وَتَرٰىهُمْ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا خٰشِعِيْنَ مِنَ الذُّلِّ يَنْظُرُوْنَ مِنْ طَرْفٍ خَفِيٍّۗ وَقَالَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ الْخٰسِرِيْنَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ وَاَهْلِيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ اَلَآ اِنَّ الظّٰلِمِيْنَ فِيْ عَذَابٍ مُّقِيْمٍ
Wa tarāhum yu‘raḍūna ‘alaihā khāsyi‘īna minaż żulli yanẓurūna min ṭarfin khafiyy(in), wa qālal-lażīna āmanū innal-khāsirīnal-lażīna khasirū anfusahum wa ahlīhim yaumal-qiyāmah(ti), alā innaẓ-ẓālimīna fī ‘ażābim muqīm(in).
Kamu akan melihat mereka dihadapkan kepadanya (neraka) dalam keadaan tertunduk karena (merasa) hina. Mereka memperhatikan dengan pandangan yang lesu. Orang-orang yang beriman berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang zalim itu berada dalam azab yang kekal.
Dan kamu dan siapa pun yang hadir di tempat itu akan melihat mereka, orang-orang yang zalim, sedang dihadapkan ke neraka sebagai tempat penyiksaan yang abadi bagi mereka dalam keadaan tertunduk karena merasa hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu karena merasa sebentar lagi akan menerima siksaan api neraka. Dan orang-orang yang beriman berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi karena tidak beriman dan beramal saleh sewaktu di dunia ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah, sesungguhnya orang-orang zalim itu berada dalam azab yang kekal di dalam neraka.
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa ketika orang-orang kafir ini dihadapkan ke neraka, mereka sangat takut dan merasa hina karena mereka tahu dan yakin bahwa itu adalah akibat dari pelanggaran-pelanggaran dan dosa yang telah dilakukannya, mereka mengetahui kebesaran serta kekuasaan Tuhan yang telah didurhakainya. Mereka tidak dapat menatap api neraka yang menyala-nyala itu, mereka melihatnya dengan lirikan mata yang penuh kelesuan, sama halnya dengan orang yang digiring untuk dibunuh ketika ia melihat pedang yang mengkilat yang akan menghabiskan nyawanya. Dia tidak akan mampu menatap pedang itu, tetapi dia melihatnya dengan lirik mata dan dalam keadaan lesu dan mencuri-curi penglihatan.
Pada waktu itu orang-orang mukmin berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang telah menganiaya dirinya sendiri sehingga mereka dimasukkan ke dalam neraka dan tidak memperoleh sedikit pun nikmat dan kesenangan yang abadi di dalam surga; mereka dipisahkan dengan orang yang disayanginya, sahabat-sahabatnya, dan familinya.” Ini adalah suatu kerugian yang tak ada taranya.
Pada akhir ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang kafir akan berada dalam siksaan yang berkepanjangan yang tak ada habis-habisnya. Tidak ada jalan bagi mereka untuk lepas dan menghindar dari siksaan itu.
1. Maraddin مَرَدٍّ (asy-Syūrā/42: 44)
Maraddin adalah bentuk maṣdar dari fi‘il رَدَّ يَرُدُّ رَدًّا أَوْ مَرَدًّا artinya: mengembalikan, menolak, menempatkan kembali. Ayat 44 diakhiri dengan ungkapan pertanyaan لَمَّا رَأَوُوا اْلعَذَابَ يَقُوْلُوْنَ هَلْ إِلَى مَرَدٍّ مِنْ سَبِيْلٍ artinya, ”Ketika mereka (orang-orang zalim) melihat azab, mereka berkata, ’Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)’?” Maksudnya, mereka menolak azab itu dan mengharapkan untuk dapat kembali hidup di dunia supaya dapat berbuat baik sehingga tidak diazab. Setelah memasuki alam akhirat maka tidak ada lagi kesempatan untuk kembali hidup di dunia. Masa beramal sudah habis karena kehidupan dunia sudah berakhir, kemudian semua manusia harus menghadapi masa pembalasan di alam akhirat, oleh karena itu harapan mereka sia-sia belaka. Sesal dahulu pendapatan dan sesal kemudian tak berguna, begitulah peribahasa telah mengingatkan kita semua.
2. Ṭarfun khafiyyun طَرْفٌ خَفِىٌّ (asy-Syūrā/42: 45)
Ṭarf adalah bentuk tarkīb wasfi rangkaian susunan kata sifat. Ṭarf artinya ujung atau sudut. Khafiyy artinya lemah, tidak keras atau lesu. Ṭarfun khafiyyun artinya sudut pandang yang lemah, lesu dan minta dikasihani. Ayat 45 menggambarkan tentang orang-orang kafir dan sesat ketika mereka dihadapkan pada pelaksanaan azab dan siksa neraka, mereka tertunduk lesu dan merasa lemah dan hina, sebagaimana dilukiskan dengan ungkapan: يَنْظُرُوْنَ مِنْ طَرْفٍ خَفِىٍّ artinya: mereka melihat dengan pandangan yang lemah dan lesu, seperti minta dikasihani. Demikianlah digambarkan dalam Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran bagi kita semua tentang keadaan orang-orang yang ketika hidup mereka di dunia mengingkari petunjuk agama dan berperilaku bermewah-mewah memperturutkan hawa nafsu tanpa kendali agama maupun akal.













































