اَمْ يَقُوْلُوْنَ تَقَوَّلَهٗۚ بَلْ لَّا يُؤْمِنُوْنَۚ
Am yaqūlūna taqawwalah(ū), bal lā yu'minūn(a).
Bahkan, apakah mereka (juga) berkata, “Dia (Nabi Muhammad) mereka-rekanya?” Tidak! Merekalah yang tidak beriman.
Ataukah mereka juga menuduhnya menggubah Al-Qur’an, dengan berkata, “Dia telah mereka-rekanya dengan pikirannya sendiri dan mengklaimnya sebagai wahyu Allah.” Tidak! Semua yang mereka katakan itu tidaklah benar! Sesungguhnya merekalah yang tidak beriman kepada ajaran Allah.
Pada ayat ini dengan menggunakan bentuk kalimat pertanyaan, Allah menerangkan tuduhan orang-orang kafir bahwa Nabi dianggap mengada-ada, menyatakan sesuatu yang dikarang-karang sendiri oleh Nabi Muhammad saw. Bentuk pertanyaan ini, merupakan suatu dorongan agar mereka berpikir untuk mencari jawaban dengan menggunakan akal sehat.
Ayat-ayat Al-Qur’an memang memesona mereka, baik rangkaian bahasa-nya maupun isi kandungannya, sehingga mereka mengatakan Muhammad adalah penyair atau tukang tenung bahkan mereka anggap sebagai orang gila, sebetulnya mereka terkagum-kagum pada ayat Al-Qur’an, tetapi karena mereka tidak beriman, mereka menolak dan mengingkari firman-firman Allah dan kenabian Nabi Muhammad maka mereka asal tuduh saja. Memang mereka menghadapi dilema dengan kehebatan Al-Qur’an tetapi juga benci kepada Nabi Muhammad saw.
Demikianlah jika seseorang tidak mendapat hidayah dari Allah swt, menderita batin di dunia, dan menderita lahir batin di akhirat nanti.
1. Raibal-Manūn رَيْبَ الْمَنُوْن (aṭ-Ṭūr/52: 30).
Raibal-manūn dalam Al-Qur’an disebut hanya sekali, dalam ayat ini, terdiri dari dua kata: raib dan al-manūn. Maksudnya paling kurang terdapat dua macam maksud. Pertama, menurut Ibnu ‘Abbās, maksudnya adalah kematian. Kedua, menurut Mujāhid, maksudnya kejadian-kejadian atau segala musibah yang terjadi di sepanjang masa. Al-manūn menurut Abu Su‘aib artinya masa (ad-dahr). Jadi, raibal-manūn artinya semacam kecelakaan atau musibah yang diharapkan bisa menimpa Nabi Muhammad saw sewaktu-waktu sepanjang hidupnya. Kecelakaan itulah yang ditunggu-tunggu para musuh Nabi yang menuduh beliau sebagai penyair gila, padahal beliau seorang Rasulullah.
2. Taqawwalah تَقَوَّلَهُ (aṭ-Ṭūr/52: 33).
Taqawwalah kata dasarnya qala-yaqūlu-qawl(an), artinya “berkata” atau “perkataan.” Dari ṡulaṡi mujarrad qawala diubah menjadi taqawwala dengan wazan (timbangan) tafa‘‘ala, sehingga taqawwala artinya “berkata dengan dibuat-buat dan perkataan itu mengandung kebohongan.” ”Perkataan” atau “berkata” yang mengandung kebohongan disebut dan diistilahkan “taqawwala.” Orang kafir beranggapan bahwa Al-Qur’an yang disampaikan Nabi Muhammad tak lebih hanya sebagai at-taqawwul (untaian kata yang dibuat-buat dan mengandung kebohongan). Hal tersebut mereka katakan semata-mata karena mereka tidak beriman pada apa yang disampaikan Nabi Muhammad saw. Anggapan mereka bahwa Al-Qur’an sebagai al-taqawwul tidaklah benar.

















































