Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 78 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 78 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 370 •  Quarter Hizb 37.75 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِ ۙ

Allażī khalaqanī fa huwa yahdīn(i).

(Allah) yang telah menciptakanku. Maka, Dia (pula) yang memberi petunjuk kepadaku.

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 78
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Nabi Ibrahim melanjutkan keterangannnya, “Dia adalah Zat yang telah menciptakan aku dalam sebaik-baiknya bentuk dan aku diberi kesempatan dalam hidupku untuk menyembah Allah, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, menuju ke jalan yang benar melalui wahyu yang diberikan kepadaku.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat-ayat berikut ini, Nabi Ibrahim menjelaskan sebagian dari dalil-dalil keesaan Tuhan, yang merupakan sebagian dari sifat-sifat Allah Rabbul ‘Ālamīn. Allah adalah pencipta manusia, dengan ciptaan yang sebaik-baiknya. Dia pula yang memberi petunjuk (hidayah).

Seperti diketahui, hidayah itu bermacam-macam. Ada hidayah yang disebut dengan hidayah pancaindra, hidayah akal (pikiran), hidayah insting (kepandaian yang dibawa sejak lahir), dan hidayah agama (ad-dīn). Akal adalah hidayah Tuhan yang sangat berharga, sebab dengan akal manusia sanggup membedakan yang buruk dengan yang baik. Akal pula yang membedakan manusia dengan hewan.

Namun demikian, akal saja belum merupakan jaminan bagi keselamatan manusia. Oleh sebab itu, Allah melengkapi nikmatnya dengan memberikan kepada mereka agama. Hidayah agama itu hanya Tuhan sajalah yang memberinya. Bila seseorang dikehendaki Allah memperoleh hidayah (agama), tidak seorang pun yang dapat menghalanginya. Sebaliknya jika Allah belum menghendaki yang demikian, tidak ada yang bisa memberikan petunjuk. Bahkan nabi dan rasul sendiri pun yang ditugaskan membawa hidayah itu juga tidak punya wewenang untuk memberi hidayah seperti terlihat dalam kisah Nabi Ibrahim pada ayat yang lain (Surah al-An‘ām/6: 74-88) yang menceritakan dialog antara beliau dengan bapaknya (Āzar) dan kaumnya. Ibrahim berusaha mengislamkan bapaknya, tetapi Allah tidak memberi hidayah, sehingga dia tetap dalam kemusyrikan.

Demikian juga halnya paman Nabi Muhammad, Abū Ṭālib, yang sudah banyak berjasa dalam mengembangkan dakwah Nabi di Mekah. Nabi sangat menginginkan pamannya masuk Islam, tetapi Allah belum memberi hidayah sehingga ia tetap musyrik sampai akhir hayatnya. Allah berfirman:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِي ْنَ ٥٦

Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (al-Qaṣaṣ/28: 56)

Isi Kandungan Kosakata

1. Yuṭ’imunī wa yasqīnī يُطْعِمُنِي وَ يَسْقِيْنِي (asy-Syu’arā’/26: 79).

Secara bahasa term yuṭ’imunī wa yasqīnī terdiri dari dua kata, yaitu yuṭ’imunī dan yasqīnī. Yang pertama berarti memberi aku makan, dan yang kedua maknanya memberi aku minum. Subjek dari kedua kata kerja itu adalah Allah. Selanjutnya, pemberian makan dan minum oleh Allah, seperti yang diucapkan Nabi Ibrahim ini, harus dipahami dalam arti menyiapkan sarana perolehannya, bukan pemberian bahannya yang langsung dimakan dan diminum. Dengan demikian, manusia dituntut untuk mencarinya dan bukan menanti kedatangannya tanpa usaha. Itu sebabnya ketika ayat-ayat Al-Qur’an berbicara tentang penganugerahan rezeki, maka kata yang dipergunakan berbentuk jamak, seperti narzuqukum atau narzuquhum. Penggunaan bentuk jamak ini mengisyaratkan adanya keterlibatan sesuatu selain Allah dalam perolehannya. Yang terlibat dalam kegiatan seperti ini antara lain adalah manusia itu sendiri. Selain itu, ungkapan di atas juga merupakan isyarat bahwa kebutuhan material yang paling utama yang diperlukan makhluk hidup adalah persoalan makan dan minum.

2. Yasyfīni يَشْفِيْنِ (asy-Syu’arā’/26: 80).

Secara bahasa yasyfīni berarti menyembuhkan aku. Subjek dari kata kerja ini adalah Allah. Dengan demikian, term di atas maknanya adalah Allah yang menyembuhkan aku. Ini merupakan isyarat bahwa yang memberikan kesembuhan itu adalah Allah. Selain itu, ungkapan ini juga merupakan isyarat bahwa sumber segala anugerah adalah Allah. Redaksi seperti ini berbeda dari pembicaraan tentang penyakit yang diawali dengan kata iżā (jika) yang mengandung suatu keniscayaan. Hal yang sedemikian ini karena penganugerahan nikmat merupakan sesuatu yang terpuji, sehingga wajar bila disandarkan kepada Allah. Selain itu, perlu pula ditegaskan bahwa penyembuhan yang dimaksud bukan berarti upaya manusia untuk memperoleh kesembuhan tidak diperlukan lagi. Dalam masalah ini, banyak hadis Nabi Muhammad yang menganjurkan umatnya untuk berobat agar sembuh dari penyakit yang dideritanya. Ungkapan pada ayat ini dimaksudkan untuk menyatakan bahwa sebab dari segala sebab adalah Allah.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto