رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ۙ
Rabbi hab lī ḥukmaw wa alḥiqnī biṣ-ṣāliḥīn(a).
(Ibrahim berdoa,) “Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku hukum (ilmu dan hikmah) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang saleh.
Nabi Ibrahim lantas berdoa untuk kebaikan dirinya, orang tuanya, dan orang lain, baik di dunia maupun akhirat, “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat dan pemahaman terhadap rahasia agama dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh yang selalu berada pada jalan yang benar.
Ibrahim bermohon agar dianugerahi hikmah. Hikmah berarti ilmu pengetahuan yang diamalkan dengan baik. Dalam hubungannya dengan kepribadian orang yang saleh, hikmah diartikan sebagai petunjuk Tuhan dalam beramal, dengan taufik Allah ia terlepas dari segala perbuatan dosa besar maupun dosa kecil. Sementara itu ahli tafsir yang lain ada yang mengartikan hikmah dengan perlakuan yang adil terhadap sesama manusia dalam memutuskan suatu perkara. Dalam kaitannya dengan doa Ibrahim ini, hikmah ditafsirkan sebagai pengetahuan tentang sifat-sifat ketuhanan dan ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang akan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, beliau berdoa pula agar dimasukkan ke dalam lingkungan orang-orang yang baik-baik, dan pada golongan yang senantiasa bertawakal kepada-Nya. Permohonan tersebut dikabulkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam ayat lain:
وَاِنَّهٗ فِى الْاٰخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِيْنَ
Dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh. (al-Baqarah/2: 130)
Diriwayatkan dalam sebuah hadis, Rasulullah berdoa seperti doa Nabi Ibrahim, yakni:
اَللَّهُمّ َ تَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ وَأَحْيِنَا مُسْلِمِيْنَ وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِيْ نَ غَيْرَ خَزَايَا وَلاَمَفْتُوْن ِيْنَ (رواه أحمد عن رفاعة بن رافع) .
“Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan muslim, hidupkanlah kami dalam keadaan muslim, dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang saleh, bukan golongan orang-orang yang hina dan tertimpa musibah (fitrah).” (Riwayat Aḥmad dari Rifā’ah bin Rāfi’)
1. Lisāna Ṡidqin لِسَانَ صِدْقٍ (asy-Syu’arā’/26: 84)
Secara bahasa ungkapan di atas terdiri dari dua kata, yaitu lisān dan ṣidqin. Yang pertama (lisān) pada mulanya digunakan dalam arti lidah yang fungsinya antara lain untuk berbicara. Sedang yang dimaksud dengan lisān pada ayat ini adalah hasil dari penggunaannya, yaitu pembicaraan atau perkataan. Sedang kata yang kedua (ṣidqin) maknanya benar atau sesuatu yang sesuai dengan kenyataan dan keyakinan. Perangkaian kedua kata tersebut mengisyaratkan bahwa uraian atau pernyataan yang diucapkan dengan lidah mestilah merupakan sesuatu yang benar dan sesuai dengan kenyataan. Selain makna tersebut, ungkapan ini dapat pula dipahami sebagai kenangan yang baik, penerimaan yang memuaskan, atau pujian terhadap perbuatan baik.
2. Qalb salīm قَلْب سَلِيْم (asy-Syu’arā’/26: 89)
Term qalb salīm terdiri dari dua kata, yaitu qalb dan salīm. Yang pertama (qalb) artinya hati yang merupakan organ rohani dan tidak mempunyai wujud, namun mempunyai fungsi yang sangat penting bagi manusia, yaitu sebagai pangkal dari segala niat dan perbuatan. Selain itu, qalb dapat pula diartikan sebagai wadah atau alat untuk meraih pengetahuan. Sedang yang kedua (salīm) yang menyifati kata qalb, pada awalnya berarti selamat, yakni terhindar dari kekurangan dan bencana, baik yang bersifat lahir maupun batin. Selanjutnya qalb yang bersifat salīm adalah yang terpelihara kesucian fitrahnya, yakni yang pemiliknya selalu mempertahankan keyakinan tauhid, dan cenderung pada kebenaran dan kebajikan. Qalb yang salīm adalah yang tidak sakit, sehingga pemiliknya senantiasa merasa tenang, terhindar dari keraguan dan kebimbangan, dan hatinya tidak dipenuhi oleh sifat angkuh, benci, dengki, dendam, dan semua sifat tercela lainnya.


























