وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ
Wa mā as'alukum ‘alaihi min ajrin in ajriya illā ‘alā rabbil-‘ālamīn(a).
Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.
Dan aku sekali-kali tidak minta imbalan kepadamu atas ajakan itu, imbalanku tidak lain hanyalah dari Tuhan pemelihara seluruh alam yang menjadikan aku sebagai utusan-Nya.”
Penduduk kota Sodom (Sadum) adalah penduduk yang sangat buruk budi pekertinya. Mereka menyembah patung-patung di samping menyembah Allah. Oleh sebab itu, Nabi Lut menyeru mereka agar menyembah Allah semata, bertakwa kepada-Nya, dan mengikuti ajaran yang dibawanya. Sebagaimana halnya dengan Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Saleh, Nabi Lut pun telah menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia adalah rasul yang benar-benar diutus kepada mereka untuk menyampaikan agama Allah. Ia tidak mengharapkan upah dari mereka sebagai imbalan dari seruan yang telah disampaikannya. Ia hanya mengharapkan upah dari Allah yang telah mengutusnya seperti juga para nabi yang lain.
1. Al-Qālīn القَالِيْنَ (asy-Syu’arā’/26: 168)
Kata al-qālīn adalah bentuk jamak dari al-qālī yakni orang yang sangat membenci dengan kebencian yang luar biasa, dari fi’il qalā-yaqlū-qalan, qala’an yang berarti sangat benci. Ulama berpendapat bahwa kata tersebut diambil dari kata al-qalwu, yakni pelemparan. Seseorang atau sesuatu yang menjadi objek penderita dari kata tersebut, seakan-akan dilempar terhadap yang bersangkutan. Dari sini kata tersebut diartikan sebagai kebencian yang telah mencapai puncaknya. Ada juga yang menyatakan bahwa kata itu berasal dari kata al-qalyu yang berarti menggoreng, seakan-akan perbuatan itu membakar dan menggoreng hati. Pada dasarnya, kata ini menggambarkan kebencian yang amat besar.
2. ‘Ajūzan fi al-Gābirīn عَجُوْزًا فِى الغَابِرِيْنَ (asy-Syu’arā’/26: 171)
Kata ‘ajūz berarti perempuan tua, dari fi’il ‘ajaza-’ajuza-ya’juzu- ’ujūzan, yang berarti jadi tua perempuan itu. Penyifatan ajūz kepada istri Nabi Lut yang durhaka merupakan penghinaan terhadapnya karena sebagian perempuan walaupun telah mencapai usia lanjut, tetap enggan dinamai perempuan tua. Sedangkan kata al-gābirīn terambil dari kata gabara-yagburu-guburan, yang berarti masa yang lalu, diam, tinggal, sesuatu yang telah berlalu, atau diam bertempat tinggal setelah ditinggalkan oleh teman atau kendaraan. Kedua makna ini dapat menjadi makna untuk kata yang digunakan ayat ini, yakni istri Nabi Lut a.s, termasuk orang yang diam di tempat tinggalnya, tidak keluar berhijrah atau bahwa ia termasuk salah seorang yang sudah berlalu bersama dengan mereka yang berlalu dan mati terkena siksa.
































