Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 128 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 128 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 372 •  Quarter Hizb 38 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

اَتَبْنُوْنَ بِكُلِّ رِيْعٍ اٰيَةً تَعْبَثُوْنَ ۙ

Atabnūna bikulli rī‘in āyatan ta‘baṡūn(a).

Apakah kamu mendirikan istana di setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati?

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 128
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Nabi Hud mengecam perilaku buruk kaumnya dan berkata, “Apakah kamu mendirikan istana-istana pada setiap tanah yang tinggi hanya untuk kemegahan dan kepongahan tanpa ditempati? Sungguh hal ini keterlaluan.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Hud mempertanyakan kebiasaan kaumnya mendirikan bangunan di puncak-puncak bukit atau di tiap jalan semata-mata untuk memperlihatkan kehebatan, kemegahan, dan kekayaan. Kenapa mereka tidak membangunnya berdasarkan kemanfaatan dan tujuan positif lainnya.

Kaum ‘Ād memang telah memiliki peradaban yang tinggi menurut ukuran zamannya. Mereka telah sanggup mendirikan negara yang kuat, daerah-daerah dan kota-kota yang teratur, beserta bangunan-bangunannya yang megah. Pembangunan itu bukanlah untuk tujuan yang baik, tetapi semata-mata untuk memperlihatkan kekayaan mereka.

Belum ada ahli sejarah yang dapat memastikan masa kejayaan kerajaan kaum ‘Ād itu. Ada yang memperkirakan kerajaan kaum ‘Ād semasa dengan kerajaan Babilonia, yaitu kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi. Akan tetapi, hal ini tidak sesuai dengan kenyataan karena Nabi Hud diutus kepada kaum Ād sebelum Nabi Ibrahim diutus ke Babilonia, yaitu pada zaman Nebukadnezar.

Isi Kandungan Kosakata

1. Rī’in رِيْعٍ (asy-Syu’arā’/26: 128)

Kata rī’in, dalam qira’at ‘Āṣim al-Jahdarī, dibaca rai’in dengan fatḥah huruf ra’. Rī’in artinya kawasan dataran tinggi, kebalikan dari dataran rendah. Kata āyah dalam firman Allah ini bisa berarti bangunan megah yang memperoleh kemasyhuran sebagai tanda kebesaran. Umumnya orang kaya memilih dan menetapkan kawasan dataran tinggi sebagai kapling tempat membangun rumahnya yang megah untuk menunjukkan dan membanggakan kekayaan. Kebiasaan seperti itulah yang kemudian diangkat menjadi pertanyaan dalam ayat ini, pertanyaan yang terkait dengan suatu realitas sebenarnya.

2. Baṭasytum بَطَشْتُمْ (asy-Syu’arā’/26: 130)

Kata ini merupakan fi’il māḍī (kata kerja lampau), baṭasya-yabṭisyu- baṭsy(an). Dengan berbagai derivasinya disebutkan tidak kurang dari 11 kali dalam Al-Qur’an. Pengertiannya berbeda, tergantung siyāq al-kalām (alur pembicaraan) atau qarīnah (indikator)nya. Dalam ayat ini, baṭasytum berarti berjalan, menyerbu, menyiksa. Penyebutannya di sini memperlihatkan ucapan Nabi Hud kepada kaumnya (kaum ‘Ad) yang memiliki kekuatan fisik, apabila melakukan penyerbuan, mereka melakukannya dengan dahsyat dan sewenang-wenang. Kalau melakukan penyiksaan, mereka melakukannya dengan amat biadab dan angkuh.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto