يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ
Yauma lā yanfa‘u māluw wa lā banūn(a).
(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.
yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, untuk menebus semua dosa-dosa yang ada,” demikian Nabi Ibrahim menutup doanya. Allah tidak membutuhkan semua itu, karena Allah Mahakaya.
Ayat ini menerangkan tentang kehebatan hari Kiamat. Tiada yang selamat pada hari itu dari siksaan Allah, kecuali orang yang bebas dari dosa dan kesalahan. Harta dan anak keturunan yang dimiliki waktu di dunia tidak satu pun yang bisa menolong. Secara khusus Allah menyebutkan “anak” dalam ayat ini, karena anak-anak itulah yang paling dekat dan paling banyak memberi manfaat kepada orang tuanya di dunia. Pada ayat lain, Allah menerangkan bahwa anak-anak adalah harta perhiasan kehidupan keduniawian. Sebaliknya amal yang saleh dan baik pahalanya akan kekal sampai kiamat. Ketika Allah menurunkan ayat tentang emas dan perak (Surah at-Taubah/9: 34), para sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang harta apakah yang sebaiknya dimiliki agar mendatangkan faedah (untuk kehidupan ukhrawi). Rasulullah menjawab:
أَفْضَلُ ُ لِسَانٌ ذَاكِرٌ وَقَلْبٌ شَاكِرٌ وَزَوْجَةٌ مُؤْمِنَةٌ تُعِينُهُ عَلَى إِيمَانِهِ (رواه أحمد والترمذى عن ثوبان)
(Kekayaan) yang paling baik ialah lidah yang selalu zikir kepada Allah, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri yang mu’min menolong suaminya tetap beriman.” (Riwayat Aḥmad dan at-Tirmiżī dari Ṡaubān)
1. Lisāna Ṡidqin لِسَانَ صِدْقٍ (asy-Syu’arā’/26: 84)
Secara bahasa ungkapan di atas terdiri dari dua kata, yaitu lisān dan ṣidqin. Yang pertama (lisān) pada mulanya digunakan dalam arti lidah yang fungsinya antara lain untuk berbicara. Sedang yang dimaksud dengan lisān pada ayat ini adalah hasil dari penggunaannya, yaitu pembicaraan atau perkataan. Sedang kata yang kedua (ṣidqin) maknanya benar atau sesuatu yang sesuai dengan kenyataan dan keyakinan. Perangkaian kedua kata tersebut mengisyaratkan bahwa uraian atau pernyataan yang diucapkan dengan lidah mestilah merupakan sesuatu yang benar dan sesuai dengan kenyataan. Selain makna tersebut, ungkapan ini dapat pula dipahami sebagai kenangan yang baik, penerimaan yang memuaskan, atau pujian terhadap perbuatan baik.
2. Qalb salīm قَلْب سَلِيْم (asy-Syu’arā’/26: 89)
Term qalb salīm terdiri dari dua kata, yaitu qalb dan salīm. Yang pertama (qalb) artinya hati yang merupakan organ rohani dan tidak mempunyai wujud, namun mempunyai fungsi yang sangat penting bagi manusia, yaitu sebagai pangkal dari segala niat dan perbuatan. Selain itu, qalb dapat pula diartikan sebagai wadah atau alat untuk meraih pengetahuan. Sedang yang kedua (salīm) yang menyifati kata qalb, pada awalnya berarti selamat, yakni terhindar dari kekurangan dan bencana, baik yang bersifat lahir maupun batin. Selanjutnya qalb yang bersifat salīm adalah yang terpelihara kesucian fitrahnya, yakni yang pemiliknya selalu mempertahankan keyakinan tauhid, dan cenderung pada kebenaran dan kebajikan. Qalb yang salīm adalah yang tidak sakit, sehingga pemiliknya senantiasa merasa tenang, terhindar dari keraguan dan kebimbangan, dan hatinya tidak dipenuhi oleh sifat angkuh, benci, dengki, dendam, dan semua sifat tercela lainnya.



























