وَلَا تُخْزِنِيْ يَوْمَ يُبْعَثُوْنَۙ
Wa lā tukhzinī yauma yub‘aṡūn(a).
Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.
“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, di hadapan manusia lain bersamaku, tapi tutupilah kesalahanku, hanya Engkau sajalah yang mengetahui keadaanku yang sebenarnya,
Selanjutnya Ibrahim bermunajat kepada Allah agar ia tidak mengalami penghinaan di hari Kiamat kelak. Ini memberi kesan betapa rendah hatinya seorang nabi, sekalipun ia telah memperoleh derajat yang begitu tinggi di sisi Allah, namun ia masih bermohon agar tidak dihinakan pada hari Kiamat. Ibrahim mengadu kepada Tuhan seraya berkata, “Wahai Tuhan, bukankah engkau telah menjanjikan bahwa aku tidak akan dihinakan di hari Kiamat. Manakah penghinaan yang lebih berat lagi rasanya bagiku daripada penghinaan bertemu dengan bapakku dalam keadaan begini?” Allah merespon doanya dengan berfirman, “Hai Ibrahim, sesungguhnya aku haramkan surga bagi orang-orang kafir.”
1. Lisāna Ṡidqin لِسَانَ صِدْقٍ (asy-Syu’arā’/26: 84)
Secara bahasa ungkapan di atas terdiri dari dua kata, yaitu lisān dan ṣidqin. Yang pertama (lisān) pada mulanya digunakan dalam arti lidah yang fungsinya antara lain untuk berbicara. Sedang yang dimaksud dengan lisān pada ayat ini adalah hasil dari penggunaannya, yaitu pembicaraan atau perkataan. Sedang kata yang kedua (ṣidqin) maknanya benar atau sesuatu yang sesuai dengan kenyataan dan keyakinan. Perangkaian kedua kata tersebut mengisyaratkan bahwa uraian atau pernyataan yang diucapkan dengan lidah mestilah merupakan sesuatu yang benar dan sesuai dengan kenyataan. Selain makna tersebut, ungkapan ini dapat pula dipahami sebagai kenangan yang baik, penerimaan yang memuaskan, atau pujian terhadap perbuatan baik.
2. Qalb salīm قَلْب سَلِيْم (asy-Syu’arā’/26: 89)
Term qalb salīm terdiri dari dua kata, yaitu qalb dan salīm. Yang pertama (qalb) artinya hati yang merupakan organ rohani dan tidak mempunyai wujud, namun mempunyai fungsi yang sangat penting bagi manusia, yaitu sebagai pangkal dari segala niat dan perbuatan. Selain itu, qalb dapat pula diartikan sebagai wadah atau alat untuk meraih pengetahuan. Sedang yang kedua (salīm) yang menyifati kata qalb, pada awalnya berarti selamat, yakni terhindar dari kekurangan dan bencana, baik yang bersifat lahir maupun batin. Selanjutnya qalb yang bersifat salīm adalah yang terpelihara kesucian fitrahnya, yakni yang pemiliknya selalu mempertahankan keyakinan tauhid, dan cenderung pada kebenaran dan kebajikan. Qalb yang salīm adalah yang tidak sakit, sehingga pemiliknya senantiasa merasa tenang, terhindar dari keraguan dan kebimbangan, dan hatinya tidak dipenuhi oleh sifat angkuh, benci, dengki, dendam, dan semua sifat tercela lainnya.























