Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 46 - Surat Asy-Syūrā (Musyawarah)
الشّورٰى
Ayat 46 / 53 •  Surat 42 / 114 •  Halaman 488 •  Quarter Hizb 49.5 •  Juz 25 •  Manzil 6 • Makkiyah

وَمَا كَانَ لَهُمْ مِّنْ اَوْلِيَاۤءَ يَنْصُرُوْنَهُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ سَبِيْلٍ ۗ

Wa mā kāna lahum min auliyā'a yanṣurūnahum min dūnillāh(i), wa may yuḍlilillāhu famā lahū min sabīl(in).

Mereka tidak akan mempunyai pelindung yang dapat menolong mereka selain Allah. Siapa pun yang disesatkan oleh Allah (berdasarkan kecenderungan dan pilihannya sendiri) tidak akan ada jalan baginya (untuk mendapat petunjuk).

Makna Surat Asy-Syura Ayat 46
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan mereka, orang-orang yang merugi dan zalim itu, tidak akan mempunyai pelindung yang dapat menolong dan menyelamatkan mereka dari azab di akhirat nanti selain Allah Yang Mahakuasa. Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah akibat kesesatannya, tidak aka nada jalan keluar baginya untuk mendapat petunjuk.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa seseorang tidak akan mendapat pertolongan dari siapa pun untuk menyelamatkan mereka dari siksa yang menimpa mereka. Berhala-berhala yang pernah disembah mereka di dunia tidak dapat sama sekali memberi pertolongan, bahkan mustahil akan dapat membela mereka dan melepaskan mereka dari azab yang sedang menimpa mereka. Ayat 46 ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa orang yang dibiarkan Allah sesat itu telah menjadi watak dan tabiat mereka akan selalu berbuat kejahatan, kerusakan dan pelanggaran-pelanggaran terhadap larangan agama; mereka tidak akan dapat lagi diperbaiki, tidak akan dapat lagi melakukan hal-hal yang hak dan benar di dunia ini, dan tidak akan dapat memasuki surga Jannatun-Na‘īm di akhirat.

Isi Kandungan Kosakata

1. Maraddin مَرَدٍّ (asy-Syūrā/42: 44)

Maraddin adalah bentuk maṣdar dari fi‘il رَدَّ يَرُدُّ رَدًّا أَوْ مَرَدًّا artinya: mengembalikan, menolak, menempatkan kembali. Ayat 44 diakhiri dengan ungkapan pertanyaan لَمَّا رَأَوُوا اْلعَذَابَ يَقُوْلُوْنَ هَلْ إِلَى مَرَدٍّ مِنْ سَبِيْلٍ artinya, ”Ketika mereka (orang-orang zalim) melihat azab, mereka berkata, ’Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)’?” Maksudnya, mereka menolak azab itu dan mengharapkan untuk dapat kembali hidup di dunia supaya dapat berbuat baik sehingga tidak diazab. Setelah memasuki alam akhirat maka tidak ada lagi kesempatan untuk kembali hidup di dunia. Masa beramal sudah habis karena kehidupan dunia sudah berakhir, kemudian semua manusia harus menghadapi masa pembalasan di alam akhirat, oleh karena itu harapan mereka sia-sia belaka. Sesal dahulu pendapatan dan sesal kemudian tak berguna, begitulah peribahasa telah mengingatkan kita semua.

2. Ṭarfun khafiyyun طَرْفٌ خَفِىٌّ (asy-Syūrā/42: 45)

Ṭarf adalah bentuk tarkīb wasfi rangkaian susunan kata sifat. Ṭarf artinya ujung atau sudut. Khafiyy artinya lemah, tidak keras atau lesu. Ṭarfun khafiyyun artinya sudut pandang yang lemah, lesu dan minta dikasihani. Ayat 45 menggambarkan tentang orang-orang kafir dan sesat ketika mereka dihadapkan pada pelaksanaan azab dan siksa neraka, mereka tertunduk lesu dan merasa lemah dan hina, sebagaimana dilukiskan dengan ungkapan: يَنْظُرُوْنَ مِنْ طَرْفٍ خَفِىٍّ artinya: mereka melihat dengan pandangan yang lemah dan lesu, seperti minta dikasihani. Demikianlah digambarkan dalam Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran bagi kita semua tentang keadaan orang-orang yang ketika hidup mereka di dunia mengingkari petunjuk agama dan berperilaku bermewah-mewah memperturutkan hawa nafsu tanpa kendali agama maupun akal.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto