Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 215 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 215 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 376 •  Quarter Hizb 38.25 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ

Wakhfiḍ janāḥaka limanittaba‘aka minal-mu'minīn(a).

Rendahkanlah hatimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang mukmin.

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 215
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu. Jangan kamu bertindak kasar terhadap mereka, karena mereka akan lari darimu, padahal mereka adalah pembantumu yang utama dalam berdakwah. Perjalanan dakwah tidak selamanya mulus. Ada banyak rintangan, antara lain pembelotan dari pengikut.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar berlaku ramah dan rendah hati kepada orang-orang yang baru saja beriman dan menerima seruannya, jangan sekali-kali berlaku sombong, agar hati mereka tertarik, rasa kasih sayang sesama mukmin terjalin, dan mereka juga mencintainya. Dengan demikian, dakwah hendaknya selalu dilakukan dengan rendah hati dan etika yang baik. Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِ يْنَ ١٥٩

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (Āli ‘Imrān/3: 159)

Isi Kandungan Kosakata

1. ‘Asyīrataka عَشِيْرَتَكَ (asy-Syu’arā’/26: 214)

Kata ‘asyīrah (keluarga) terbentuk dari kata ‘asyara-ya’syiru-’asy rah. Kata ini terambil dari kata ‘asyrah yang berarti bilangan sepuluh. Penyebutan keluarga dalam bahasa Arab dengan kata ‘asyīrah ini memiliki relevansi. Disebut ‘asyīrah ar-rajuli (keluarga seseorang) karena dengan keluarga itu ia memperbanyak diri. Maksudnya, keluarga baginya memiliki kedudukan bilangan yang sempurna, yaitu ‘asyrah atau sepuluh. Jadi, kata ‘asyīrah digunakan untuk menyebut sekelompok kerabat yang dengannya seseorang memperbanyak diri. Dari kata ini diambil kata ‘asyīr yang berarti suami atau istri, serta setiap kerabat baik dekat atau jauh. Dari kata itu pula diambil kata mu’āsyarah yang berarti pergaulan dalam rumah tangga, sebagaimana di dalam firman Allah Ta’ala, “Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut....” (an-Nisā’/4: 19) Maksud kata ‘asyīrah di dalam surah ini adalah keluarga.

2. Taqallubaka تَقَلُّبَكَ (asy-Syu’arā’/26: 219)

Kata taqallub terbentuk dari kata taqallaba-yataqallabu-taqall uban yang berarti berbolak-balik. Ia terambil dari kata qalaba-yaqlibu-qalban yang berarti membalik. Kalimat qalaba al-arḍa berarti membalik tanah (memba-jak). Kata qalbun secara spiritual berarti hati, dan ia disebut demikian karena hati tidak bisa berada dalam satu kondisi. Kata qalbun secara fisik berarti jantung, disebut demikian karena jantung selalu berdenyut-denyut. Kata taqallub berikut derivasinya disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak 7 kali, dan keseluruhannya berkisar pada makna menjelajah dan berbolak-balik. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi.” (al-Baqarah/2: 144) Maksud kata taqallab di sini adalah gerak naik turun di dalam sujud.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto