وَهُوَ الَّذِيْ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهٖ وَيَعْفُوْا عَنِ السَّيِّاٰتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَۙ
Wa huwal-lażī yaqbalut-taubata ‘an ‘ibādihī wa ya‘fū ‘anis-sayyi'āti wa ya‘lamu mā taf‘alūn(a).
Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan, mengetahui apa yang kamu kerjakan,
Orang-orang kafir itu harus meminta ampun kepada Allah Yang Maha Pemurah atas keyakinan mereka yang sesat dan perbuatan dosa yang telah mereka lakukan. Dan di antara kemurahan Allah adalah bahwa Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang mengakui dan meminta ampun atas kesalahannya itu dan memaafkan keburukan-keburukan yang telah di lakukan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, baik yang besar maupun yang kecil.
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menerima tobat hamba-Nya, memaafkan perbuatan dosa dan kejahatan.
Sayyidina Ali pernah ditanya tentang tobat. Beliau menjawab bahwa tobat itu ada enam syarat yaitu:
1. Menyesali perbuatan maksiat yang telah dikerjakan pada masa lalu.
2. Mengerjakan ibadah wajib yang telah ditinggalkan.
3. Mengembalikan hak orang yang telah diambilnya secara zalim.
4. Memaksakan diri merasakan pahitnya ketaatan sebagaimana dia merasakan manisnya maksiat.
5. Menundukkan hawa nafsu dalam ketaatan sebagaimana ia telah memanjakannya dengan berbuat kemaksiatan.
6. Menangis, sebagai ganti gelak tawa yang pernah dilakukannya.
Ayat ini ditutup dengan penjelasan bahwa Allah itu Maha Mengampuni segala dosa dan mengetahui segala apa yang dikerjakan hamba-Nya, baik berupa kebaikan maupun kejahatan, lalu mereka dibalas dengan pahala atau siksa.
1. Yaqtarif يَقْتَرِفْ (asy-Syūrā/42: 23)
Secara kebahasaan, yaqtarif yang berakar dari fi‘il māḍī iqtaraf, berarti berbuat, mengerjakan, atau melakukan. Dalam konteks ayat di atas, Allah swt menjelaskan bahwa orang yang berbuat, mengerjakan atau melakukan kebaikan niscaya Allah swt akan menambah kebaikannya lebih banyak lagi. Itulah karunia Allah swt yang hanya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang mengerjakan kebaikan.
2. Iftarā اِفْتَرَى (asy-Syūrā/42: 24)
Secara kebahasaan, iftarā bermakna mengada-ada atau membuat-buat sesuatu. Dalam konteks ayat di atas, Allah swt menerangkan ada sebagian orang yang menuduh Nabi Muhammad saw telah melakukan kedustaan pada-Nya. Namun atas kuasa-Nya, yang benar akan ditampakkan dan yang batil juga akan ditampakkan. Allah swt akan menghapus yang batil itu melalui kalimat-kalimat-Nya (Al-Qur’an). Sesungguhnya Allah swt Maha Mengetahui segala isi hati manusia.









































