah ditetapkan, tidak seorang pun yang dapat menolak dan menghindarinya. Di balik cobaan-cobaan yang berat itu, tentu terdapat hikmah dan rahasia yang tidak terjangkau oleh pikiran manusia.
Ismail yang semula dijadikan kurban untuk menguji ketaatan Ibrahim, diganti Allah dengan seekor domba besar yang putih bersih dan tidak ada cacatnya. Peristiwa penyembelihan kambing oleh Nabi Ibrahim ini yang menjadi dasar ibadah kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah, dilanjutkan oleh syariat Nabi Muhammad. Ibadah kurban ini dilaksanakan pada hari raya haji/raya kurban atau pada hari-hari tasyriq, yakni tiga hari berturut-turut sesudah hari raya kurban, tanggal 11, 12, 13 Zulhijah.
Hewan kurban terdiri dari binatang-binatang ternak seperti unta, sapi, kerbau, dan kambing. Diisyaratkan binatang kurban itu tidak cacat badannya, tidak sakit, dan cukup umur. Menyembelih binatang untuk kurban ini hukumnya sunnah muakkadah(sunah yang ditekankan).
Firman Allah:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢ (الكوثر)
Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). (al-Kauṡar/108: 2)
Dengan disyariatkannya ibadah kurban dalam agama Islam, maka peristiwa Ibrahim menyembelih anaknya akan tetap dikenang selama-lamanya dan diikuti oleh umatnya. Ibadah kurban juga menyemarakkan agama Islam karena daging-daging kurban itu dibagi-bagikan kepada masyarakat terutama kepada fakir miskin.
1. Gulām Ḥalīm غُلَامٍ حَلِيْمٍ (aṣ-Ṣāffāt/37: 101)
Gulām terambil dari kata galama-yaglamu-galaman artinya “mulai punya nafsu”. Gulām adalah anak yang sudah mimpi, sudah memasuki usia balig. Ḥalīm terambil dari kata ḥaluma-yaḥlumu-ḥilman yang berarti “santun”. Ḥalīm berarti “yang sangat santun”. Gulām ḥalīm berarti “anak yang sangat santun”. Yang dimaksud adalah Ismail, putera Nabi Ibrahim. Salah satu tanda kesantunannya adalah bahwa ia menerima permintaan ayahnya untuk dikurbankan atas perintah Allah. Akan tetapi, itu hanya sebagai ujian. Karena keikhlasan mereka, Allah menggantinya dengan seekor domba. Dalam Al-Qur’an terdapat pula kata al-ḥulum yang berarti tanda masuk usia balig. Kata itu terambil dari ḥalama-yaḥlumu-ḥulman ‘mimpi’ tanda masuk balig. Misalnya Surah an-Nūr/24: 59, “Maka apabila anak-anak kalian sudah sampai mimpi (balig)…”
2. Tallahū li al-Jabīn تَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ (aṣ-Ṣāffāt/37: 103)
Kata yang berasal dari talla-yatallu-tallan ini mempunyai arti “mem-baringkannya di atas lehernya di tempat yang agak tinggi”. Al-Jabīn adalah “pelipis”. Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim membaringkan Ismail puteranya di atas tempat yang agak ketinggian. Ia letakkan leher anak itu di atasnya, dan ia baringkan di atas pelipisnya. Anak itu siap untuk disembelih. Waktu itulah Allah memanggil Nabi Ibrahim bahwa ia telah melaksanakan perintah dengan baik,














































