وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَ ۙ
Wa anżir ‘asyīratakal-aqrabīn(a).
Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.
Dan berilah peringatan, wahai Rasul, kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, agar mereka tidak menyekutukan Allah, dan ajaklah mereka ke jalan yang benar. Keluarga adalah lingkaran pertama yang harus menjadi prioritas dakwah. Mengandalkan unsur kekerabatan tidak bisa menolong dari siksa Allah jika mereka masih tetap berbuat syirik.
Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar menyampaikan agama kepada para kerabatnya, dan menyampaikan janji dan ancaman Allah terhadap orang-orang yang mengingkari dan menyekutukan-Nya.
Diriwayat kan oleh al-Bukhārī, Muslim, dan perawi lainnya dari Abū Hurairah bahwa ia berkata, “Tatkala ayat ini turun, Rasulullah lalu memanggil orang-orang Quraisy untuk berkumpul di Bukit Ṡafa. Di antara mereka ada yang datang sendiri, dan ada yang mengirimkan wakilnya. Setelah berkumpul, lalu Rasulullah berkhutbah, ‘Wahai kaum Quraisy, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat kepadamu. Wahai sekalian Bani Ka’ab bin Lu’ai, selamatkanlah dirimu dari api neraka, maka sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat kepadamu. Hai Bani Quṣai, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat kepadamu. Hai Bani Abdul Manāf, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesanggupan untuk memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat kepadamu, ketahuilah aku hanya dapat menghubungi karibku di dunia ini saja’.”
Ayat ini diturunkan pada awal kedatangan Islam, ketika Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwahnya. Beliau mula-mula diperintahkan Allah agar menyeru keluarganya yang terdekat. Setelah itu secara berangsur-angsur menyeru masyarakat sekitarnya, dan akhirnya kepada seluruh manusia.
1. ‘Asyīrataka عَشِيْرَتَكَ (asy-Syu’arā’/26: 214)
Kata ‘asyīrah (keluarga) terbentuk dari kata ‘asyara-ya’syiru-’asy rah. Kata ini terambil dari kata ‘asyrah yang berarti bilangan sepuluh. Penyebutan keluarga dalam bahasa Arab dengan kata ‘asyīrah ini memiliki relevansi. Disebut ‘asyīrah ar-rajuli (keluarga seseorang) karena dengan keluarga itu ia memperbanyak diri. Maksudnya, keluarga baginya memiliki kedudukan bilangan yang sempurna, yaitu ‘asyrah atau sepuluh. Jadi, kata ‘asyīrah digunakan untuk menyebut sekelompok kerabat yang dengannya seseorang memperbanyak diri. Dari kata ini diambil kata ‘asyīr yang berarti suami atau istri, serta setiap kerabat baik dekat atau jauh. Dari kata itu pula diambil kata mu’āsyarah yang berarti pergaulan dalam rumah tangga, sebagaimana di dalam firman Allah Ta’ala, “Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut....” (an-Nisā’/4: 19) Maksud kata ‘asyīrah di dalam surah ini adalah keluarga.
2. Taqallubaka تَقَلُّبَكَ (asy-Syu’arā’/26: 219)
Kata taqallub terbentuk dari kata taqallaba-yataqallabu-taqall uban yang berarti berbolak-balik. Ia terambil dari kata qalaba-yaqlibu-qalban yang berarti membalik. Kalimat qalaba al-arḍa berarti membalik tanah (memba-jak). Kata qalbun secara spiritual berarti hati, dan ia disebut demikian karena hati tidak bisa berada dalam satu kondisi. Kata qalbun secara fisik berarti jantung, disebut demikian karena jantung selalu berdenyut-denyut. Kata taqallub berikut derivasinya disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak 7 kali, dan keseluruhannya berkisar pada makna menjelajah dan berbolak-balik. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi.” (al-Baqarah/2: 144) Maksud kata taqallab di sini adalah gerak naik turun di dalam sujud.




































