قَالُوْٓا اِنَّمَآ اَنْتَ مِنَ الْمُسَحَّرِيْنَ ۙ
Qālū innamā anta minal-musaḥḥarīn(a).
Mereka berkata, “Sesungguhnya engkau hanyalah termasuk orang-orang yang terkena sihir.
Akan tetapi, mereka menolak dakwah Nabi Saleh dengan berkata, “Sungguh, engkau hanyalah termasuk orang yang kena sihir karena apa yang engkau dakwahkan tidak sesuai dengan kebiasaan kami.
Semua yang dikemukakan Nabi Saleh kepada kaumnya, berupa bukti-bukti kebenaran dakwah, tidak dapat mereka bantah. Bahkan hati mereka mengakui kebenaran yang disampaikan kepada mereka, tetapi jiwa mereka yang telah rusak yang menyebabkan mereka ingkar kepada seruan Nabi Saleh. Oleh karena itu, mereka mengatakan kepada Nabi Saleh, “Hai Saleh, engkau mengemukakan sesuatu kepada kami yang bertujuan agar kami meninggalkan agama nenek moyang kami, dan mengikuti agama yang engkau bawa. Cara-cara engkau menyampaikan agama itu sangat menarik dan memesona kami, seakan-akan engkau telah menyihir kami. Sebenarnya engkau telah gila dan terkena sihir, karena tuhan kami telah menimpakan penyakit gila kepadamu, maka tiada pantas lagi kami mendengar perkataanmu dan menerima ajakanmu.”
1. Haḍīm هَضِيْم (asy-Syu’arā’/26: 148)
Kata dengan huruf dasar ha’, ḍad, dan mim disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an. Pertama di Surah Ṭāhā/20: 112, dan kedua dalam ayat ini. Haḍīm merupakan kata sifat bagi aṭ-ṭal’u sebelumnya. Kata terakhir ini berarti buah (al-ṡamar) atau mayang pohon kurma. Mayang atau buah kurma inilah yang disifati haḍīm untuk menggambarkan bahwa mayang atau buah pohon kurma yang mereka miliki terlihat lembut dan tersusun rapi. Kata haḍīm dengan arti lembut, sesuai dengan pendapat Imam Qatādah yang memaknainya dengan al-layyin (lembut).
2. Tanḥitūn تَنْحِتُوْنَ (asy-Syu’arā’/26: 148)
Tanḥitūn merupakan fi’il muḍāri’ dari naḥata-yanḥitu-naḥt(an ) yang berarti mengukir atau memahat. Memahat merupakan keterampilan atau keahlian kaum Samud pada zamannya. Penggunaan fi’il muḍāri’ dalam konteks menggambarkan keterampilan kaum Samud dalam hal memahat, untuk memperlihatkan bahwa mereka telah memiliki budaya memahat, terutama gunung-gunung batu untuk dijadikan sebagai rumah atau tempat tinggal. Mereka telah menguasai teknologi tepat guna dalam membangun rumah-rumah tempat tinggal dengan jalan memahat gunung-gunung batu, sesuai dengan perkembangan budaya mereka waktu itu.































