وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ
Waj‘al lī lisāna ṣidqin fil-ākhirīn(a).
Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian.
Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian.” Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Namanya tetap bersinar, sikapnya tetap diagungkan, keturunannya banyak yang diangkat Allah menjadi nabi, hingga yang terakhir adalah Nabi Muhammad Sallallhu ‘alaihi wa sallam.
Selanjutnya Ibrahim berdoa agar nama baik beliau menjadi buah bibir yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian, sehingga beliau menjadi suri teladan yang utama sampai hari Kiamat, ini pun dikabulkan Allah, sebagaimana firman-Nya:
وَتَرَك نَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۖ ١٠٨ سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ١٠٩ كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْن َ ١١٠
Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, “Selamat sejahtera bagi Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (aṣ-Ṡāffāt/37: 108-110).
Janji Allah dalam ayat di atas dibuktikan kebenarannya dalam lembaran sejarah kenabian. Banyak sekali dari keturunan Nabi Ibrahim yang menjadi nabi dan rasul Allah, baik dari keturunan Ismail ataupun dari keturunan Ishak. Agama-agama besar di dunia (Islam, Kristen dan Yahudi) masing-masing menggolongkan agamanya kepada Nabi Ibrahim. Oleh sebab itu, beliau dimuliakan dan dihormati oleh berbagai agama menurut caranya masing-masing. Berdasarkan keterangan ini, wajarlah andaikata mereka menganggap Ibrahim adalah seorang Yahudi (menurut pengakuan orang Yahudi). Demikianlah pula halnya Ibrahim dipandang sebagai orang Nasrani (menurut kepercayaan agama Nasrani), sebab Isa Almasih putra Maryam juga masih keturunan Nabi Ibrahim. Tegasnya dalam sejarah kenabian, ia dianggap sebagai bapak para nabi. Akan tetapi, semua dugaan bahwa Ibrahim penganut Yahudi atau penganut agama tertentu tidak benar. Al-Qur’an membantah keyakinan demikian:
مَاكَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْن َ ٦٧
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik. (Āli ‘Imrān/3: 67)
Adapun pengertian buah tutur yang baik dalam doa ini ialah Nabi Muhammad. Beliau memang keturunan Nabi Ibrahim (dari pihak Ismail) yang terakhir yang diangkat sebagai nabi dan rasul. Risalah Nabi Muhammad (dan juga para nabi) adalah risalah agama tauhid. Rasulullah sendiri dalam sebuah hadis mengatakan:
اَنَا دَعْوَةُ اِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ (رواه مسلم عن عائشة)
Aku ini (pelaksanaan bagi terkabulnya) doa Ibrahim. (Riwayat Muslim dari ‘Aisyah)
Pada hakikatnya agama yang disampaikan Nabi Muhammad merupakan lanjutan dari ajaran yang disampaikan Nabi Ibrahim.
1. Lisāna Ṡidqin لِسَانَ صِدْقٍ (asy-Syu’arā’/26: 84)
Secara bahasa ungkapan di atas terdiri dari dua kata, yaitu lisān dan ṣidqin. Yang pertama (lisān) pada mulanya digunakan dalam arti lidah yang fungsinya antara lain untuk berbicara. Sedang yang dimaksud dengan lisān pada ayat ini adalah hasil dari penggunaannya, yaitu pembicaraan atau perkataan. Sedang kata yang kedua (ṣidqin) maknanya benar atau sesuatu yang sesuai dengan kenyataan dan keyakinan. Perangkaian kedua kata tersebut mengisyaratkan bahwa uraian atau pernyataan yang diucapkan dengan lidah mestilah merupakan sesuatu yang benar dan sesuai dengan kenyataan. Selain makna tersebut, ungkapan ini dapat pula dipahami sebagai kenangan yang baik, penerimaan yang memuaskan, atau pujian terhadap perbuatan baik.
2. Qalb salīm قَلْب سَلِيْم (asy-Syu’arā’/26: 89)
Term qalb salīm terdiri dari dua kata, yaitu qalb dan salīm. Yang pertama (qalb) artinya hati yang merupakan organ rohani dan tidak mempunyai wujud, namun mempunyai fungsi yang sangat penting bagi manusia, yaitu sebagai pangkal dari segala niat dan perbuatan. Selain itu, qalb dapat pula diartikan sebagai wadah atau alat untuk meraih pengetahuan. Sedang yang kedua (salīm) yang menyifati kata qalb, pada awalnya berarti selamat, yakni terhindar dari kekurangan dan bencana, baik yang bersifat lahir maupun batin. Selanjutnya qalb yang bersifat salīm adalah yang terpelihara kesucian fitrahnya, yakni yang pemiliknya selalu mempertahankan keyakinan tauhid, dan cenderung pada kebenaran dan kebajikan. Qalb yang salīm adalah yang tidak sakit, sehingga pemiliknya senantiasa merasa tenang, terhindar dari keraguan dan kebimbangan, dan hatinya tidak dipenuhi oleh sifat angkuh, benci, dengki, dendam, dan semua sifat tercela lainnya.






























