وَاِنَّا لَجَمِيْعٌ حٰذِرُوْنَ ۗ
Wa innā lajamī‘un ḥāżirūn(a).
Sesungguhnya kita semua benar-benar harus selalu waspada.”
Dan sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali, harus selalu waspada, mawas diri terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi yang diperbuat oleh Musa dan Bani Israil.” Kemudian Fir’aun bergerak mengejar Nabi Musa dan meninggalkan Mesir.
Fir‘aun mencari alasan memusuhi Bani Israil dengan mengatakan bahwa mereka adalah musuh yang selalu mengacau sehingga keamanan tidak terjamin. Bani Israil juga dikatakan senantiasa membangkitkan amarah, menganut agama baru, dan meninggalkan agama nenek moyang mereka. Mereka berani meninggalkan Mesir tanpa lebih dahulu minta izin, membawa kabur harta benda yang mereka pinjam dari Fir‘aun dan rakyatnya. Fir‘aun mengatakan kepada kaumnya untuk selalu hati-hati dan waspada menjaga agar jangan sampai perbuatan mereka berakibat jauh. Mereka mempunyai persenjataan yang cukup dan lengkap untuk mengalahkan Bani Israil.
1. Lagā’iẓūn لَغَائِظُوْنَ (asy-Syu’arā’/26: 55).
Secara bahasa gā’iẓūn merupakan bentuk jamak dari gā’iẓ, yang berasal dari kata kerja gāẓa-yagīẓu yang artinya marah. Dengan demikian, gā’iẓ artinya yang marah. Ungkapan ini untuk menunjukkan bahwa bangsa Mesir sangat marah dengan keluarnya Bani Israil dari negeri mereka. Penyebabnya adalah karena dengan kepergian mereka, bangsa Mesir tidak saja kehilangan tenaga kerja yang murah, tetapi juga karena sebagian dari orang-orang Yahudi itu ada yang masih berhutang kepada mereka. Pinjaman itu dapat berupa bahan makanan, bahan pakaian, perhiasan dari emas dan perak, dan lain-lainnya. Semua hutang itu tidak dapat ditagih kembali dan pasti akan hilang dengan kepergian bangsa Yahudi tersebut. Inilah salah satu faktor yang juga membuat bangsa Mesir marah.
2. Aṭ-Ṭaud al-’Aẓīm اَلطَّوْدُ الْعَظِيْمُ (asy-Syu’arā’/26: 55)
Secara bahasa term aṭ-ṭaud al-’aẓīm terdiri dari dua kata, yaitu aṭ-ṭaud dan al-’aẓīm. Yang pertama (aṭ-ṭaud) berasal dari ṭāda-yaṭūdu yang artinya tetap dan aṭ-ṭaud maknanya adalah gunung yang besar. Sedang kata kedua (al-’aẓīm) artinya besar. Dengan demikian aṭ-ṭaud al-’aẓīm artinya adalah gunung yang besar. Ungkapan ini ditujukan untuk menggambarkan akibat dari tindakan Nabi Musa yang memukulkan tongkatnya ke laut, yang mengakibatkan laut itu terbelah. Tiap belahannya laksana bongkahan yang besarnya seperti gunung atau bukit yang besar dan bisa mereka lewati untuk sampai ke seberangnya.





















