Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 177 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 177 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 374 •  Quarter Hizb 38 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

اِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ

Iż qāla lahum syu‘aibun alā tattaqūn(a).

Ketika Syu‘aib berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 177
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Nabi Syuaib memulai dakwahnya dengan berpesan kepada kaumnya untuk bertakwa. Ketika Nabi Syuaib berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?” Bertakwa adalah pokok pangkal kebaikan segala sesuatu. Inilah anjuran pertama para rasul sebelum masuk pada materi dakwah lainnya kepada kaumnya. Nabi Syuaib memperkenalkan dirinya dan kedudukannya selaku utusan Allah.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa penduduk Madyan, yang disebut juga kabilah Madyan, telah mendustakan Nabi Syuaib yang menyeru mereka agar bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Dalam ayat ini diterangkan bahwa tindakan penduduk Madyan itu sama hukumnya dengan mendustakan para rasul, karena mendustakan seorang rasul sama artinya dengan mendustakan semua rasul yang diutus Allah. Menurut Ibnu Kasir, penduduk Madyan dan Aikah adalah satu kabilah. Hanya di dalam Al-Qur’an kadangkala mereka diungkapkan sebagai penduduk Madyan dan kadangkala disebut sebagai penduduk Aikah.

Kabilah Madyan adalah satu kabilah yang mendiami daerah di sekitar Teluk Aqabah dan tempat sebelah utaranya. Madyan ialah eponim dari nenek moyang mereka, Madyan. Madyan adalah salah seorang putra Nabi Ibrahim. Kehidupan mereka pada waktu itu sejahtera. Mereka berbahagia, dan berkedudukan sebagai saudagar. Kota yang terbesar di daerah Madyan ini pun dinamai pula Madyan. Kota ini terletak di tengah-tengah daerah Madyan di pantai timur Laut Merah segaris lintang dengan Tabuk. Yang dimaksud dengan penduduk Aikah pada ayat di atas adalah penduduk Madyan.

Sebagian mufasir berpendapat bahwa Nabi Syuaib diutus setelah Nabi Musa. Sebagian yang lain mengatakan sebaliknya, yaitu sebelum pengutusan Nabi Musa.

Isi Kandungan Kosakata

1. Aṣḥāb al-Aikah أَصْحَابُ اْلأَيْكَةِ (asy-Syu’arā’/26: 176)

Berbicara tentang “Aṣḥāb al-Aikah” tentu tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang Syuaib dan Madyan. Kata “aikah” umumnya diartikan para mufasir dengan “hutan,” ada pula yang mengartikan “lembah, wadi.” Al-Mu’jam al-Mufaḥras li Alfāẓ al-Qur’ān al-Karīm mengartikan kata aikah sebagai pohon belukar. Tentu letaknya di Madyan, tempat Nabi Syuaib diutus. Aṣḥābul Aikah ialah suatu masyarakat Nabi Syuaib, tempat tinggal mereka di daerah pepohonan yang lebat. Akan tetapi, arti ini tidak begitu penting. Kedua kata ini di dalam al-Qur’an terdapat dalam al-Ḥijr/15: 78, asy-Syu’arā’/26: 176, Ṡād/38: 13 dan Qāf/50: 14.

Dalam Surah al-Ḥijr/15: 78, mereka dilukiskan sebagai orang-orang zalim atau durjana. Ayat yang agak terinci mengenai ini terdapat dalam asy-Syu’arā’/26: 176-191. Dalam ayat-ayat ini disebutkan bahwa para penghuni hutan itu telah mendustakan nabi-nabi mereka, termasuk Nabi Syuaib, yang memperkenalkan diri kepada mereka tanpa mengharapkan imbalan, mengajak bertakwa kepada Allah dan mau menaatinya. Mereka adalah masyarakat pedagang yang suka menipu. Syuaib mengingatkan mereka agar jangan bertindak merugikan orang lain, mengecoh dalam berdagang, memalsukan dagangan dan mempermainkan timbangan dan sukatan. Akan tetapi, mereka berbalik menuduh Syuaib sudah kena sihir, pendusta, dan dia tidak berbeda dengan mereka, manusia biasa. Dia ditantang agar membuktikan kenabiannya dengan menjatuhkan kepingan-kepingan dari langit, seperti halnya dengan Nabi Muhammad yang menghadapi tantangan Quraisy (al-Isrā’/17: 92). Para penghuni hutan itu kemudian mengalami bencana yang membinasakan mereka. (Lihat juga Kosakata “Syuaib” dan “Madyan”)

2. Al-Jibillah al-Awwalīn الْجِبِلَّة الْأَوَّلِيْن (asy-Syu’arā’/26: 184)

Al-Jibillah al-awwalīn artinya umat terdahulu. Akar katanya (jim-ba’-lam) arti dasarnya adalah berkumpulnya sesuatu dan meninggi. Dari sini muncul kata “jabal” artinya gunung. Jika kita mendengar kata gunung maka yang terbenak dalam hati kita ialah sesuatu yang besar, tinggi, kekar. Al-Jabal atau jibill juga diartikan dengan kelompok manusia yang banyak (Lihat Surah Yāsīn/36: 62). Al-Jabal diartikan juga dengan karakter atau sifat yang ada pada seseorang yang sulit untuk diubah sebagaimana sulitnya mengalihkan gunung. Jika dikatakan: Fulan Jabal artinya si Fulan mempunyai pendirian yang kokoh bagaikan gunung.

Ayat ini menjelaskan tentang perintah Nabi Syuaib kepada kaumnya agar mereka bertakwa kepada Allah yang menciptakan mereka dan Yang menciptakan kaum sebelum mereka. Dengan melihat arti dasar dari kata ini bisa dibayangkan bahwa kaum sebelum mereka terdiri dari umat yang banyak dengan perawakan mereka yang besar dan kekar. Mereka mempunyai watak dan karakter yang sulit untuk diubah.

3. Aẓ-Żullah الظُّلَّة (asy-Syu’arā’/26: 189)

Kata aẓ-ẓullah jamaknya ẓulal-ẓilal berarti awan, dari fi’il ẓalla-yaẓallu-ẓalālat an, yang berarti teduh, redup, mendung, berawan. Siksa hari berawan yang disebut dalam ayat 189 Surah asy-Syu’arā’ di atas adalah siksa yang bersumber dari awan berupa guntur dan kilat yang sahut-menyahut, sehingga memorak-porandakan bangunan dan membinasakan orang-orang kafir.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto