فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ
Falammā aslamā wa tallahū lil-jabīn(i).
Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah),
Maka ketika keduanya telah berserah diri, patuh, dan bertawakal kepada Allah, dia pun membaringkan anaknya atas pelipis-nya ke tanah agar tidak melihat wajah anaknya saat dia menyembelihnya.
Tatkala keduanya sudah pasrah kepada Tuhan dan tunduk atas segala kehendak-Nya, kemudian Ismail berlutut dan menelungkupkan mukanya ke tanah sehingga Ibrahim tidak melihat lagi wajah anaknya itu. Ismail sengaja melakukan hal itu agar ayahnya tidak melihat wajahnya. Dengan demikian Nabi Ibrahim bisa dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Nabi Ibrahim mulai menghunus pisaunya untuk menyembelihnya. Pada waktu itu, datanglah suara malaikat dari belakangnya, yang diutus kepada Ibrahim, mengatakan bahwa tujuan perintah Allah melalui mimpi itu sudah terlaksana dengan ditelungkupkannya Ismail untuk disembelih. Tindakan Ibrahim itu merupakan ketaatan yang tulus ikhlas kepada perintah dan ketentuan Allah. Sesudah malaikat menyampaikan wahyu itu, maka keduanya bergembira dan mengucapkan syukur kepada Allah yang menganugerahkan kenikmatan dan kekuatan jiwa untuk menghadapi ujian yang berat itu. Kepada keduanya Allah memberikan pahala dan ganjaran yang setimpal karena telah menunjukkan ketaatan yang tulus ikhlas. Mereka dapat mengatasi perasaan kebapakan semata-mata untuk menjunjung perintah Allah.
Menurut riwayat Ahmad dari Ibnu ‘Abbās, tatkala Ibrahim diperintahkan untuk melakukan ibadah sa‘i, datanglah setan menggoda. Setan mencoba berlomba dengannya, tetapi Ibrahim berhasil mendahuluinya sampai ke Jumrah Aqabah. Setan menggodanya lagi, tetapi Ibrahim melemparinya dengan batu tujuh kali hingga dia lari. Pada waktu jumratul wusṭa datang lagi setan menggodanya, tetapi dilempari oleh Ibrahim tujuh kali. Kemudian Ibrahim menyuruh anaknya menelungkupkan mukanya untuk segera disembelih. Ismail waktu itu sedang mengenakan baju gamis (panjang) putih. Dia berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku, tidak ada kain untuk mengafaniku kecuali baju gamisku ini, maka lepaskanlah supaya kamu dengan gamisku dapat mengafaniku.” Maka Ibrahim mulai menanggalkan baju gamis itu, tapi pada saat itulah ada suara di belakang menyerunya, “Hai Ibrahim, kamu sudah melaksanakan dengan jujur mimpimu.” Ibrahim segera berpaling, tiba-tiba seekor domba putih ada di hadapannya.
1. Gulām Ḥalīm غُلَامٍ حَلِيْمٍ (aṣ-Ṣāffāt/37: 101)
Gulām terambil dari kata galama-yaglamu-galaman artinya “mulai punya nafsu”. Gulām adalah anak yang sudah mimpi, sudah memasuki usia balig. Ḥalīm terambil dari kata ḥaluma-yaḥlumu-ḥilman yang berarti “santun”. Ḥalīm berarti “yang sangat santun”. Gulām ḥalīm berarti “anak yang sangat santun”. Yang dimaksud adalah Ismail, putera Nabi Ibrahim. Salah satu tanda kesantunannya adalah bahwa ia menerima permintaan ayahnya untuk dikurbankan atas perintah Allah. Akan tetapi, itu hanya sebagai ujian. Karena keikhlasan mereka, Allah menggantinya dengan seekor domba. Dalam Al-Qur’an terdapat pula kata al-ḥulum yang berarti tanda masuk usia balig. Kata itu terambil dari ḥalama-yaḥlumu-ḥulman ‘mimpi’ tanda masuk balig. Misalnya Surah an-Nūr/24: 59, “Maka apabila anak-anak kalian sudah sampai mimpi (balig)…”
2. Tallahū li al-Jabīn تَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ (aṣ-Ṣāffāt/37: 103)
Kata yang berasal dari talla-yatallu-tallan ini mempunyai arti “mem-baringkannya di atas lehernya di tempat yang agak tinggi”. Al-Jabīn adalah “pelipis”. Maksudnya adalah bahwa Nabi Ibrahim membaringkan Ismail puteranya di atas tempat yang agak ketinggian. Ia letakkan leher anak itu di atasnya, dan ia baringkan di atas pelipisnya. Anak itu siap untuk disembelih. Waktu itulah Allah memanggil Nabi Ibrahim bahwa ia telah melaksanakan perintah dengan baik,















































