Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 196 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 196 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 375 •  Quarter Hizb 38.25 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

وَاِنَّهٗ لَفِيْ زُبُرِ الْاَوَّلِيْنَ

Wa innahū lafī zuburil-awwalīn(a).

Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar (disebut) dalam kitab-kitab orang terdahulu.

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 196
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan sungguh, Al-Qur'an itu benar-benar disebut dalam kitab-kitab orang yang dahulu seperti Taurat, Zabur, dan Injil (Lihat: Surah al-Araf/7: 157). Hal ini menunjukkan akan satunya tujuan, satunya sumber, dan keterkaitan antara satu kitab suci dengan kitab suci lainnya sama-sama menyeru kepada Tauhid.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad itu telah diisyaratkan dalam kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para rasul-Nya terdahulu. Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَمُبَشِّرًاۢ بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗٓ اَحْمَدُ

Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (aṣ-Ṡaff/61: 6).

Di samping adanya isyarat-isyarat akan turun-Nya Al-Qur’an dalam kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul terdahulu, juga telah ada nubuat-nubuat tentang akan diutusnya Nabi Muhammad. Sekalipun kitab Taurat yang sekarang telah dicampuri tangan-tangan manusia, ada yang ditambah, dikurangi, dan sebagainya, namun masih terdapat ayat-ayat yang menjelaskan kedatangan Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir dan membawa syariat yang sempurna. Firman Allah:

اَلَّذِيْن َ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْل ِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْف ِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓ ۙاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْن َ ࣖ ١٥٧

(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung. (al-A‘rāf/7: 157)

Isi Kandungan Kosakata

1. Bilisān ‘Arabiy Mubīn بِلِسَانٍ عَرَبِىٍّ مُبِيْنٍ (asy-Syu’arā’/26: 195)

Kata lisān diambil dari fi’il lasina-yalsanu-lasanan berarti fasih lidahnya. Jamaknya adalah alsinah berarti lidah, bahasa. Kata ‘araby berarti bangsa Arab yang sebenarnya, diambil dari fi’il aruba-ya’rubu-’arabatan- ’uruban-’araban yang berarti berbicara dengan bahasa Arab yang fasih. Lisān al-’arab artinya bahasa Arab. Kata lisan yang diiringi oleh kata sifat ‘arabiy sehingga menjadi lisān ‘arabiy mengandung pengertian khusus, yaitu bahasa Al-Qur’an. Pengertian ini dapat ditemukan antara lain dalam Surah an-Naḥl/16:103, asy-Syu’arā’/26:195 dan al-Aḥqāf/46:12. Jadi pengertian bi lisān ‘arabiyyin mubīn adalah dengan bahasa Arab yang jelas, atau dengan bahasa Al-Qur’an yang jelas.

2. ‘Ulamā’ عُلَمٰؤُا (asy-Syu’arā’/26: 197)

Kata ‘ulamā’ adalah bentuk jamak dari kata ‘alīm yang terambil dari akar kata yang berarti mengetahui secara jelas. Oleh karena itu, semua kata yang terbentuk oleh huruf-huruf ‘ain, lam, dan mim, selalu menunjuk kepada kejelasan, seperti ‘alam/bendera, ‘alam/alam raya atau makhluk yang memiliki rasa atau kecerdasan, alamah/alamat.

Banyak pakar agama seperti Ibnu ‘Āsyūr dan aṭ-Ṭabāṭabā’ī memahami kata ‘ulamā’ dalam arti yang mendalami ilmu agama. Aṭ-Ṭabāṭabā’ī menulis bahwa mereka itu adalah yang mengenal Allah dengan nama, sifat, dan perbuatan-Nya, pengenalan yang bersifat sempurna sehingga hati mereka menjadi tenang, keraguan dan kegelisahan menjadi sirna, dan tampak pula dampaknya dalam kegiatan mereka sehingga amal mereka membenarkan ucapan mereka. Ṭāhir bin ‘Āsyūr menulis bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah orang-orang yang mengetahui tentang Allah dan syariat.

Sayyid Quṭb mengatakan, “Ulama adalah mereka yang memperhatikan kitab yang menakjubkan itu (Al-Qur’an). Oleh karena itu, mereka mengenal Allah dengan pengenalan yang sebenarnya. Mereka mengenal-Nya melalui hasil ciptaan-Nya, mereka menjangkau-Nya melalui dampak kuasa-Nya, serta merasakan hakikat kebesaran-Nya dengan melihat hakikat kepada-Nya serta bertakwa sebenar-sebenarnya.”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto