فَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ فَتَكُوْنَ مِنَ الْمُعَذَّبِيْنَ
Falā tad‘u ma‘allāhi ilāhan ākhara fa takūna minal-mu‘ażżabīn(a).
Maka, janganlah engkau (Nabi Muhammad) menyembah Tuhan lain bersama Allah. Nanti kamu termasuk orang-orang yang diazab.
Allah mengingatkan Nabi Muhammad, “Maka janganlah sekali-kali kamu menyeru tuhan selain Allah, karena nanti pada hari Kiamat, kamu termasuk orang-orang yang diazab karena dosa syirik itu tidak akan diampuni oleh Allah jika tidak bertobat ketika di dunia.
Ayat ini melarang Nabi Muhammad dan umatnya menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Mereka diperintahkan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa, ikhlas dalam ketaatan dan ketundukan kepada-Nya. Menyembah tuhan-tuhan yang lain di samping menyembah Allah menjadi penyebab seseorang ditimpa azab neraka.
1. ‘Asyīrataka عَشِيْرَتَكَ (asy-Syu’arā’/26: 214)
Kata ‘asyīrah (keluarga) terbentuk dari kata ‘asyara-ya’syiru-’asy rah. Kata ini terambil dari kata ‘asyrah yang berarti bilangan sepuluh. Penyebutan keluarga dalam bahasa Arab dengan kata ‘asyīrah ini memiliki relevansi. Disebut ‘asyīrah ar-rajuli (keluarga seseorang) karena dengan keluarga itu ia memperbanyak diri. Maksudnya, keluarga baginya memiliki kedudukan bilangan yang sempurna, yaitu ‘asyrah atau sepuluh. Jadi, kata ‘asyīrah digunakan untuk menyebut sekelompok kerabat yang dengannya seseorang memperbanyak diri. Dari kata ini diambil kata ‘asyīr yang berarti suami atau istri, serta setiap kerabat baik dekat atau jauh. Dari kata itu pula diambil kata mu’āsyarah yang berarti pergaulan dalam rumah tangga, sebagaimana di dalam firman Allah Ta’ala, “Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut....” (an-Nisā’/4: 19) Maksud kata ‘asyīrah di dalam surah ini adalah keluarga.
2. Taqallubaka تَقَلُّبَكَ (asy-Syu’arā’/26: 219)
Kata taqallub terbentuk dari kata taqallaba-yataqallabu-taqall uban yang berarti berbolak-balik. Ia terambil dari kata qalaba-yaqlibu-qalban yang berarti membalik. Kalimat qalaba al-arḍa berarti membalik tanah (memba-jak). Kata qalbun secara spiritual berarti hati, dan ia disebut demikian karena hati tidak bisa berada dalam satu kondisi. Kata qalbun secara fisik berarti jantung, disebut demikian karena jantung selalu berdenyut-denyut. Kata taqallub berikut derivasinya disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak 7 kali, dan keseluruhannya berkisar pada makna menjelajah dan berbolak-balik. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi.” (al-Baqarah/2: 144) Maksud kata taqallab di sini adalah gerak naik turun di dalam sujud.



































