اَمْ تَأْمُرُهُمْ اَحْلَامُهُمْ بِهٰذَآ اَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُوْنَۚ
Am ta'muruhum aḥlāmuhum bihāżā am hum qaumun ṭāgūn(a).
Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan (tuduhan-tuduhan) ini atau apakah mereka kaum yang melampaui batas?
Tuduhan-tuduhan orang-orang kafir itu tidak berdasar. Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka yang sesat untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar ini ataukah mereka memang kaum yang melampaui batas kewajaran sehingga tidak segan melancarkan tuduhan negatif itu?
Kemudian pada ayat ini Allah swt mempertanyakan apakah orang-orang kafir itu mempergunakan akal sehat mereka atau hanya mempertaruh-kan hawa nafsu dan angan-angan belaka dalam melemparkan tuduhan-tuduhan mereka yang aneh dan tidak ada dasarnya sama sekali. Nabi memang bukan penyair, juga bukan tukang tenung dan bukan orang gila.
Tuduhan-tuduhan mereka semata-mata didasarkan pada rasa benci yang berlebih-lebihan, sehingga tidak memperhatikan akal sehat sama sekali.
1. Raibal-Manūn رَيْبَ الْمَنُوْن (aṭ-Ṭūr/52: 30).
Raibal-manūn dalam Al-Qur’an disebut hanya sekali, dalam ayat ini, terdiri dari dua kata: raib dan al-manūn. Maksudnya paling kurang terdapat dua macam maksud. Pertama, menurut Ibnu ‘Abbās, maksudnya adalah kematian. Kedua, menurut Mujāhid, maksudnya kejadian-kejadian atau segala musibah yang terjadi di sepanjang masa. Al-manūn menurut Abu Su‘aib artinya masa (ad-dahr). Jadi, raibal-manūn artinya semacam kecelakaan atau musibah yang diharapkan bisa menimpa Nabi Muhammad saw sewaktu-waktu sepanjang hidupnya. Kecelakaan itulah yang ditunggu-tunggu para musuh Nabi yang menuduh beliau sebagai penyair gila, padahal beliau seorang Rasulullah.
2. Taqawwalah تَقَوَّلَهُ (aṭ-Ṭūr/52: 33).
Taqawwalah kata dasarnya qala-yaqūlu-qawl(an), artinya “berkata” atau “perkataan.” Dari ṡulaṡi mujarrad qawala diubah menjadi taqawwala dengan wazan (timbangan) tafa‘‘ala, sehingga taqawwala artinya “berkata dengan dibuat-buat dan perkataan itu mengandung kebohongan.” ”Perkataan” atau “berkata” yang mengandung kebohongan disebut dan diistilahkan “taqawwala.” Orang kafir beranggapan bahwa Al-Qur’an yang disampaikan Nabi Muhammad tak lebih hanya sebagai at-taqawwul (untaian kata yang dibuat-buat dan mengandung kebohongan). Hal tersebut mereka katakan semata-mata karena mereka tidak beriman pada apa yang disampaikan Nabi Muhammad saw. Anggapan mereka bahwa Al-Qur’an sebagai al-taqawwul tidaklah benar.












































