قَالُوْا بَلْ لَّمْ تَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَۚ
Qālū bal lam takūnū mu'minīn(a).
(Pemimpin) mereka menjawab, “(Tidak,) bahkan kamulah yang tidak (mau) menjadi orang mukmin.
Para pemimpin mereka enggan disalahkan. Mereka menjawab, “Tidak, bahkan kamu sendiri-lah yang sejak dahulu tidak ingin menjadi orang mukmin.
Kemudian Allah menerangkan penolakan pemimpin mereka terhadap tuduhan tersebut. Para pemimpin itu menyatakan bahwa mereka tidak menyesatkan orang itu. Para pengikut sendirilah yang karena tabiatnya, menjadi kafir dan melakukan perbuatan syirik dan maksiat. Mereka mempersekutukan Allah dengan berhala dan patung dan berbuat macam-macam dosa yang menjadikan hatinya tertutup sehingga tidak lagi mengetahui jalan yang benar lagi baik.
Selanjutnya pemimpin-pemimpin itu membantah bahwa mereka memiliki kekuasaan atas pengikut-pengikutnya itu, menyesatkan dan mengkafirkannya serta tidak pernah menghalangi mereka menentukan pilihan, mana perbuatan yang buruk dan mana perbuatan yang baik. Tetapi kecenderungan pengikut-pengikut itu sendiri yang menyebabkan mereka berbuat kekafiran dan kemaksiatan.
Ṭāgīn طَاغِيْن (aṣ-Ṣāffāt/37: 30)
Ṭāgīn berasal dari kata ṭugyan yang berarti melampaui batas dalam keburukan. Dari kata ini lahir kata ṭāgūt yang bermakna segala sesuatu yang disembah selain Allah, seperti setan, dajjal, tukang sihir, diktator bertangan besi, dan lain-lain. Dalam ayat ini, para pemimpin kaum musyrik menolak tuduhan pengikut-pengikutnya bahwa mereka telah menyesatkan kaumnya. Mereka mengakui bahwa mereka tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kaumnya, tetapi kaumnya sendirilah yang memilih kesesatan karena tabiat mereka yang terlalu melampaui batas dalam berbagai perbuatan buruk.













































