زَعَمَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنْ لَّنْ يُّبْعَثُوْاۗ قُلْ بَلٰى وَرَبِّيْ لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْۗ وَذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ
Za‘amal-lażīna kafarū allay yub‘aṡū, qul balā wa rabbī latub‘aṡunna ṡumma latunabba'unna bimā ‘amiltum, wa żālika ‘alallāhi yasīr(un).
Orang-orang yang kufur mengira bahwa sesungguhnya mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidak demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan, kemudian pasti akan diberitakan apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu mudah bagi Allah.
Orang-orang yang kafir menolak ajakan para rasul karena mengira, bahkan meyakini bahwa mereka tidak akan dibangkitkan setelah mereka mati. Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, kepada mereka, “Tidak demikian, yang sebenarnya. Demi Tuhanku, Yang Mahabenar, kamu pasti akan dibangkitkan dari alam kubur, kemudian diberitakan dengan lengkap dan menyeluruh semua yang telah kamu kerjakan di dunia, baik kejahatan maupun kebaikan.” Dan yang demikian itu mudah bagi Allah, karena Allah berkuasa atas segala sesuatu.
Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang musyrik beranggapan tidak akan ada hari kebangkitan, hari perhitungan, dan hari pembalasan. Anggapan mereka ini diungkapkan juga dalam ayat yang berbunyi:
ءَاِذَا كُنَّا تُرٰبًا ءَاِنَّا لَفِيْ خَلْقٍ جَدِيْدٍ
Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru? (ar-Ra‘d/13: 5)
Firman Allah:
مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ
Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh? (Yāsīn/36: 78)
Anggapan orang musyrik yang salah itu ditolak Allah dengan tegas. Allah menyatakan bahwa hari kebangkitan dan hari pembalasan itu pasti ada, dan semua manusia dihidupkan kembali pada hari itu. Lalu diberitakan semua yang pernah mereka perbuat di dunia sampai kepada yang sekecil-kecilnya untuk dihisab dan diberi balasan. Yang demikian ini bagi Allah sangat mudah dan tidak ada kesulitan sama sekali. Firman Allah:
قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ ۙ ٧٩
Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (Yāsīn/36:79)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَأْتِيْنَا السَّاعَةُ ۗقُلْ بَلٰى وَرَبِّيْ لَتَأْتِيَنَّك ُمْۙ عٰلِمِ الْغَيْبِ
Dan orang-orang yang kafir berkata, “Hari Kiamat itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, “Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang gaib, Kiamat itu pasti akan datang kepadamu. (Saba’/34: 3)
1. At-Tagābun التَّغَابُن (at-Tagābun/64: 9)
Kata at-tagābun terambil dari kata al-gabn yang berarti tipuan, dari fi‘il (kata kerja) gabana-yagbunu, yang berarti menipu dalam jual beli. Misalnya seseorang menjual suatu barang tiruan dengan memberitahukan kepada pembeli bahwa barang itu asli, sehingga penjual itu menjual harga barangnya lebih mahal dari harga sebenarnya.
Kata at-tagābun juga berarti kerugian, karena penjual menjual barangnya kurang dari harga sebenarnya, atau sebaliknya si pembeli yang dirugikan karena dia membeli barang dengan harga yang lebih mahal dari harga sebenarnya.
Ar-Rāgib al-Asfahānī memahami kata gabn dalam arti mengurangi hak orang lain dalam interaksi dengannya dalam bentuk tersembunyi. Berkenaan dengan makna kerugian inilah sehingga makna ayat Surah at-Tagābun berarti kerugian, karena pada hari tagābun (hari Mahsyar) itu sungguh besar dan banyak kerugian yang terjadi ketika itu, seakan-akan telah terjadi transaksi dari banyak pihak, yang kesemuanya merugikan. Kata at-tagābun hanya satu kali disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu pada surah ini.
2. Yaumal-Jam‘i يَوْمَ الْجَمْعِ (at-Tagābun/64 : 9)
Kata yaumal-jam‘i terdiri dari dua kata, yaitu yaum dan al-jam‘i. Yaum berarti hari. Sedangkan al-jam‘i berarti pengumpulan atau penghimpunan, maṣdar (kata asal) dari fi‘il (kata kerja) jama‘a-yajma‘u yang berarti mengumpulkan atau menghimpun. Atas dasar ini, maka makna “yaumal-jam‘i adalah hari pengumpulan atau hari penghimpunan.
Dengan demikian, maka makna yaumal-jam‘i dalam Surah at-Tagābun ayat 9 adalah hari pengumpulan atau hari penghimpunan, yaitu hari kebangkitan, karena pada hari itu seluruh makhluk dikumpulkan dan dihimpun di Padang Mahsyar untuk menerima kitab amalnya. Jika amalnya baik, ia akan menerima ganjaran surga beserta segala kenikmatannya. Sebaliknya, jika amalnya tidak baik, ia akan disiksa dalam neraka sesuai dengan amal perbuatannya. Kata yaumal-jam‘i hanya satu kali disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu pada surah ini.















































