فَاِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّيْٓ اِلَّا رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ
Fa innahum ‘aduwwul lī illā rabbal-‘ālamīn(a).
Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku, lain halnya Tuhan pemelihara semesta alam.
“Sesungguhnya mereka, yakni apa yang kamu sembah, itu musuhku, karena mereka adalah setan dalam bentuk berhala lain halnya Tuhan seluruh alam yang banyak sekali memberikan anugerah kepadaku dan kepada kamu sekalian.” demikian Nabi Ibrahim menjelaskan. Ia lalu menyebutkan satu persatu anugerah Tuhannya agar mereka sadar akan kekeliruan mereka dan mengikuti ajakan Nabi Ibrahim.
Kemudian Nabi Ibrahim menegaskan pendiriannya. Pendirian seorang rasul Tuhan yang membawa risalah untuk menyebarkan paham tauhid (monoteisme) di kalangan kaumnya. Beliau memproklamasikan diri sebagai musuh utama dari tuhan-tuhan mereka. Menurutnya, yang berhak disembah hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan alam semesta. Kepada-Nyalah manusia harus mengabdikan diri. Keyakinan tauhid itu didasarkan pada beberapa alasan yang masuk akal.
Misi yang dibawa Nabi Ibrahim, juga pernah dibawa oleh nabi sebelumnya yakni Nuh. Semua para nabi dan rasul membawa tugas pokok seperti itu. Mereka di samping mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah, juga dengan terang-terangan memusuhi setiap bentuk penyembahan yang pada prinsipnya mempersekutukan Allah. Nabi Nuh juga menentang kaumnya yang bermaksud mencelakakannya akibat seruannya untuk beriman, sebagaimana yang dilukiskan dalam firman Allah:
فَاَجْمِعُ وْٓا اَمْرَكُمْ وَشُرَكَاۤءَكُ مْ ثُمَّ لَا يَكُنْ اَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوْٓا اِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُوْنِ
Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku), dan janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Kemudian bertindaklah terhadap diriku, dan janganlah kamu tunda lagi. (Yūnus/10: 71)
Demikian juga firman Allah menerangkan ucapan Nabi Hud a.s.:
قَالَ اِنِّيْٓ اُشْهِدُ اللّٰهَ وَاشْهَدُوْٓا اَنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
Di a (Hud) menjawab, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (Hūd/11: 54)
1. Yuṭ’imunī wa yasqīnī يُطْعِمُنِي وَ يَسْقِيْنِي (asy-Syu’arā’/26: 79).
Secara bahasa term yuṭ’imunī wa yasqīnī terdiri dari dua kata, yaitu yuṭ’imunī dan yasqīnī. Yang pertama berarti memberi aku makan, dan yang kedua maknanya memberi aku minum. Subjek dari kedua kata kerja itu adalah Allah. Selanjutnya, pemberian makan dan minum oleh Allah, seperti yang diucapkan Nabi Ibrahim ini, harus dipahami dalam arti menyiapkan sarana perolehannya, bukan pemberian bahannya yang langsung dimakan dan diminum. Dengan demikian, manusia dituntut untuk mencarinya dan bukan menanti kedatangannya tanpa usaha. Itu sebabnya ketika ayat-ayat Al-Qur’an berbicara tentang penganugerahan rezeki, maka kata yang dipergunakan berbentuk jamak, seperti narzuqukum atau narzuquhum. Penggunaan bentuk jamak ini mengisyaratkan adanya keterlibatan sesuatu selain Allah dalam perolehannya. Yang terlibat dalam kegiatan seperti ini antara lain adalah manusia itu sendiri. Selain itu, ungkapan di atas juga merupakan isyarat bahwa kebutuhan material yang paling utama yang diperlukan makhluk hidup adalah persoalan makan dan minum.
2. Yasyfīni يَشْفِيْنِ (asy-Syu’arā’/26: 80).
Secara bahasa yasyfīni berarti menyembuhkan aku. Subjek dari kata kerja ini adalah Allah. Dengan demikian, term di atas maknanya adalah Allah yang menyembuhkan aku. Ini merupakan isyarat bahwa yang memberikan kesembuhan itu adalah Allah. Selain itu, ungkapan ini juga merupakan isyarat bahwa sumber segala anugerah adalah Allah. Redaksi seperti ini berbeda dari pembicaraan tentang penyakit yang diawali dengan kata iżā (jika) yang mengandung suatu keniscayaan. Hal yang sedemikian ini karena penganugerahan nikmat merupakan sesuatu yang terpuji, sehingga wajar bila disandarkan kepada Allah. Selain itu, perlu pula ditegaskan bahwa penyembuhan yang dimaksud bukan berarti upaya manusia untuk memperoleh kesembuhan tidak diperlukan lagi. Dalam masalah ini, banyak hadis Nabi Muhammad yang menganjurkan umatnya untuk berobat agar sembuh dari penyakit yang dideritanya. Ungkapan pada ayat ini dimaksudkan untuk menyatakan bahwa sebab dari segala sebab adalah Allah.




























