فَاِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ ۚ
Fa in ‘aṣauka faqul innī barī'um mimmā ta‘malūn(a).
Jika mereka mendurhakaimu, katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Teruskanlah berdakwah, wahai rasul. Kemudian jika engkau telah berdakwah kepada mereka, tetapi mereka, baik itu keluargamu, orang-orang kafir, atau para pengikutmu, mendurhakaimu dan tidak mengikuti perintahmu, maka katakanlah wahai Rasul, kepada mereka, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan. Semua itu menjadi tanggung jawabmu di hadapan Allah.”
Allah memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad dalam melakukan dakwahnya, yaitu jika keluarga dekat, karib kerabat tidak mengindahkan seruannya, hendaklah ia mengatakan kepada mereka bahwa ia berlepas diri dari kedurhakaan dan keingkaran mereka. Allah mengancam sikap dan tindakan mereka itu dengan azab yang sangat pedih sebagai balasan dari perbuatan mereka. Tidak seorang pun yang dapat melepaskan diri dari azab Allah pada hari akhirat. Harta, anak, dan keluarga tidak lagi berguna sedikit pun untuk melepaskan diri dari azab Allah. Hanya orang yang menghadap Allah dengan iman dan amal salehlah yang dapat terhindar dari azab Allah.
1. ‘Asyīrataka عَشِيْرَتَكَ (asy-Syu’arā’/26: 214)
Kata ‘asyīrah (keluarga) terbentuk dari kata ‘asyara-ya’syiru-’asy rah. Kata ini terambil dari kata ‘asyrah yang berarti bilangan sepuluh. Penyebutan keluarga dalam bahasa Arab dengan kata ‘asyīrah ini memiliki relevansi. Disebut ‘asyīrah ar-rajuli (keluarga seseorang) karena dengan keluarga itu ia memperbanyak diri. Maksudnya, keluarga baginya memiliki kedudukan bilangan yang sempurna, yaitu ‘asyrah atau sepuluh. Jadi, kata ‘asyīrah digunakan untuk menyebut sekelompok kerabat yang dengannya seseorang memperbanyak diri. Dari kata ini diambil kata ‘asyīr yang berarti suami atau istri, serta setiap kerabat baik dekat atau jauh. Dari kata itu pula diambil kata mu’āsyarah yang berarti pergaulan dalam rumah tangga, sebagaimana di dalam firman Allah Ta’ala, “Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut....” (an-Nisā’/4: 19) Maksud kata ‘asyīrah di dalam surah ini adalah keluarga.
2. Taqallubaka تَقَلُّبَكَ (asy-Syu’arā’/26: 219)
Kata taqallub terbentuk dari kata taqallaba-yataqallabu-taqall uban yang berarti berbolak-balik. Ia terambil dari kata qalaba-yaqlibu-qalban yang berarti membalik. Kalimat qalaba al-arḍa berarti membalik tanah (memba-jak). Kata qalbun secara spiritual berarti hati, dan ia disebut demikian karena hati tidak bisa berada dalam satu kondisi. Kata qalbun secara fisik berarti jantung, disebut demikian karena jantung selalu berdenyut-denyut. Kata taqallub berikut derivasinya disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak 7 kali, dan keseluruhannya berkisar pada makna menjelajah dan berbolak-balik. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi.” (al-Baqarah/2: 144) Maksud kata taqallab di sini adalah gerak naik turun di dalam sujud.





























