كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوْطِ ِۨالْمُرْسَلِيْنَ ۖ
Każżabat qaumu lūṭinil-mursalīn(a).
Kaum Lut telah mendustakan para rasul.
Nabi Luth adalah keponakan Nabi Ibrahim. Kaumnya mendiami negeri Sodom, di dataran rendah Yordania. Mereka melakukan kejahatan seksual yaitu sodomi. Kaum Luth telah mendustakan para rasul. Setiap rasul dan penggiat kebenaran pasti mendapatkan tantangan dari banyak pihak. Nabi Luth menyeru kaumnya untuk kembali ke jalan yang benar.
Pada ayat ini diterangkan bahwa kaum Nabi Lut telah mendustakan seruan Nabi Lut yang diutus Allah kepada mereka. Nabi Lut menyeru mereka agar bertakwa kepada Allah, Tuhan Pencipta mereka semuanya.
Nabi Lut adalah anak Haran bin Terah, saudara Nabi Ibrahim. Oleh karena itu, Lut adalah kemenakan Nabi Ibrahim. Lut beriman kepada apa yang disampaikan pamannya, Ibrahim, sebagaimana disebut dalam firman Allah:
فَاٰمَنَ لَهٗ لُوْطٌۘ وَقَالَ اِنِّيْ مُهَاجِرٌ اِلٰى رَبِّيْ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ٢٦
Maka Lut membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku; sungguh, Dialah Yang Maha Perkasa, Mahabijaksana.” (al-’Ankabūt/29: 26).
Nabi Lut tinggal bersama Nabi Ibrahim di kota Ur, kemudian pindah bersamanya ke Palestina dan melawat ke Mesir. Dari Mesir ia kembali ke Palestina bersama Ibrahim. Mereka kemudian berpisah, Nabi Lut pergi ke Sodom, sedang Ibrahim tetap di Palestina. Kota Sodom terletak di daerah Yordania sekarang, di pantai Buhairah (danau) Lut. Buhairah Lut ialah di bagian selatan Laut Mati. Jadi kota Sodom tidak berapa jauh dari Baitul Makdis. (Lihat kosakata “Lut”).
1. Al-Qālīn القَالِيْنَ (asy-Syu’arā’/26: 168)
Kata al-qālīn adalah bentuk jamak dari al-qālī yakni orang yang sangat membenci dengan kebencian yang luar biasa, dari fi’il qalā-yaqlū-qalan, qala’an yang berarti sangat benci. Ulama berpendapat bahwa kata tersebut diambil dari kata al-qalwu, yakni pelemparan. Seseorang atau sesuatu yang menjadi objek penderita dari kata tersebut, seakan-akan dilempar terhadap yang bersangkutan. Dari sini kata tersebut diartikan sebagai kebencian yang telah mencapai puncaknya. Ada juga yang menyatakan bahwa kata itu berasal dari kata al-qalyu yang berarti menggoreng, seakan-akan perbuatan itu membakar dan menggoreng hati. Pada dasarnya, kata ini menggambarkan kebencian yang amat besar.
2. ‘Ajūzan fi al-Gābirīn عَجُوْزًا فِى الغَابِرِيْنَ (asy-Syu’arā’/26: 171)
Kata ‘ajūz berarti perempuan tua, dari fi’il ‘ajaza-’ajuza-ya’juzu- ’ujūzan, yang berarti jadi tua perempuan itu. Penyifatan ajūz kepada istri Nabi Lut yang durhaka merupakan penghinaan terhadapnya karena sebagian perempuan walaupun telah mencapai usia lanjut, tetap enggan dinamai perempuan tua. Sedangkan kata al-gābirīn terambil dari kata gabara-yagburu-guburan, yang berarti masa yang lalu, diam, tinggal, sesuatu yang telah berlalu, atau diam bertempat tinggal setelah ditinggalkan oleh teman atau kendaraan. Kedua makna ini dapat menjadi makna untuk kata yang digunakan ayat ini, yakni istri Nabi Lut a.s, termasuk orang yang diam di tempat tinggalnya, tidak keluar berhijrah atau bahwa ia termasuk salah seorang yang sudah berlalu bersama dengan mereka yang berlalu dan mati terkena siksa.


























