Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 178 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 178 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 374 •  Quarter Hizb 38 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ ۙ

Innī lakum rasūlun amīn(un).

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 178
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Nabi Syuaib melanjutkan dakwahnya, “Sungguh, aku adalah rasul kepercayaan Allah yang diutus menyampaikan ajaran agama kepadamu.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Syuaib menyeru penduduk Madyan, seperti yang telah dilakukan oleh para nabi sebelumnya. Ia menerangkan kepada mereka bahwa tugasnya tidaklah untuk mencari harta kekayaan, kekuasaan, atau keuntungan duniawi. Oleh karena itu, ia tidak akan mengambil upah dari mereka untuk seruannya itu. Upahnya akan diberikan Allah yang telah mengutusnya.

Dalam Surah Hūd/11 diterangkan pula bahwa Syuaib mengajak kaumnya agar mereka hanya menyembah Allah. Allah berfirman:

وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗقَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ

Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. (Hūd/11: 84).

Isi Kandungan Kosakata

1. Aṣḥāb al-Aikah أَصْحَابُ اْلأَيْكَةِ (asy-Syu’arā’/26: 176)

Berbicara tentang “Aṣḥāb al-Aikah” tentu tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang Syuaib dan Madyan. Kata “aikah” umumnya diartikan para mufasir dengan “hutan,” ada pula yang mengartikan “lembah, wadi.” Al-Mu’jam al-Mufaḥras li Alfāẓ al-Qur’ān al-Karīm mengartikan kata aikah sebagai pohon belukar. Tentu letaknya di Madyan, tempat Nabi Syuaib diutus. Aṣḥābul Aikah ialah suatu masyarakat Nabi Syuaib, tempat tinggal mereka di daerah pepohonan yang lebat. Akan tetapi, arti ini tidak begitu penting. Kedua kata ini di dalam al-Qur’an terdapat dalam al-Ḥijr/15: 78, asy-Syu’arā’/26: 176, Ṡād/38: 13 dan Qāf/50: 14.

Dalam Surah al-Ḥijr/15: 78, mereka dilukiskan sebagai orang-orang zalim atau durjana. Ayat yang agak terinci mengenai ini terdapat dalam asy-Syu’arā’/26: 176-191. Dalam ayat-ayat ini disebutkan bahwa para penghuni hutan itu telah mendustakan nabi-nabi mereka, termasuk Nabi Syuaib, yang memperkenalkan diri kepada mereka tanpa mengharapkan imbalan, mengajak bertakwa kepada Allah dan mau menaatinya. Mereka adalah masyarakat pedagang yang suka menipu. Syuaib mengingatkan mereka agar jangan bertindak merugikan orang lain, mengecoh dalam berdagang, memalsukan dagangan dan mempermainkan timbangan dan sukatan. Akan tetapi, mereka berbalik menuduh Syuaib sudah kena sihir, pendusta, dan dia tidak berbeda dengan mereka, manusia biasa. Dia ditantang agar membuktikan kenabiannya dengan menjatuhkan kepingan-kepingan dari langit, seperti halnya dengan Nabi Muhammad yang menghadapi tantangan Quraisy (al-Isrā’/17: 92). Para penghuni hutan itu kemudian mengalami bencana yang membinasakan mereka. (Lihat juga Kosakata “Syuaib” dan “Madyan”)

2. Al-Jibillah al-Awwalīn الْجِبِلَّة الْأَوَّلِيْن (asy-Syu’arā’/26: 184)

Al-Jibillah al-awwalīn artinya umat terdahulu. Akar katanya (jim-ba’-lam) arti dasarnya adalah berkumpulnya sesuatu dan meninggi. Dari sini muncul kata “jabal” artinya gunung. Jika kita mendengar kata gunung maka yang terbenak dalam hati kita ialah sesuatu yang besar, tinggi, kekar. Al-Jabal atau jibill juga diartikan dengan kelompok manusia yang banyak (Lihat Surah Yāsīn/36: 62). Al-Jabal diartikan juga dengan karakter atau sifat yang ada pada seseorang yang sulit untuk diubah sebagaimana sulitnya mengalihkan gunung. Jika dikatakan: Fulan Jabal artinya si Fulan mempunyai pendirian yang kokoh bagaikan gunung.

Ayat ini menjelaskan tentang perintah Nabi Syuaib kepada kaumnya agar mereka bertakwa kepada Allah yang menciptakan mereka dan Yang menciptakan kaum sebelum mereka. Dengan melihat arti dasar dari kata ini bisa dibayangkan bahwa kaum sebelum mereka terdiri dari umat yang banyak dengan perawakan mereka yang besar dan kekar. Mereka mempunyai watak dan karakter yang sulit untuk diubah.

3. Aẓ-Żullah الظُّلَّة (asy-Syu’arā’/26: 189)

Kata aẓ-ẓullah jamaknya ẓulal-ẓilal berarti awan, dari fi’il ẓalla-yaẓallu-ẓalālat an, yang berarti teduh, redup, mendung, berawan. Siksa hari berawan yang disebut dalam ayat 189 Surah asy-Syu’arā’ di atas adalah siksa yang bersumber dari awan berupa guntur dan kilat yang sahut-menyahut, sehingga memorak-porandakan bangunan dan membinasakan orang-orang kafir.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto