فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ ۚ
Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku terhadap apa yang aku perintahkan dan yang aku larang kepadamu.
Nabi Saleh menyeru kaum Samud untuk kembali pada agama tauhid dan bertakwa kepada Allah. Semula mereka beriman kepada Allah, kemudian menjadi kafir dan menyembah berhala yang mereka persekutukan dengan-Nya. Untuk mengembalikan mereka kepada agama tauhid, Allah mengutus Nabi Saleh kepada mereka. Nabi Saleh menyeru kaumnya agar bertakwa kepada Allah, mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya, serta mengakui bahwa Nabi Saleh adalah rasul yang diutus Allah kepada mereka.
Dalam Surah Hūd diterangkan bahwa Nabi Saleh menyeru kaumnya agar beriman pada agama tauhid. Pokok dakwahnya ialah menyembah Allah dalam arti bahwa hanya Allah yang harus disembah, bukan patung-patung yang mereka buat. Untuk menguatkan dakwahnya, Nabi Saleh menyampai-kan alasan bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang menciptakan mereka, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, dan menjadikan mereka para saudagar, gembala, pengusaha, dan pemakmur bumi, sebagaimana firman Allah:
وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗهُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَك ُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُو ْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ ٦١
Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya)”. (Hūd/11: 61).
Nabi Saleh menjelaskan alasannya, yaitu bahwa Allah telah menciptakan mereka dari bumi yaitu dari tanah. Ini adalah suatu hal yang nyata bagi mereka, tidak dapat mereka ingkari. Nabi Saleh juga mengatakan bawah Allah telah menjadikan mereka pemakmur bumi. Ini merupakan kenyataan juga bagi mereka. Mereka memang telah memakmurkan bumi dengan memanfaatkan sumber-sumber air, membangun irigasi yang berfungsi mengatur distribusi air, sampai tanah mereka menjadi subur, tanaman mereka tumbuh dan berbuah, dan ternak mereka hidup dengan baik. Mereka juga telah mengeluarkan logam dari dalam tanah yang bermanfaat bagi perusahaan dan perniagaan. Dengan demikian, mereka telah mengolah dan memakmurkan bumi, dan inilah suatu hal nyata yang mereka jalani setiap hari.
Nabi Saleh menerangkan bahwa dia tidak akan meminta upah sedikit pun kepada mereka. Dia hanya mengharapkan upah dari Allah yang meng-utusnya.
1. Haḍīm هَضِيْم (asy-Syu’arā’/26: 148)
Kata dengan huruf dasar ha’, ḍad, dan mim disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an. Pertama di Surah Ṭāhā/20: 112, dan kedua dalam ayat ini. Haḍīm merupakan kata sifat bagi aṭ-ṭal’u sebelumnya. Kata terakhir ini berarti buah (al-ṡamar) atau mayang pohon kurma. Mayang atau buah kurma inilah yang disifati haḍīm untuk menggambarkan bahwa mayang atau buah pohon kurma yang mereka miliki terlihat lembut dan tersusun rapi. Kata haḍīm dengan arti lembut, sesuai dengan pendapat Imam Qatādah yang memaknainya dengan al-layyin (lembut).
2. Tanḥitūn تَنْحِتُوْنَ (asy-Syu’arā’/26: 148)
Tanḥitūn merupakan fi’il muḍāri’ dari naḥata-yanḥitu-naḥt(an ) yang berarti mengukir atau memahat. Memahat merupakan keterampilan atau keahlian kaum Samud pada zamannya. Penggunaan fi’il muḍāri’ dalam konteks menggambarkan keterampilan kaum Samud dalam hal memahat, untuk memperlihatkan bahwa mereka telah memiliki budaya memahat, terutama gunung-gunung batu untuk dijadikan sebagai rumah atau tempat tinggal. Mereka telah menguasai teknologi tepat guna dalam membangun rumah-rumah tempat tinggal dengan jalan memahat gunung-gunung batu, sesuai dengan perkembangan budaya mereka waktu itu.



































