وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ وَّلِيٍّ مِّنْۢ بَعْدِهٖ ۗوَتَرَى الظّٰلِمِيْنَ لَمَّا رَاَوُا الْعَذَابَ يَقُوْلُوْنَ هَلْ اِلٰى مَرَدٍّ مِّنْ سَبِيْلٍۚ
Wa may yuḍlilillāhu famā lahū miw waliyyim mim ba‘dih(ī), wa taraẓ-ẓālimīna lammā ra'awul-‘ażāba yaqūlūna hal ilā maraddim min sabīl(in).
Siapa yang dibiarkan sesat oleh Allah (karena kecenderungan dan pilihannya sendiri), tidak ada baginya pelindung setelah itu. Kamu akan melihat orang-orang zalim, ketika mereka melihat azab, berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?”
Dan barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah akibat kecenderungan dan keinginan hatinya untuk sesat, maka tidak ada baginya pelindung yang dapat melindunginya dari kesesatan itu sesudahnya, sesudah Allah memperlakukannya dengan perlakuan itu. Kamu, wahai Nabi Muhammad dan orang-orang beriman, akan melihat orang-orang zalim ketika mereka melihat azab yang akan di terimanya di akhirat kelak berkata, “Adakah kiranya jalan yang dapat mengantarkan kami untuk kembali ke alam dunia?”
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa apa yang dikehendaki-Nya pasti menjadi kenyataan dan tak seorang pun yang dapat menghalangi-Nya; sebaliknya apa yang tidak dikehendaki-Nya, tidak akan terjadi. Barang siapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang telah dibiarkan sesat oleh Allah, karena selalu berbuat kejahatan tidak akan ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk ke jalan yang benar, yang akan membantunya dia mencapai kebahagiaan dan keberuntungan. Firman Allah:
وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
Dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (al-Kahf/18: 17)
Orang-orang kafir di akhirat nanti ketika melihat dan menyaksikan azab di depan matanya, berangan-angan bisa kembali lagi ke dunia untuk berbuat baik dan beriman. Mereka berkata, “Apakah masih ada jalan bagi kami untuk kembali ke dunia?” Andaikata mereka itu dapat kembali lagi ke dunia, mereka tidak juga akan beriman dan berbuat baik, mereka akan tetap saja melanggar larangan-larangan Allah. Hal ini digambarkan pula oleh Allah dalam ayat yang lain dengan firman-Nya:
وَلَوْ تَرٰٓى اِذْ وُقِفُوْا عَلَى النَّارِ فَقَالُوْا يٰلَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِاٰيٰتِ رَبِّنَا وَنَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْن َ ٢٧ بَلْ بَدَا لَهُمْ مَّا كَانُوْا يُخْفُوْنَ مِنْ قَبْلُ ۗوَلَوْ رُدُّوْا لَعَادُوْا لِمَا نُهُوْا عَنْهُ وَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ ٢٨
Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.”Tetapi (sebenarnya) bagi mereka telah nyata kejahatan yang mereka sembunyikan dahulu. Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Mereka itu sungguh pendusta. (al-An‘ām/6: 27-28)
1. Maraddin مَرَدٍّ (asy-Syūrā/42: 44)
Maraddin adalah bentuk maṣdar dari fi‘il رَدَّ يَرُدُّ رَدًّا أَوْ مَرَدًّا artinya: mengembalikan, menolak, menempatkan kembali. Ayat 44 diakhiri dengan ungkapan pertanyaan لَمَّا رَأَوُوا اْلعَذَابَ يَقُوْلُوْنَ هَلْ إِلَى مَرَدٍّ مِنْ سَبِيْلٍ artinya, ”Ketika mereka (orang-orang zalim) melihat azab, mereka berkata, ’Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)’?” Maksudnya, mereka menolak azab itu dan mengharapkan untuk dapat kembali hidup di dunia supaya dapat berbuat baik sehingga tidak diazab. Setelah memasuki alam akhirat maka tidak ada lagi kesempatan untuk kembali hidup di dunia. Masa beramal sudah habis karena kehidupan dunia sudah berakhir, kemudian semua manusia harus menghadapi masa pembalasan di alam akhirat, oleh karena itu harapan mereka sia-sia belaka. Sesal dahulu pendapatan dan sesal kemudian tak berguna, begitulah peribahasa telah mengingatkan kita semua.
2. Ṭarfun khafiyyun طَرْفٌ خَفِىٌّ (asy-Syūrā/42: 45)
Ṭarf adalah bentuk tarkīb wasfi rangkaian susunan kata sifat. Ṭarf artinya ujung atau sudut. Khafiyy artinya lemah, tidak keras atau lesu. Ṭarfun khafiyyun artinya sudut pandang yang lemah, lesu dan minta dikasihani. Ayat 45 menggambarkan tentang orang-orang kafir dan sesat ketika mereka dihadapkan pada pelaksanaan azab dan siksa neraka, mereka tertunduk lesu dan merasa lemah dan hina, sebagaimana dilukiskan dengan ungkapan: يَنْظُرُوْنَ مِنْ طَرْفٍ خَفِىٍّ artinya: mereka melihat dengan pandangan yang lemah dan lesu, seperti minta dikasihani. Demikianlah digambarkan dalam Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran bagi kita semua tentang keadaan orang-orang yang ketika hidup mereka di dunia mengingkari petunjuk agama dan berperilaku bermewah-mewah memperturutkan hawa nafsu tanpa kendali agama maupun akal.














































