Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 227 - Surat Asy-Syu‘arā' (Para Penyair)
الشّعراۤء
Ayat 227 / 227 •  Surat 26 / 114 •  Halaman 376 •  Quarter Hizb 38.25 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَذَكَرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّانْتَصَرُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا ۗوَسَيَعْلَمُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اَيَّ مُنْقَلَبٍ يَّنْقَلِبُوْنَ ࣖ

Illal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa żakarullāha kaṡīraw wantaṣarū mim ba‘di mā ẓulimū, wa saya‘lamul-lażīna ẓalamū ayya munqalabiy yanqalibūn(a).

Kecuali (para penyair) yang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Allah, dan bangkit membela (kebenaran) setelah terzalimi. Orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui ke mana mereka akan kembali.

Makna Surat Asy-Syu‘ara' Ayat 227
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Pada ayat ini diterangkan kriteria penyair yang dikecualikan dari penyair yang disebut di atas. Kecuali orang-orang penyair yang beriman dengan iman yang benar dan berbuat kebajikan yang sesuai dengan ketentuan syariah dan banyak mengingat Allah, baik siang maupun malam, dan mendapat kemenangan setelah terzalimi karena menjawab puisi-puisi orang-orang kafir. Pada akhir surah ini, Allah memberikan peringatan keras terhadap orang-orang kafir, “Dan orang-orang yang zalim kelak pada hari kebangkitan, akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali. Mereka akan kembali ke neraka.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa syair dan penyair yang baik dan bermanfaat itu ialah yang mempunyai sifat-sifat di bawah ini:

1. Beriman kepada Allah.

2. Beramal saleh.

3. Menyebut dan mengagungkan nama Allah, sehingga menambah kemantapan imannya kepada kebesaran dan keesaan-Nya.

4. Mendorong orang-orang yang beriman untuk berjihad, menegakkan agama Allah, melepaskan diri dari penganiayaan orang-orang yang memusuhi mereka dan agama-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarīr aṭ-Ṭabarī dan Ibnu Abī Syaibah bahwa tatkala ayat di atas turun, datanglah Ḥassān bin Ṡābit, ‘Abdullāh bin Rawāhah, dan Ka’ab bin Mālik menghadap Rasulullah. Mereka dalam keadaan menangis dan menyesali diri karena mereka termasuk para penyair. Maka Rasulullah membacakan ayat ini (asy-Syu’arā’/26: 227) kepada mereka.

Sejak permulaan surah ini, Allah telah menerangkan dalil-dalil akal tentang kekuasaan dan kebesaran-Nya melalui kisah para nabi terdahulu dengan umatnya yang dapat menghibur Rasulullah yang sedang gundah karena sikap kaumnya. Kisah-kisah itu juga menerangkan bukti-bukti kebenaran para nabi yang diutus-Nya, perbedaan tukang ramal dengan Rasulullah, membandingkan para penyair dan syair yang buruk dengan para penyair dan syair yang terpuji. Surah ini ditutup dengan peringatan keras yang ditujukan kepada orang-orang yang menentang agama Allah bahwa mereka kelak akan tahu tempat kembali mereka, yaitu neraka yang tidak terbayangkan pedih siksaannya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Asy-Syu’arā’ اَلشُّعَرَاءُ (asy-Syu’arā’/26: 224)

Kata asy-syu’arā’ adalah jamak dari kata syā’ir yang berarti penyair. Kata ini terambil dari kata sya’ura-yasy’uru-syu’ r yang berarti mengetahui secara cermat. Ia bisa juga terambil dari kata sya’run yang berarti rambut. Kata syi’r (syair) secara harfiah berarti pengetahuan yang cermat atau detail. Secara terminologis berarti ucapan yang bersajak dan mengikuti pola tertentu. Seseorang disebut syā’ir (penyair) karena ia mengetahui hal-hal yang detail secara cermat, lalu ia mengungkapkannya kepada orang lain. Kata sya’āir berarti tempat ibadah atau tanda dalam haji dan hewan kurban yang dibawa ke Baitul Haram. Hewan ini disebut demikian karena dihilangkan sebagian rambutnya pada tempat penyembelihannya. Adapun maksud kata syu’arā’ di dalam ayat ini adalah para penyair yang kebanyakan di antara mereka mengumbar kata-kata bohong, dan biasanya perkataan mereka itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.

2. Yahīmūn يَهِيْمُوْنَ (asy-Syu’arā’/26: 225)

Kata yahīmūn terbentuk dari kata hāma-yahīmu-haimanah. Ia terambil dari kata al-huyam yang berarti gila. Kata hayyim dan mahyum berarti unta yang terkena penyakit di kepalanya. Kata al-hā’im berarti orang yang linglung. Jadi, kata hāma ar-rajul berarti orang itu pergi tanpa tujuan seperti orang yang linglung. Dalam ayat ini, kata ini dijadikan Allah sebagai perumpamaan tentang kepandaian mereka untuk memuji suatu kaum dengan ucapan yang tidak benar, dan mengecam kaum lain dengan ucapan bohong dan palsu. Ibnu ‘Abbās berkata, “Maksudnya, mereka tenggelam dalam setiap perkara lagwu (sia-sia).”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto