Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 226 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 226 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 376 •  Quarter Hizb 38.25 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

وَاَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ مَا لَا يَفْعَلُوْنَ ۙ

Wa annahum yaqūlūna mā lā yaf‘alūn(a).

dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(-nya)?

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 226
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak menger-jakan-nya? Inilah bentuk kebohongan mereka. Bandingkan hal ini dengan Nabi Muhammad yang selalu bersikap jujur dalam segala hal.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan jalan-jalan sesat yang telah ditempuh oleh para penyair dalam menyusun syairnya, yaitu:

1. Para penyair itu membuat syair tanpa tujuan yang jelas. Kadang-kadang mereka memuji sesuatu yang pernah mereka cela, mengagungkan sesuatu yang pernah mereka hina, dan mengakui sesuatu yang pernah mereka ingkari kebenarannya. Hal ini membuktikan bahwa tujuan mereka membuat syair bukan untuk mencari kebenaran atau menyatakan sesuatu yang benar. Dalam menyusun syair-syair itu, mereka hanya berpegang pada khayalan. Semakin banyak khayalan dan angan-angan mereka, semakin baik pula syair yang mereka buat. Kesesatan ahli syair itu hanya diikuti oleh orang-orang yang sesat pula, tidak akan diikuti oleh orang-orang yang suka mencari kebenaran.

2. Para ahli syair itu sering mengatakan apa yang tidak mereka lakukan. Mereka menganjurkan agar manusia pemurah dan suka memberi, tetapi mereka sendiri bakhil dan kikir. Mereka sering mengarang syair untuk menyinggung kehormatan orang lain, seperti mencela, mencaci-maki, dan sebagainya, karena sesuatu sebab yang kecil saja. Sebaliknya, mereka sering pula mengagungkan dan memuji-muji seseorang karena sebab yang kecil pula.

Demikianlah ciri-ciri penyair yang dicela oleh Allah. Akan tetapi, ada pula penyair yang baik budi pekertinya, dan cukup luas ilmu pengetahuan-nya. Syairnya mendorong semangat orang lain untuk berbuat baik, dan mengandung butir-butir hikmah, nasihat, dan pelajaran. Di antaranya adalah syair Umayyah bin Abī aṣ-Ṡalt, sebagaimana sebagai berikut ini:

عَنْ عَمْرو بْنِ الشِّرِيْدِ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: رَدِفْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَوْمًا فَقَالَ هَلْ مَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِى الصَّلْت شَيْء قُلْتُ نَعَمْ قَالَ هِيْه فَأَنْشَدْتُهُ بَيْتًا فَقَالَ هِيْه فَأَنْشَدْتُهُ بَيْتًا هِيْه حَتَّى أَنْشَدْتُهُ مِائَةَ بَيْت ( رواه مسلم)

Dari ‘Amr bin asy-Syirīd, dari bapaknya, bahwa ia berkata, “Pada suatu hari aku memboncengkan Rasulullah, maka beliau menanyakan kepadaku, ‘Apakah engkau menghafal beberapa bait syair Umayyah bin Abī aṣ-Ṡalt?’ Aku menjawab, ‘Ada’. Rasulullah berkata, ‘Bacalah segera’. Maka aku membacakan satu bait. Rasulullah berkata, ‘Bacalah segera’. Maka aku membacakannya satu bait lagi. Rasulullah berkata, ‘Lanjutkanlah’. Aku melanjutkannya hingga seratus bait.” (Riwayat Muslim)

Sikap Rasulullah terhadap syair Umayyah bin Abī aṣ-Ṡalt ini menunjuk-kan bahwa beliau menyukai syair dan para penyair, asalkan penyair itu orang yang berakhlak, bercita-cita luhur, dan syair-syairnya banyak mengandung butir-butir hikmah. Tidak seperti para penyair dan syair-syair yang sifat-sifatnya disebutkan pada ayat-ayat yang lalu (ayat 221-226). Para penyair dan syair-syair seperti itulah yang dicela dan dilarang oleh Rasulullah.

Isi Kandungan Kosakata

1. Asy-Syu’arā’ اَلشُّعَرَاءُ (asy-Syu’arā’/26: 224)

Kata asy-syu’arā’ adalah jamak dari kata syā’ir yang berarti penyair. Kata ini terambil dari kata sya’ura-yasy’uru-syu’ r yang berarti mengetahui secara cermat. Ia bisa juga terambil dari kata sya’run yang berarti rambut. Kata syi’r (syair) secara harfiah berarti pengetahuan yang cermat atau detail. Secara terminologis berarti ucapan yang bersajak dan mengikuti pola tertentu. Seseorang disebut syā’ir (penyair) karena ia mengetahui hal-hal yang detail secara cermat, lalu ia mengungkapkannya kepada orang lain. Kata sya’āir berarti tempat ibadah atau tanda dalam haji dan hewan kurban yang dibawa ke Baitul Haram. Hewan ini disebut demikian karena dihilangkan sebagian rambutnya pada tempat penyembelihannya. Adapun maksud kata syu’arā’ di dalam ayat ini adalah para penyair yang kebanyakan di antara mereka mengumbar kata-kata bohong, dan biasanya perkataan mereka itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.

2. Yahīmūn يَهِيْمُوْنَ (asy-Syu’arā’/26: 225)

Kata yahīmūn terbentuk dari kata hāma-yahīmu-haimanah. Ia terambil dari kata al-huyam yang berarti gila. Kata hayyim dan mahyum berarti unta yang terkena penyakit di kepalanya. Kata al-hā’im berarti orang yang linglung. Jadi, kata hāma ar-rajul berarti orang itu pergi tanpa tujuan seperti orang yang linglung. Dalam ayat ini, kata ini dijadikan Allah sebagai perumpamaan tentang kepandaian mereka untuk memuji suatu kaum dengan ucapan yang tidak benar, dan mengecam kaum lain dengan ucapan bohong dan palsu. Ibnu ‘Abbās berkata, “Maksudnya, mereka tenggelam dalam setiap perkara lagwu (sia-sia).”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto