اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ
Innahū min ‘ibādinal-mu'minīn(a).
Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.
Nabi Nuh adalah orang yang berbuat baik karena sungguh, dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman, jujur, dan ikhlas.
Pengabadian nama Nuh dengan sebutan salam sejahtera kepadanya itu merupakan penghormatan kepadanya, dan pembalasan kepadanya atas kebajikan yang diperbuatnya dan perjuangannya dalam menegakkan kalimat tauhid yang tak henti-hentinya, siang dan malam, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi selama ratusan tahun. Hal itu juga sebagai imbalan atas kesabarannya, dalam menahan derita lahir dan batin selama menyampaikan risalah di tengah-tengah kaumnya.
Yang mendorong Nabi Nuh bekerja keras membimbing kaumnya adalah kemurnian dan keikhlasan pengabdiannya kepada Allah disertai keteguhan iman dalam jiwanya. Oleh karena itu, Allah menyatakan bahwa dia benar-benar hamba-Nya yang penuh iman. Penonjolan iman pada pribadi Nuh sebagai rasul yang mendapat pujian adalah untuk menunjukkan arti yang besar terhadap iman itu karena dia merupakan modal dari segala amal perbuatan kebajikan.
Adapun kaum Nuh yang lain, yang tidak mau beriman kepada agama tauhid yang disampaikan kepada mereka, dibinasakan oleh topan dan banjir besar hingga tak seorang pun di antara mereka yang tinggal dan tak ada pula bekas peninggalan mereka yang dikenang. Mereka lenyap dari catatan sejarah manusia.
Al-Mujībūn الْمُجِيْبُوْن َ (aṣ-Ṣāffāt/37: 75)
Secara kebahasaan, al-mujībūn yang merupakan bentuk jamak (plural) dari al-mujīb bermakna yang menjawab atau yang memperkenankan. Dalam konteks ayat di atas, al-mujībūn dialamatkan kepada Allah sebagai Zat yang mengabulkan seruan doa Nabi Nuh. Diceritakan, ketika Nabi Nuh merasa yakin bahwa kaumnya tidak ada harapan lagi untuk beriman kepada Allah, maka beliau berdoa kepada Allah supaya menurunkan azab kepada mereka. Menjawab seruan doa Nabi Nuh itu, Allah swt menyatakan, “Sesungguhnya Nuh telah menyeru kepada Kami; maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami).” Allah pun lalu menurunkan azab kepada mereka, kecuali pengikut setia Nabi Nuh. Allah menegaskan, “Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar.”















































