فَاِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَاۤءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِيْنَ
Fa iżā nazala bisāḥatihim fa sā'a ṣabāḥul-munżarīn(a).
Apabila turun (siksaan itu) di halaman mereka, sangat buruklah pagi hari bagi orang-orang yang diperingatkan itu.
Maka sungguh, apabila azab itu benar-benar turun di halaman atau pekarangan rumah mereka, maka sangat buruklah pagi hari tersebut bagi orang-orang yang diperingatkan itu. Mereka menyaksikan azab itu tetapi tidak mampu menyelamatkan diri dan harta mereka. Itulah hari kekalahan mereka.
Setelah orang-orang kafir itu diancam kekalahan di dunia, supaya mereka beriman, mereka diancam dengan azab akhirat. Karena keingkaran atau karena tidak percaya adanya azab akhirat itu, mereka menantang Nabi saw agar menyegerakan terjadinya azab akhirat itu waktu di dunia ini juga. Untuk menjawab tantangan itu, Allah bertanya apakah betul-betul mereka menginginkan azab akhirat itu disegerakan. Allah menyatakan bahwa bila azab akhirat itu disegerakan dan diturunkan ke halaman rumah mereka, maka malapetaka yang menimpa akan tak terkirakan. Yaitu datangnya malapetaka itu pada pagi hari, yakni di saat orang-orang yang diancam itu masih ingin menambah tidurnya menjelang matahari terbit, sehingga mereka belum siap menghadapinya.
Hebatnya malapetaka pagi hari dapat diambil contohnya dari serangan Nabi saw terhadap Khaibar di waktu subuh yang mengakibatkan jatuhnya benteng itu:
عَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: صَبَحَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ فَلَمَّا خَرَجُوْا بِفُؤُسِهِمْ وَمَسَاحِيْهِم ْ وَرَأَوْا الْجَيْشَ رَجَعُوْا وَهُمْ يَقُوْلُوْنَ: مُحَمَّدٌ وَاللّٰهِ مُحَمَّدٌ وَالْخَمِيْسُ فَقَالَ النَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اللّٰهُ اَكْبَرُ خُرِبَتْ الخْيَبَر اِنَّا اِذَا نَزَلْنَا بِسَاحَةِ قَوْم فَسَاءَ صَبَاحُ المُنْذَ رِيْنَ (رواه البخاري و مسلم )
Dari Anas r.a. bahwa ia berkata, “Rasulullah pada pagi hari berada di Khaibar. Ketika mereka (Yahudi penduduk Khaibar) keluar dengan kampak dan tombak mereka, dan melihat pasukan, mereka lari dan berteriak, ‘Muhammad, demi Allah, Muhammad, dan pasukannya!” Nabi berkata, ‘Allah Mahaagung, Khaibar hancur. Kita bila sampai di halaman mereka, itu adalah subuh yang jelek sekali bagi orang-orang yang diancam itu.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim).
Bisāḥatihim بِسَاحَتِهِمْ (aṣ-Ṣāffāt/37: 177)
Kata bisāḥatihim terambil dari kata sāḥah yang memiliki arti suatu tempat yang luas dan lapang. Turunnya sesuatu di halaman yang sangat luas mengisyaratkan banyaknya yang turun. Bentuk jamaknya adalah sāḥāt. Sāḥat ad-dār berarti halaman rumah. As-Sā'iḥ adalah air yang terus mengalir yang berada di halaman, bentuk jamaknya adalah suyūḥ. Dalam hadis Nabi disebutkan “Mā suqiya bissaiḥi fa fīhi al-‘usyr (Lahan yang dialiri oleh air yang mengalir maka zakatnya adalah sepersepuluh). Kata nazala yang mendahuluinya mengisyaratkan kehebatan dan penguasaan apa yang diturunkan (dalam hal ini siksa) atas siapa-siapa yang berada di sekitar halaman itu.
Kata ini berasal dari kata sāḥa yang berarti melakukan perjalanan di muka bumi (fasīḥū fi al-arḍ). Nabi Isa digelari dengan al-Masīḥ karena beliau senang bepergian, jika malam telah tiba ia melakukan salat sampai tiba waktu subuh. Al-Misyāḥ adalah mereka yang melakukan perjalanan dan melakukan perusakan di muka bumi. Sa'īḥ juga diartikan dengan mereka yang melakukan ibadah puasa dengan menjaga anggota tubuh dari kemaksiatan, diibaratkan dengan mereka yang melakukan perjalanan tanpa makanan (at-Taubah/9: 112, at-Taḥrīm/66: 5).
Ayat ini menjelaskan tentang sikap orang-orang musyrik Mekah yang menantang Muhammad untuk membuktikan kebenaran risalah yang dibawanya agar sesegera mungkin menurunkan azab atau siksa. Ini artinya mereka tidak mempercayai akan adanya siksa Allah. Kemudian Allah menegaskan cepat atau lambat siksa itu pasti akan datang. Apabila siksaan itu turun di halaman (sāḥah) mereka, pasti amat dahsyat bencana tersebut dan amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. Siksa dan bencana yang menimpa mereka digambarkan seperti serangan tentara yang menghancurkan kampung halaman mereka. Mereka diberikan peringatan untuk menyerah tetapi tidak menghiraukannya. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk mempertahankan dan menyelamatkan diri mereka. Mereka akan mengalami kehancuran yang pedih.
















































